Deteksi Penyakit Tidak Menular Dinkes Ajak Masyarakat Perbaiki Pola Hidup dan Cek Rutin Kesehatan

0 85

Heibogor.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor melakukan kick off gerakan bulan deteksi Penyakit Tidak Menular (PTM) tingkat Kota Bogor, pada Rabu (15/6/22) di Villa Arum Sari, Kelurahan Curug, Kecamatan Bogor Barat. Gerakan deteksi PTM ini, dilakukan melalui Paguyuban Gerakan terpadu Skrining Kesehatan atas kolaborasi Sembilan (Salapan).

Wali Kota Bogor, Bima Arya yang hadir di acara kick off ini mengatakan, untuk menanggulangi PTM pihaknya tengah memperbaiki tiga faktor utama yang membuat angka PTM masih tinggi.

“Untuk kematian di Kota Bogor, cukup banyak karena PTM seperti diabetes, jantung, hipertensi. Hal itu, dikarenakan pola hidup, kebiasaan, pola makan. Ada tiga hal faktor utama adanya PTM yaitu karena gaya hidup, akses fasilitas kesehatan (faskes) dan status sosial,” kata Bima Arya.

Saat ini, kata Bima, Pemkot Bogor terus bergerak melakukan deteksi dini PTM dengan kolaborasi antara aparatur kecamatan, kelurahan, puskesmas dan organisasi-organisasi profesi di Kota Bogor, untuk menyadarkan kembali masyarakat agar hidup sehat dan melakukan pengecekan secara rutin.

“Semisal cek darah. Tim kolaborasi akan terjun ke lapangan. Angka harapan hidup di Kota Bogor, minim karena gaya hidup, akses faskes dan status sosial tadi. Tiga ini terus kami tingkatkan, dengan edukasi menyeluruh dan terus menerus. Kemudian akses faskes di perbaiki agar warga mudah menjangkau atau mobilisasi warga ke faskes dekat. RT, RW, Posyandu dan Posbindu bergerak menjemput warga,” paparnya.

Bima menerangkan, untuk status sosial pihaknya juga sedang meningkatkan kesejahteraan warga melalui intervensi program kegiatan. Saat ini, angka harapan hidup Kota Bogor 73,61 persen, kuncinya semua bergerak berkolaborasi mulai dari usia dini sampai ibu-ibu dan semua gaya hidup itu semua harus diubah. “Untuk gaya hidup mempengaruhi banyak hal, harus biasa bangun pagi. Pola hidup harus diperbaiki,” terangnya.

Sementara, Kepala Dinkes Kota Bogor, dr. Sri Nowo Retno menuturkan, jumlah kematian lima penyakit tidak menular terbanyak di tahun 2021 adalah pertama, stroke sebanyak 164 orang dari jumlah kasus sebanyak 3.435. Kedua, penyakit jantung koroner sebanyak 117 orang, dari jumlah kasus 3.051. Ketiga, hipertensi dengan komplikasi 120 orang, dari jumlah kasus 56.411. Keempat, kanker sebanyak 115 orang dari jumlah kasus 821 dan terakhir kelima diabetes mellitus dengan komplikasi sebanyak 105 orang dari jumlah kasus 17.801.

“Penyakit tidak menular semakin menjadi ancaman bagi kesehatan di Indonesia, selama pandemi Covid-19 karena menjadi komorbid yang mengakibatkan fatality rate. Penderita Covid-19 meningkat yang berujung pada meningkatnya angka kematian. Selain meningkatnya angka kesakitan dan kematian, meningkatnya jumlah kasus PTM sangat berdampak besar terhadap lonjakan beban biaya kesehatan,” ungkap Retno.

Dari itu, sambung Retno, gerakan bulan deteksi PTM di Kota Bogor, dilaksanakan melalui Paguyuban Salapan, sasaran untuk meningkatkan pelayanan kesehatan usia produktif dan lansia. Pertama, masyarakat umum usia lebih dari 15 tahun, Posbindu PTM sebanyak 522 dari 612 Posbindu yang ada di Kota Bogor. Kedua, ASN dengan program Pamong Walagri, WUS (IVA CBE) untuk wanita usia subur 30 sampai 50 tahun, kemudian perkantoran Swasta, Industri, tingkat SMA sederajad, universitas, klinik dan rumah sakit.

“Lalu layanan kesehatan yang dilaksanakan terdiri dari Sembilan (Salapan) jenis, yaitu deteksi gizi, deteksi dini hipertensi, deteksi dini diabetes melitus, deteksi dini kanker, leher rahim dan kanker payudara, deteksi dini kesehatan jiwa, deteksi tajam penglihatan, deteksi tajam pendengaran, deteksi dini Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dan upaya berhenti merokok (UBM),” jelasnya.

Retno menegaskan, kunci utama dalam keberhasilan kegiatan gerakan bulan deteksi PTM di masa pandemik ini adalah mengoptimalkan kepatuhan dan kedisiplinan pada penerapan protokol kesehatan, baik oleh petugas maupun masyarakat yang dilayani. Juga tercapainya pencegahan dan pengendalian PTM, termasuk mengurangi risiko keparahan bagi orang yang terdampak Covid-19 karena penyakit penyertanya.

“Akhirnya ucapan terima kasih kepada seluruh stake holder rumah sakit, klinik, organisasi profesi, industri, perkantoran, unsur pendidikan, maupun kader-kader kesehatan yang sudah berkolaborasi dalam pelaksanaan deteksi dini PTM dan penerapan GERMAS. Semoga ikhtiar kami bersama dapat menurunkan angka kesakitan, kecacatan akibat komplikasi, maupun kematian akibat PTM di Kota Bogor,” pungkasnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.