Jatuh Bangun Nasywa Kautsar Ashfiya Lahir Derita Tunarungu Kini Sukses Jadi Atlet Karate

0 118

Heibogor.com – Keterbatasan tidak menghalangi siapapun untuk menorehkan prestasi selama memiliki niat dan keinginan yang kuat. Namun, menjadi atlet karate putri juga tidak pernah terlintas dalam angan-angan seorang Nasywa Kautsar Ashfiya.

Bukan hanya soal tak memiliki kemampuan bela diri, kenyataan bahwa ia memiliki kehilangan kemampuan pendengaran yang baik yakni tunarungu sehingga membuatnya kerap kali merasa tak percaya diri. Ya, remaja berusia 18 tahun itu siswi di SMKN 1 Ciomas, itu kini ia mampu beberapa kali memenangkan kejuaraan karate kategori kumite.

Nasywa divonis menyandang tunarungu sejak lahir. Gangguan pendengaran yang dimiliki pun sangat berat membuatnya tak dapat mendengar sama sekali bahkan ketika menggunakan alat bantu dengar (ABD). “Aku sudah sejak lahir dengan gangguan pendengaran berat. Aku tidak dapat mendengar sama sekali, bahkan saat menggunakan ABD, yang terdengar hanya suara berisik tanpa tahu itu bunyi apa,” ungkap Nasywa saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Sabtu (30/7/22).

Nasywa diketahui memiliki gangguan pendengaran ketika usianya menginjak 1,5 tahun. Saat itu ibunda Nasywa, Anita Rahmah (43) baru menyadari bahwa anaknya Nasywa belum bisa berbicara. “Akhirnya  Nasywa  diperiksa ke hearing centre karena ada kecurigaan ke arah gangguan pendengaran. Hasilnya ternyata memang benar, Nasywa mengalami gangguan pendengaran berat sejak lahir. Setelah ditelusuri penyebabnya, dugaan karena saat kehamilan, saya pernah terkena virus Rubella yang bisa menyebabkan kerusakan pada organ bayi salah satunya organ pendengaran,” jelas Anita.

Sehigga, sambung Anita, sejak usia Nasywa menginjak dua tahun, keluarga Nasywa membawanya ke terapis untuk dilakukannya beberapa metode yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bicara, memahami dan mengekspresikan bahasa verbal maupun nonverbal, yaitu dengan terapi wicara (TW) sejak usia dua tahun hingga usia tujuh tahun dan dilanjutkan dengan terapi pedagogi hingga usianya menginjak sepuluh tahun, membuatnya kini bisa berkomunikasi dengan teman-temannya.

“Aku bisa berkomunikasi dengan teman-teman dengan cara membaca gerak bibir mereka dan aku bisa berbicara verbal walaupun tidak sebagus yang lainnya saat berbicara. Jika berkomunikasi dengan teman tuli yang menggunakan bahasa isyarat aku kurang memahaminya, karena aku memang belajar bahasa isyarat sangat sedikit,” jelas Nasywa.

Selain memberikan Nasywa terapi khusus, Nasywa pun mengenyam pendidikan di sekolah khusus bagi anak penyandang disabilitas, yaitu di Playgroup saat usianya 3,5 tahun, dilanjutkan untuk bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) selama dua tahun yang kemudian di pindahkan ke SDN Inklusi karena dianggap mampu untuk belajar bersama anak normal.

“Saat sudah dua tahun bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB), kepala sekolah di SLB menyarankan untuk aku pindah ke SDN inklusi karena aku dianggap mampu untuk belajar. Namun di SDN inklusi aku memulai kembali dari kelas 1, itulah sebabnya mengapa usiaku lebih matang dibandingkan dengan teman-teman di sekolahku saat ini,” jelas Nasywa.

Keinginan Nasywa untuk mulai mempelajari ilmu bela diri datang ketika ia memasuki Sekolah Dasar. Bersama harapan agar bisa melindungi dirinya sendiri, ia mengikuti ekstrakulikuler beladiri pencak silat. Selain itu, ia pula mengikuti kursus menari jaipongan di salah satu sanggar yang dikelola Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor.

Saat memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP), Nasywa beralih memfokuskan diri untuk mengikuti ekstrakulikuler beladiri karate. Nasywa mengatakan, saat SMP tidak ada pertandingan karate yang diikuti, hanya latihan dan ujian kenaikan sabuk saja.

Saat SMP pula, ia merasa banyak anak-anak normal yang memandang dirinya berbeda, membuatnya hanya memiliki seorang teman. Ditambah, ia bersekolah di SMPIT yang mengharuskannya menghafal 30 juz Alquran, ia sendiri merasa sangat kesulitan saat itu karena memang tidak pernah tahu dan tidak pernah mendengar bacaan alquran yang baik dan benar, membuatnya harus ikhlas saat mendapatkan nilai akademis yang sangat buruk.

“SMP memang masa yang sulit dalam hidupku, tapi meskipun begitu, aku masih bersyukur karena bunda selalu berada di sampingku. Bunda selalu berkata bahwa Allah ciptakan kita sama, namun Allah memberi kemampuan yang berbeda. Maka terus berjuang sesuai kemampuan yang telah Allah beri, Insya Allah akan ada hasilnya. Kalimat penyemangat dari bundalah yang selalu berhasil membuatku terus semangat untuk maju,” jelas Nasywa.

Melewati masa yang sulit di SMP bersama dukungan keluarga terdekat, kini Nasywa sudah memasuki Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di SMKN 1 Ciomas semester lima jurusan Animasi. Semasa SMK ini, ia terus mengasah kemampuannya dalam penguasaan ilmu beladiri karate dengan mengikuti kegiaan ekstrakulikuler di sekolah, rutin latihan di ranting setiap Minggu pagi, latihan privat di rumah setiap Selasa sore, latihan atlet setiap Kamis malam dan latihan di cabang setiap Minggu malam. Itu semua dilakukannya agar ia bisa menjadi atlet karate dan membanggakan keluarganya.

 Ia mulai mengikuti pertandingan karate, sehinggahasilnya kini tidak sia-sia. Nasywa mengatakan, pertandingan pertama yang ia ikuti merupakan kejuaraan antar ranting Shotokan Bogor pada tanggal 17 Desember 2020 lalu yang diselengarakan oleh Shokaido Cabang Bogor. “Alhamduliilah, saat pertama kali bertanding aku mendapatkan medali perunggu juara 3 untuk kategori kumite,” ungkap Nasywa.

Nasywa melanjutkan, saat adanya pandemi Covid-19 selama 2 tahun, tidak ada pertandingan yang digelar hingga prestasi tidak dapat diukir kembali. Namun, setelah pandemi berakhir barulah pertandingan digelar kembali. Pada pertandingan perebutan piala Kapolres Bogor dalam kejuaraan karate antar pelajar BKF Championship V Polres Bogor pada 29-30 Januari 2022. Nasywa kembali mendapatkan medali emas juara 1 untuk kategori kumite antar pelajar.

Dengan berbekal ilmu bela diri karate yang mumpuni, dirinya berharap bisa melatih siswa baru yang ingin belajar beladiri karate seperti dirinya dulu. “Harapan aku yaitu ingin melatih kohai (siswa) baru di ranting (tempat berlatih),” harapnya.

Dengan niat baik tersebut ibunda Nasywa, Anita mendukung penuh keinginan putri kesayangannya tersebut. “Saya selalu mendukung apapun itu yang ingin nasywa lalukan selama itu hal positif dan membuat Nasywa bahagia. Saya berharap ke depannya Nasywa menjadi orang sukses, bisa menjalani kehidupan dengan kebahagiaan, jadi manusia yang taat pada Allah,” tandas Anita. (HAYA/MG)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.