Ramai-ramai Ajak Perempuan Bangga dan Lestarikan Budaya Gunakan Kebaya

Dukung Gerakan Goes To UNESCO

0 199

Heibogor.com – Pelestarian kebaya sebagai identitas bangsa ditunjukkan oleh ratusan perempuan berpakaian kebaya dari berbagai kota dengan melakukan kegiatan Jalan Sehat Berkebaya dari Alun-Alun Kota Bogor hingga Taman Ekspresi Sempur, Sabtu (16/7/22).

Kegiatan yang dimotori oleh komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Bogor ini, dilakukan sebagai bentuk upaya mendukung gerakan Kebaya Goes To UNESCO agar terdaftar sebagai warisan budaya tak benda dunia dari Indonesia.

Ketua PBI Bogor, Sitawati Ken Utami mengatakan, peserta yang mengikuti kegiatan ini, tidak hanya para perempuan dari PBI maupun komunitas lain seperti komunitas senam, komunitas pecinta budaya, dan lain-lain yang ada di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor saja, melainkan juga datang dari Jakarta, Tangerang, Depok dan Bekasi.

Ia menjelaskan, kegiatan gerakan Kebaya Goes To UNESCO ini bisa dikatakan sebagai tahap awal penyadaran budaya berkebaya kepada masyarakat khususnya kaum perempuan agar kebaya ini bisa diajukan ke UNESCO. Di mana, beberapa syarat point agar masuk dalam UNESCO itu di antaranya adanya kajian akademis yang menunjukkan bahwa kebaya itu berasal dari Indonesia, mulai dari sejarahnya, pemakaian di masyarakat secara umum yang dibuktikan atau ditampilkan melalui even-even semacam ini. Serta melihat berapa banyak orang yang bergabung di gerakan Kebaya Goes To UNESCO.

“Karena pelestarian kebaya di masyarakat belum sepenuhnya menyeluruh makanya gerakan Kebaya Goes To UNESCO kami gaungkan di tahun ini dan gerakan Kebaya Goes To UNESCO ini sendiri merupakan hasil dari kongres berkebaya nasional yang dilangsungkan pada 5-6 April 2021 lalu di mana dari kongres itu menghasilkan rekomendasi adanya hari batik nasional dan hari berkebaya,” jelasnya di Taman Ekspresi Sempur.

Ia meneruskan, untuk lebih mendukung gerakan tersebut dibuat juga sebuah wadah berupa web tradisikebaya.id untuk para perempuan Indonesia, mempresentasikan diri mereka saat mengenakan kebaya dan kain.

“Jadi, silahkan para perempuan mengunggah fotonya saat memakai kebaya dan kain. Kami mengundang sebanyak banyaknya komunitas atau siapa pun yang concern atau berminat melestarikan kebaya. Dari situ nanti kita istilahnya akan mendata sebanyak apa perempuan Indonesia yang mencintai kebaya,” kata Sitawati.

Ia juga berharap kepada pemangku kepentingan dalam hal ini pemerintah daerah maupun pusat untuk bisa membuat sebuah kebijakan supaya pemakaian kain dan kebaya ini semakin masif di masyarakat seperti di pemakaian kebaya di lingkungan pendidikan atau di lingkup pemerintahan. Dengan mengenal kebaya lebih baik, diharapkan kecintaan terhadap pemakaian kebaya pun semakin meningkat.

“Melalui kegiatan ini, kita ingin melangkah lebih jauh, ingin dikenal lebih luas serta ingin memperkenalkan kebaya-kebaya yang ada di Indonesia. Di sisi lain ini menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap perkembangan UMKM dengan adanya pemakaian busana daerah di mana mana sehingga diharapkan dapat mendorong sektor ekonomi dalam pengembangan industri busana di tanah air dan meneguhkan jati diri perempuan Indonesia,” harapnya.

Sitawati mengungkapkan, bahwa PBI sudah mempunyai 9 cabang dan bergerak di daerah masing-masing. PBI Bogor sendiri sudah berdiri sejak 23 Februari 2016. Meski sudah enam tahun lebih PBI Bogor sudah menjalankan misinya melestarikan kebaya dan memasyarakatkan kebaya supaya kebaya tetap digunakan perempuan-perempuan khususnya di Bogor, terutama mengajak generasi muda ikut berkebaya. Dan itu sudah dilakukan sebelum adanya gerakan Kebaya Goes To UNESCO.

“Kebaya Goes To UNESCO ini even perdana yang baru diluncurkan PBI Bogor. Ini adalah even sosialisasi tapi yang paling penting adalah kita mengedukasi masyarakat atau perempuan terutama tentang kebaya supaya jangan sampai ada salah persepsi apa sih yang disebut kebaya?seperti apa? Karena sebenarnya kebaya itu spesifik ada ketentuan atau kriterianya,” terangnya.

Dia menambahkan, sebagai edukasi kain kebaya pihaknya sudah pernah mengadakan fashion show kain Sunda, kemudian fashion show batik Jogja, batik peranakan, kebaya nyunda, dan masih banyak lagi. “Goalsnya mau mengajukan kebaya sebagai warisan budaya tak benda dunia dari Indonesia yang diakui oleh UNESCO,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini ia memiliki pesan kepada kaum perempuan di mana pun berada marilah memakai kebaya, melestarikan kebaya, mencintai budaya Indonesia, dengan cara salah satunya memakai kebaya sesering mungkin di kesempatan apa pun. Ini termasuk kaum muda karena merekalah pewaris kebaya yang akan menjaga kelestarian kebaya di masa depan.

“Sekarang ini, sudah banyak desainer yang membuat kebaya khusus untuk anak muda. Jadi, kebaya bisa dimodifikasi sesuai dengan usia misal pemilihan bahan pakai kebaya kaos, corak dan warna yang ceria, kainnya pun bisa panjang atau pendek. Jangan kalah dengan orang tua yang berani memakai kebaya dengan warna dan motif kekinian,” bebernya.

Sementara, Plh Wali Kota Bogor, Dedie Rachim saat menerima audiensi PBI Bogor beberapa hari lalu mendukung acara ini dan berpesan agar masyarakat turut berperan serta dalam gerakan ini. “Kita berharap agar misi utama membawa kebaya ke UNESCO dan ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda dunia dari Indonesia bisa direalisasikan secepatnya,” ucap Dedie.

Dukungan juga diberikan oleh Wakil Ketua Dekranasda Kota Bogor, Yanti Rachim yang meminta agar kebaya tetap dilestarikan dan dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang. Diketahui, kebaya merupakan pakaian tradisional yang dipakai sebagai atasan. Untuk memperkuat kesan lokalitas dan feminitas, kebaya semestinya dipadukan dengan wastra Nusantara (kain batik, tenun, songket dan jenis yang lainnya).

Kebaya adalah model baju yang memiliki potongan standar (pakem), bukaan depan, simetris kiri dan kanan, berlengan. Pilihan bahannya bisa brokat, sifon, beludru, katun, dan sebagainya. Namun, tidak bisa semua model baju atasan berbahan brokat dikatakan sebagai kebaya.

Dunia perlu mengetahui dan mengakui bahwa kebaya adalah warisan budaya berbusana dari leluhur Nusantara yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Kini keberadaan kebaya sudah saatnya diakui oleh dunia sebagai busana khas Indonesia. Berpartisipasilah dalam gerakan “Kebaya Goes to UNESCO” sebagai bukti bahwa kebaya memperoleh dukungan luas dan terus berkembang mewarnai khazanah busana dunia.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.