Menguak Rahasia Pakuan Pajajaran (Bagian II)

0 585

Palangka Sriman Sriwacana

”Hari ini detik ini sedang berlangsung kehancuran di Pakuan. Sebelum mereka berhasil memasuki Istana Pajajaran, Karaton Sri Bima, Punta, Narayana, Madura, dan Suradipati akan berubah menjadi sarang harimau yang akan menerkam mereka!. Maka sebelum itu, dengarkanlah pesan terakhir dariku!, pesan untuk kalian rakyat pajajaran, ceritakanlah pada keturunan kalian kelak…”

Suryakencana (Prabu Siliwangi VII) – Raja terakhir Pakuan Pajajaran.

 

Hujan membasahi Kota Bogor. Seringkali kita berada di suatu tempat di luar kota, ketika hujan turun. Bayangan kita adalah halaman rumah kita yang diguyur hujan, suara genting dan ranting pepohonan yang diterpa airnya mengalun bak puisi. Kadang membawa ke masa kecil kita, dipangkuan ibunda yang bersenandung, bercengkrama bersama ayah dan saudara kita.

Mendung dan hujan adalah kata yang amat bersahabat dengan kita orang Bogor, seolah menyatu dengan jiwa. Kadang saya berfirkir, mungkin hujan jualah yang mengikis tebing-tebing dan mengubur tembok-tembok Pajajaran hingga sirna, membawa puing-puingnya ke sungai-sungai, dan membawanya ke tempat yang jauh seolah ia ingin dilupakan. Hujan dan leluhur kita mungkin bersahabat.

Jika menilik ucapan Suryakencana di atas, maka kita dapat mengilustrasikan betapa dahsyatnya situasi politik Pajajaran saat itu. Pasukan Banten pimpinan Syekh Maulana Yusuf (1579) sudah berada di pinggiran kota, dan detik-detik kehancuran Pakuan Pajajaran berada di ambang mata.

Kita saat ini boleh turut bersedih, tapi sesungguhnya demikianlah takdir yang digariskan sang pencipta bagi negeri Pasundan untuk memeluk agama yang dibawa oleh Banten. Pedang mungkin satu-satunya cara untuk merubah nilai-nilai orang Sunda demi memeluk agama yang maha sempurna.

Scipio bersama tim ekspedisinya mungkin sadar, betapa dahsyatnya serangan Banten hingga ia tidak menemukan sisa puing keraton yang disebut oleh Suryakencana. Enam keraton yang ia sebut, tidak satupun berhasil ditemukan.

Padahal, serangan Banten sebelumnya dilakukan oleh Panembahan Hasanudin tidak berhasil merontokkan tembok kerajaan itu, dan jika dihitung jumlah bangunan keraton yang berjumlah enam, mungkin dapat ditarik garis asal mulanya kerajaan itu dinamakan Pajajaran karena ia adalah istana-istana yang berjajar.

Serangan gelombang kedua oleh Maulana Yusuf-lah yang akhirnya meluluhlantakkan tembok Pajajaran. Tembok yang demikian kokoh hingga tak pernah tersentuh kerajaan manapun, tembok yang dibangun oleh Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi II) yang termahsyur itu, berhasil ditembus oleh saudara Prabu Suryakencana sendiri Maulana Yusuf (buyut Maulana Yusuf adalah putri dari Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi II).

Sedemikian dahsyatnya serangan itu, hingga meninggalkan jejak kepedihan dan suasana yang tak terlukiskan oleh kata-kata, tak terbentik di hati. Pakuan Pajajaran pupus, namun tak ada yang bisa menjelaskan kenapa Maulana Yusuf tidak membangun kembali kota yang ia taklukan, kemana rakyat Pajajaran?.

Kenapa saat ia ditemukan kembali oleh Scipio, ia hanyalah sebuah hutan dan semak belukar?, seolah tidak ada yang ingin hidup di kota itu. Mungkinkah melihat puing kehancurannya sudah cukup bagi rakyat Pakuan saat itu untuk enyah dari situ karena tak tahan menahan kepedihan.

Mungkinkah ramalan Suryakencana sudah mengambil tuahnya?, saat salah seorang anggota tim ekspedisi Scipio menjadi santapan harimau yang mengambil alih kota itu.

Satu hal yang pasti, Syekh Maulana Yusuf telah mengemban misinya. Demi kekuasaan atau agama, anak-cucu orang Sunda telah diberi tanda oleh zaman saat Maulana Yusuf melangkahkan kakinya yang pertama di Pakuan Pajajaran bahwa takdir akan membawa mereka pada sebuah perubahan yang dahsyat.

Saat Scipio melaporkan temuannya pada Pemerintah Belanda, ia tidak menyadari bahwa ada satu sisa kerajaan Pajajaran yang teramat penting yang masih ada, yang diboyong oleh Maulana Yusuf ke tanah Banten sebagai penanda bahwa tidak akan ada lagi Kerajaan Pajajaran yang akan berdiri di Pakuan.

Benda itu adalah sebuah batu petilasan tempat Raja-raja Pakuan Pajajaran diambil sumpahnya untuk menjadi penguasa, yang jika tanpanya, tahta itu menjadi tidak sah dan sempurna.

Batu berukuran 200 x 160 x 20 cm itu adalah sebuah pancalikan Raja yang sudah pernah diceritakan dalam kisah Carita Parahiyangan, dan masih tersimpan kini di Surasowan di Banten sebagai penanda tidak akan ada lagi penobatan Raja Pakuan Pajajaran yang baru. Batu itu berkilau dan orang Sunda menyebutnya dengan Palangka Sriman Sriwacana… (Bersambung)

By: Dudi Irawan Sukendar

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.