Dinkes Luncurkan Bogor Smart Health, Satu Data Kesehatan untuk Aplikasi Sistem Informasi dan Pelayanan

0 129

Heibogor.com – Dalam mewujudkan Kota Bogor Cerdas (Bogor Smart City) menuju pemerintahan yang efisien, efektif, akuntabel dan transparan, Dinas Kesehatan Kota Bogor meluncurkan Bogor Smart Health – Satu Data Kesehatan yaitu aplikasi pengelolaan sistem informasi kesehatan memanfaatkan IT secara optimal untuk mewujudkan Smart healthy city.

Peluncuran Bogor Smart Health – Satu Data Kesehatan dilangsungkan di Paseban Sri Baduga Balaikota Bogor, pada Selasa (26/7/22) yang dibuka langsung oleh Wali Kota Bogor, Bima Arya didampingi Wakil Ketua DPRD Kota Bogor, Dadang Danubrata, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Bogor, dr. Sri Nowo Retno, MARS, dan Pimpinan cabang BJB Bogor, Muhammad Aditya Wiradharma. Selain peluncuran Bogor Smart Health dilakukan juga penyerahan dana bantuan dari BJB Kota Bogor untuk men-support pembangunan Bogor Smart Health ini.

Dalam sambutannya, Kadinkes Kota Bogor, dr. Sri Nowo Retno, MARS menyampaikan, saat ini terjadi perubahan yang sangat cepat dalam tatanan kehidupan masyarakat di era 4.0 di mana masyarakat sangat tergantung pada pemanfaatan teknologi informasi dalam setiap aspek kehidupannya sehari-hari. Hal ini, selanjutnya menuntut organisasi sektor pelayanan publik untuk melakukan perubahan dengan melakukan transformasi digital.

Menjawab tantangan transformasi digital, untuk mewujudkan pelayanan publik yang berkinerja tinggi, pemerintah telah membangun Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) yang tertuang dalam Peraturan Presiden No. 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik.

Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) adalah penyelenggaraan pemerintahan yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk memberikan layanan kepada pengguna. SPBE ditujukan untuk untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, transparan, dan akuntabel serta pelayanan publik yang berkualitas dan terpercaya.

Seiring dengan itu, Kota Bogor memiliki Visi Kota Ramah Keluaga, dengan misi mewujudkan Kota Bogor yang sehat, cerdas dan sejahtera. Kota Cerdas (Smart City) merupakan kota yang telah mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi dalam tata kelola sehari-hari dengan tujuan untuk mempertinggi efisiensi, memperbaiki pelayanan publik, dan meningkatkan kesejahteraan warga.

Salah satu bagian dari smart city adalah smart health. Smart healthy city merupakan perwujudan Kota Sehat yang pelayanan kesehatan dan pengelolaan sistem informasi kesehatannya memanfaatkan teknologi informasi secara optimal. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor telah melaksanakan berbagai program Pelayanan Kesehatan Cerdas. Di antaranya penggunaan aplikasi kerja digital baik dalam pengelolaan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) dalam tata kelola pemerintahan.

Tercatat ada 39 aplikasi kerja yang saat ini digunakan, baik aplikasi yang berasal dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, Pemerintah Kota Bogor, maupun aplikasi yang dibangun oleh Dinkes. Penggunaan berbagai media sosial, seluruh Puskesmas dan Labkesda: website, intagram, youtube, facebook, twitter, sebagai media informasi Kesehatan.

Layanan telemedicine, layanan pendaftaran online di beberapa puskesmas, penerapan digitalisasi pembayaran retribusi di BLUD Puskesmas dan Labkesda, dengan menggunakan QRIS bekerja sama dengan BJB. Dalam penerapan pelayanan Kesehatan cerdas ini, masih terdapat beberapa kendala di antaranya belum terintegrasinya data dan aplikasi kesehatan yang ada sehingga dalam pemanfaatannya belum optimal.

Masih adanya kendala error aplikasi, yang terkait dengan terbatasnya pengembangan aplikasi dan terbatasnya sarana prasarana aplikasi. Masih terbatasnya dana yang dialokasikan untuk pengembangan system informasi Kesehatan, masih terbatasnya SDM yang memiliki kompetensi di bidang teknologi informasi. Rekruitmen SDM di dinas Kesehatan saat ini masih terbatas pada pemenuhan SDM Kesehatan. Padahal SDM penunjang lain pun sangat dibutuhkan.

“Untuk menyelesaikan permasalahan di atas, telah disusun Rencana Aksi Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan yang meliputi penyusunan regulasi dalam bentuk Perwali tentang Sistim Informasi Kesehatan, Penyusunan Master Plan Sistem Informasi Kesehatan dan integrasi data Kesehatan dalam single window data kesehatan yang kami beri nama Bogor Smart Health – Satu Data Kesehatan,” sebut Retno.

Di dalamnya lanjut Retno, meliputi seluruh data dan informasi tentang Kesehatan, meliputi regulasi kesehatan publikasi data dan Informasi, Layanan Kesehatan, Fasilitas Kesehatan, Berita Kesehatan, Penelitian Kesehatan, Dashboard Data Kesehatan, Event Kesehatan, Organisasi Profesi Kesehatan Aplikasi Kerja Digital.

Sumber data dan informasi kesehatan tidak hanya berasal dari Dinkes saja, namun juga berasal dari stake holder lain, di antaranya fasilitas kesehatan, organisasi profesi kesehatan, institusi Pendidikan yang melakukan penelitian kesehatan, SKPD dan institusi lain.

“Untuk itu kami mohon dukungan dan kerja sama yang baik dari seluruh produsen data tersebut untuk dapat memberikan data yang lengkap, akurat, riil time dan berkesinambungan,” paparnya. Dengan tersedianya data kesehatan yang terintegrasi ini, sambung Retno diharapkan dapat meningkatkan kinerja Dinkes dalam pelayanan kesehatan, pengelolaan Sistem Informasi Kesehatan dan tata Kelola pemerintahan.

Selain itu, juga diharapkan dapat bermanfaat bagi stake holder terkait dan masyarakat yang memerlukan data kesehatan. “Adanya dashboard data Kesehatan riil time dapat menggambarkan situasi Kesehatan dan selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dan kebijakan oleh para pimpinan,” jelasnya.

Dalam pengembangan Bogor Smart Health ini, juga berkolaborasi dengan BJB yang memberikan bantuan anggaran untuk pembangunan dan pengembangan sinleg window Bogor Smart Health dan juga untuk pembuatan ruang data di Dinkes. Pada kesempatan kali ini akan dilaksanakan penyerahan dana bantuan dari BJB tersebut,” tambahnya.

Ia meneruskan, salah satu bagian dari pelayanan kesehatan cerdas, diterapkan layanan transaksi non tunai dengan menggunakan QRIS, bekerjasama dengan BJB. Layanan ini sudah dilaksanakan di 25 puskesmas dan Labkesda Kota Bogor. Pada hari ini juga disampaikan sosialisasi dari Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat tentang Urgency Digitalisasi Pembayaran Biaya Pelayanan Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Swasta yang dilanjutkan dengan Sosialisasi QRIS dan produk layanan keuangan digital dari BJB Cabang Bogor.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada pihak yang telah mendukung pengembangan Bogor Smart Health ini, Kepala Bappeda, Kadiskominfo, Kepala Bagian Hukum, Kepala Cabang BJB Kota Bogor, Pimpinan Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat dan juga seluruh stake holder lain, kami mohon dukungan untuk keberlanjutan program ini,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Wali Kota Bogor, Bima Arya mengatakan, pandemi ini ternyata lebih panjang dari yang diperkirakan. Jadi, belum begitu tuntas. “Kita lihat ya, tren ke depan itu akan banyak persoalan terkait dengan virus, bukan saja virus ke manusia atau virus ke hewan belum lagi nanti ada prediksi cacar monyet dan lain-lain. Jadi, kita harus betul-betul serius membangun sistem kesehatan salahsatunya adalah database yang terintegrasi dari preventif, preentif, kuratif, semuanya ada di situ,” kata Bima.

Bima mengatakan, targetnya dua. Satu, untuk referensi kebijakan yang kedua untuk pelayanan publik. Jadi, bisa digunakan pemerintah tapi bisa diakses juga sebagian oleh warga.

“Jadi, warga dimudahkan ya, begitu dia sakit dia tahu apa yang harus dilakukan dan kemana dia harus pergi. Untuk awal ini ada bantuan dari Bank Jabar dan Bank Indonesia. Ke depan harus dianggarkan oleh APBD. Setidaknya pada tahap awal untuk membangun sistem saja kita perlu Rp2 miliar. Ini agak jangka panjang tapi ini, kita rencanakan dengan sangat serius. Alhamdulillah karena Kota Bogor sudah on the track di Smart City maka sekarang tinggal mengintegrasikan saja, kan banyak aplikasi,” ujarnya.

Dikatakan Bima, Bogor Smart Health ini bisa memangkas aplikasi lain yang sudah digunakan dinkes. “Sekarang saja ada 39 aplikasi kerja yang digunakan, baik aplikasi yang berasal dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, Pemerintah Kota Bogor, maupun aplikasi yang dibangun oleh Dinkes. Itu akan kita integrasikan dan nanti juga ada dari dinas lain yang juga harus diintegrasikan seperti Dukcapil juga, kan ada database, ada aplikasi juga yang sudah dibangun. Nah, satu sama lain harus jelas seperti apa, supaya warga tidak bingung milih aplikasi yang mana,” ungkapnya.

Sementara, Pimpinan cabang BJB Bogor, Muhammad Aditya Wiradharma mengatakan, bahwa ini bukan CSR hanya supporting saja karena ada kepentingan sendiri antara BJB dengan program ini. Di mana, di Bogor Smart Health ini akhirnya akan mengintegrasikan seluruh elemen kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, klinik-klinik.

“BJB punya kewajiban juga sebagai Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) yang ini, kita akan sinkronisasi atas semua layanan kesehatan tadi dengan BJB untuk dilakukan layanan transaksi keuangan secara digital. Jadi, saling berhubunganlah antara Bogor Smart Health ini dengan programnya Kota Bogor. Total bantuannya Rp150 juta untuk program Bogor Smart Health tadi itu pun untuk flatform di awal saja dari total yang diperlukan dinkes,” pungkasnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.