Usia Muda Kini Rentan Terserang Penyakit Jantung

Rokok dan Diabetes Penyebab Utama Jantung Koroner

0 50

Heibogor.com – Penyakit jantung bukan lagi sebagai penyakit yang hanya dirasakan oleh orang tua. Usia tidak ada hubungannya dengan potensi serangan jantung. Semuanya rentan kena serangan jantung. Anak muda pun berpotensi terserang penyakit ini. Bahkan, beberapa penelitian menemukan bahwa penyakit jantung kini semakin banyak menyerang orang berusia muda.

Menurut Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Eka Hospital Cibubur, dr. Markz Roland Mulia Pargomgom Sinurat, Sp.JP, FIHA, penyakit jantung sering diabaikan padahal pencegahannya sederhana. Di Indonesia, rata-rata orang itu menunggu ada gelaja baru melakukan medical checkup.

Ada beberapa jenis penyakit jantung yang harus dikenali. Pertama, penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner disebabkan oleh adanya penyumbatan pada pembuluh darah arteri oleh tumpukan plak maupun zat-zat kimia dari makanan dan minuman. Kedua, kelainan irama jantung. Ketiga, penyakit jantung bawaan. Keempat, kelainan katup atau klep jantung dan kelima, gagal jantung. Ia menjelaskan, penyakit jantung koroner adalah kondisi ketika arteri koroner tersumbat oleh timbunan lemak. Penyakit ini, menimbulkan keluhan berupa nyeri dada, sesak napas, dan gejala serangan jantung. Jika dibiarkan, penyakit jantung koroner dapat menyebabkan gagal jantung.

“Adapun gejala yang ditimbulkan oleh penyakit jantung koroner, meliputi nyeri dada atau ketidaknyamanan pada dada yang menjalar ke leher, rahang, bahu, dan tangan sisi kiri, punggung, perut sisi kiri (sering dianggap maag). Keringat dingin, mual, muntah, atau mudah lelah,” jelasnya di acara media gathering Eka Hospital Area Cibubur- Bogor, yang membahas skrining penyakit pembuluh darah koroner dan perifer (CAD dan PAD). Selain jantung koroner sambungnya, ada juga penyakit arteri perifer (PAD) yaitu tersumbatnya aliran darah ke tungkai atau tangan akibat penyempitan pembuluh darah yang berasal dari jantung (arteri). Akibatnya, tungkai yang kekurangan pasokan darah akan terasa sakit, terutama saat berjalan.

“Gejala penyakit arteri perifer berupa rasa dingin pada tungkai atau kaki bagian bawah, terutama jika dibandingkan dengan sisi lainnya. Kram yang menyakitkan pada salah satu atau kedua otot pinggul, paha, atau betis setelah aktivitas tertentu, seperti berjalan atau menaiki tangga. Pertumbuhan kuku kaki yang lambat, serta disfungsi ereksi pada pria,” terangnya.

Ia melanjutkan, faktor risiko yang paling sering memicu penyakit arteri perifer adalah merokok dan diabetes. Kondisi lain yang meningkatkan risiko penyakit arteri perifer berupa riwayat keluarga dengan penyakit arteri perifer, penyakit jantung, atau stroke, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, tingginya kadar asam amino yang disebut homosistein yang meningkatkan risiko penyakit arteri koroner, bertambahnya usia terutama setelah 65 tahun ke atas, dan obesitas (indeks massa tubuh di atas 30).

“Pengobatan penyakit arteri perifer pertama, Angioplasti, yaitu tindakan untuk memperbaiki aliran darah dengan menggunakan balon dan stent, menjadikan pembuluh darah lebih lebar. Kedua, bedah bypass, yakni operasi mengganti pembuluh darah yang menyempit dan tersumbat dengan pembuluh darah sehat dari bagian tubuh lain,” paparnya, Senin (19/09/22).

Untuk mencegah penyakit arteri perifer, lanjutnya, langkah yang utama adalah mengendalikan risiko terutama yang berkaitan dengan gaya hidup sehari-hari. Contohnya pertama, menjauhi asap rokok, termasuk sebagai perokok pasif. Kedua, melakukan pola hidup sehat, terutama mengurangi asupan lemak, kolesterol, dan garam serta meningkatkan konsumsi buah dan sayuran. Ketiga, mengurangi berat badan bila berlebih dan menjaganya tetap dalam batas normal. Keempat, lebih sering beraktivitas, khususnya olahraga rutin tiap hari dan yang kelima, mengukur tekanan darah secara rutin agar bisa segera bertindak bila kadarnya mendadak tinggi.

“Apakah penyakit jantung koroner (PJK) dan penyakit arteri perifer (PAD) dapat disembuhkan? Tidak dapat disembuhkan namun dapat dikontrol dengan pola hidup sehat dan konsumsi obat teratur sesuai dengan arahan dan petunjuk dari dokter. Lalu, apakah jika seseorang mengalami PJK dan PAD, masih dapat beraktivitas dan bekerja seperti biasa/ olahraga? Ya, pasien akan menjalani rehabilitasi dengan dokter spesialis jantung dan rehab medik untuk menilai kapasitas fungsional serta kemampuan pola latihan fisik secara bertahap yang dapat dilakukan sehari-hari,” tandasnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.