Kota Bogor Tuan Rumah Pelaksanaan Cegah Stunting Anak

0 88

Heibogor.com – Kota Bogor ditunjuk sebagai tuan rumah pelaksanaan kegiatan pelatihan tatalaksana cegah stunting dokter umum pada fasilitas kesehatan tingkat pertama koordinator wilayah IV yang diadakan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Jawa Barat bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) cabang Jawa Barat, yang digelar di IPB Convention Centre (ICC) Botani Square Kota Bogor, Kamis (30/6/22).

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua DPRD Jawa Barat Achmad Ru’yat dengan dihadiri Wakil Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim beserta jajaran Dinas Kesehatan Kota Bogor dan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Barat Eka Mulyana beserta para ketua IDI di wilayah IV.

Ketua IDI Cabang Kota Bogor, dr. Ilham Chaidir mengatakan, Kota Bogor ditunjuk IDI Jabar untuk melakukan kegiatan pencegahan stunting di regional 4 Jabar, yaitu yang terdiri dari Kota/Kabupaten Bogor, Kota/Kabupaten Sukabumi, Depok dan Cianjur. Pesertanya sebanyak 150 orang dari 6 kabupaten/kota. Mudah-mudahan dengan enam kabupaten/kota itu semuanya bisa menyebar informasinya dalam rangka penanggulangan stunting.

“Sasarannya adalah ikut serta dalam pencegahan stunting, karena stunting ini merupakan program yang sangat penting bagi Pemprov Jabar, dalam hal ini Jabar For Zero Stunting. Banyak sekali hal yang berkaitan dengan banyaknya yang tidak terdeteksi stunting itu. Maka perlu adanya penanganan yang signifikan informasi kepada masyarakat dan sebagai garda terdepannya adalah dokter-dokter di FKTP yang mencakup klinik-klinik dokter umum dan juga dokter-dokter di puskesmas,” jelasnya.

Jadi, lanjut Ilham, kegiatan-kegiatan seperti pengukuran antropometri, kemudian penyuluhan kepada ibu pada 1000 hari pertama kelahiran, termasuk dalam masalah kehamilannya agar tidak melahirkan generasi-generasi yang kekurangan gizi. Oleh karena itu, masalah kesehatan ini menjadi sangat penting bagi seluruh masyarakat dan harus disadari bahwa ini tidak bisa hanya oleh tenaga kesehatan. Maka IDI sebagai organisasi profesi menggaet pihak-pihak yang sangat perhatian terhadap masalah pencegahan stunting.

“Mudah-mudahan dengan kegiatan ini adalah awal. Sebenarnya di Kota Bogor, ini adalah pertama untuk kick off kegiatan pencegahan stunting di Jawa Barat. Jadi, kick off dari IDI ini yang pertama di regional 4, kemudian nanti di regional yang lain. Seluruh kabupaten/kota itu ada 27 di Jawa Barat. Sekarang baru 6 berarti masih ada 21 lagi yang akan dilaksanakan secara bergiliran di 5 regional,” bebernya.

Di tempat yang sama, Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim mengatakan, saat ini prevalensi stunting ada tiga jenis ukurannya. Ada yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, kemudian ada yang dilakukan bulan penimbangan bayi yang sebetulnya jumlah atau tingkat stunting di Kota Bogor, relatif sekarang dikisaran di bawah 10 persen.

“Oleh karena itu kita harus menyelaraskan dengan target-target provinsi Jawa Barat maupun Provinsi Nasional, dan mudah-mudahan dengan langkah-langkah yang kita ambil dengan melakukan sosialisasi, pencegahan pernikahan di bawah usia, kemudian meningkatkan kesehatan calon pengantin, ibu dan anak serta meningkatkan fasilitas kesehatan (faskes) Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (Pustu). Mudah-mudahan ini bisa terus menurunkan tingkat stunting di Kota Bogor,” harap Dedie.

Sementara, Wakil Ketua DPRD Jabar Achmad Ru’yat menyampaikan, dalam upaya pencegahan stunting, Pemprov Jabar memiliki program zero stunting pada tahun 2023 dengan prevalensi 19,4 persen, sedangkan pada tahun 2021 kondisi stunting masih menyentuh 24, 5 persen. “Sebuah tantangan setiap tahun harus menurunkan 3,5 persen prevalensinya. Selama ini, penurunan dari 2019 hingga 2021 hanya bisa satu persen,” ungkapnya.

Berdasarkan data studi status gizi Indonesia (SSGI) 2021 daerah perkotaan di Jawa Barat, ada 9 daerah yang berkategori hijau dengan prevalensi 10 sampai 20 persen, dirangking berdasar angka prevalensi tertinggi hingga terendah meliputi Kota Cimahi, Kota Sukabumi, Kuningan, Subang, Kota Bogor, Ciamis, Indramayu, Kota Bekasi serta Kota Depok. Kota Cimahi yang berprevalensi 19,9 persen dan Kota Sukabumi yang berprevalensi 19,1 persen.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.