Paguyuban PKL Tegaskan Tak Ada Aksi Premanisme dan Paksaan Kembali Berjualan di ex Presiden Theater

0 67

Heibogor.com – Paguyuban Pedagang Kaki Lima Bogor (PPKLB) angkat bicara terkait adanya dugaan aksi premanisme dan pengancaman di Pasar Mawar yang dilakukan oleh oknum PPKLB. PPKLB pun akhirnya memberikan klarifikasi terkait persoalan tersebut melalui kuasa hukumnya, Banggua Tambunan dengan menggelar konferensi pers di kawasan eks Presiden Theater, Jalan Merdeka, Kecamatan Bogor Tengah, pada Sabtu (10/9/22).

Mulanya permasalahan ini mencuat setelah ramai di media sosial Youtube di mana pada akun Channel Thebest Tv News merekam pernyataan salah seorang pedagang Pasar Mawar bernama Riswanto yang mengatakan ada aksi premanisme dan pengancaman terhadap dirinya karena ia tidak bisa kembali berjualan di eks Presiden Theater. Padahal sebelumnya ia pernah berjualan di situ kemudian pindah ke Pasar Mawar. Dikarenakan sepi akhirnya ia memutuskan ingin kembali berjualan di eks Presiden Theater.

Karena tidak boleh kembali, dari situ Riswanto mengadu kepada Paguyuban Pedagang Pasar Mawar dengan mengatakan ada oknum dari PPKLB melakukan aksi premanisme dan pengancaman terhadap dirinya. Pernyataan tersebut disampaikannya pada sebuah konferensi pers yang digelar Paguyuban Pedagang Pasar Mawar beberapa waktu lalu. Bahkan, Riswanto bersama Ketua Paguyuban Pasar Mawar, Padma telah mengadukan masalah tersebut ke DPRD Kota Bogor dan Polsek Bogor Tengah.

Mengklarifikasi pernyataan dan tudingan Riswanto, kuasa hukum PPKLB, Banggua Tambunan mengatakan, bahwa pernyataan Riswanto itu tidak benar. Faktanya ada beberapa pedagang Pasar Mawar yang bisa kembali berjualan di eks Presiden Theater. Mereka kembali tanpa ancaman, paksaan ataupun biaya pungutan. Fakta lainnya, Riswanto masih memiliki lapak di eks Presiden Theater yang dijalankan oleh anak buahnya.

Dengan tegas Banggua mengatakan, bahwa PPKLB adalah sebuah paguyuban pedagang. Wadah untuk kemaslahatan semua pedagang bukan wadah preman dan pernyataan yang disampaikan Riswanto adalah bentuk pencemaran nama baik karena dilontarkan tanpa dasar dan bukti.

“Saya meminta Riswanto untuk bertaubat dan insyaf. Lebih baik berbaik-baikan dengan sesama pedagang. Saya juga meminta kepada Riswanto untuk melakukan pendekatan secara kekeluargaan dan bermaaf-maafan karena tujuan berdagang adalah untuk mencari nafkah, bukan mencari musuh. Kalau tujuannya untuk mencari nafkah, ya sudah berbaik baikanlah dengan teman-teman paguyuban,” pesan Banggua.

Di sisi lain, Krisniati salah seorang pedagang Pasar Mawar yang kembali berjualan di eks Presiden Theater mengatakan, tidak ada paksaan ataupun ancaman terhadap dirinya saat kembali berjualan di eks Presiden Theater.

“Tidak ada preman yang menghalang-halangi, mengancam ataupun minta jatah saat saya balik ke eks Presiden Theater,” akunya yang diamini Eem, yang juga pedagang dari Pasar Mawar yang kembali berjualan di eks Presiden Theater.

Ia mengungkapkan, dirinya kembali pindah di eks Presiden Theater karena di Pasar Mawar sepi pembeli. Lokasi tersebut ia rasa tidak layak menjadi pasar karena tidak ada parkir dan menjadi jalan mati yang tidak dilewati pembeli. “Ya, jalan ini kan satu arah ya. Pembeli kalau mau ke pasar pasti turunnya di eks Presiden Theater karena itu pasar yang ditemui pertama. Jadi, kalau sudah belanja di sana, yang di Pasar Mawar sudah pasti dilewatin tak akan dilihat apalagi dibeli. Makanya saya nilai di sana kurang strategis,” ungkapnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.