Sering Jadi Buruan Peternak Ayam Cemani Si Hitam Manis Bernilai Fantastis

0 146

Heibogor.com – Ayam Cemani adalah jenis ayam langka dari Indonesia, dan masuk dalam ketegori ayam hias. Mereka memiliki gen dominan yang membuat ayam ini memiliki keunikan yakni berwarna hitam, mulai dari mata, paruh, jengger, tenggorokan, lidah, bulu, kuku, kaki, daging, dan tulangnya. Hanya warna darah yang tetap merah dan telur seperti ayam kampung.

Ayam cemani yang dalam bahasa sansekerta berarti ayam hitam atau biasa dikenal juga dengan sebutan ayam kedu ini, banyak disebut berasal dari Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Selain di Indonesia, ayam ini juga terdapat di negara Swedia dan India.

Keunikan ayam cemani membuat ayam ini memiliki nilai jual yang tinggi di mata para peternak atau pemilik. Dari itu, keberadaan ayam cemani sekarang ini telah banyak dibudidayakan di tanah air tidak hanya di daerah asalnya. Seperti salah satunya di wilayah Kampung Palasari, Desa Mampir, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor.

Dikembangkan oleh Tarmudi, mulanya ia membentuk wadah yang diberi nama komunitas Black Indonesia pada tahun 2016. Berselang tiga tahun atau tahun 2019 berubah badan hukum menjadi Perkumpulan Peternak Cemani Indonesia (Pertemani). Tarmudi mengatakan, secara umum perawatan ayam cemani sama seperti ayam kampung. Namun, hal terpenting yang harus diperhatikan adalah pakan dan asupan tambahan jamu yang dibiasanya ia buat dari probiotik herbal.

Adapun perawatan khusus itu dilakukan pada saat ayam cemani akan tampil di arena kontes. Ia biasanya melakukan pemisahan antara ayam jantan dan betina 1 bulan atau 2 pekan menuju kontes. “Lalu rajin diberikan minyak ikan supaya bulunya halus dan rapi,” kata pemilik peternakan Kandang Cemani Cileungsi ini saat ditemui di peternakannya, belum lama ini.

Ayam cemani sendiri, terangnya, sudah bisa dikembangbiakkan saat menginjak usia delapan bulan. Indukan betina rata-rata bisa menghasilkan 20 butir telur. Namun produksi telur akan berkurang sering masa perkawinan ayam. “Produksi telur di awal itu yang saya hitung rata-rata 20 butir, terus di siklus kedua masih 20 butir dan selanjutnya mulai berkurang, kandang 19 dan 18 butir,” terangnya.

Dalam penetasan telur, ia lakukan dengan dua cara. Untuk percepatan, telur sebagian besar ditetaskan menggunakan mesin penetas telur. Sedangkan sisanya, 5 atau 7 butir di kandang ditetaskan secara alami dierami induknya selama 20 hari. Untuk percepatan produksi telur juga, sambung Tarmudi, seusai masa pengeraman, ayam dimandikan dan kemudian dipisahkan selama sepekan di kandang. Setelah itu, ayam diumbar kembali untuk kawin dan seminggu kemudian ayam siap bertelur.

Saat ini, ada puluhan ayam cemani baik jantan maupun betina yang ada di kandang. Tarmudi tidak hanya menyediakan ayam cemani, tapi juga telurnya. Sepasang indukan, ia jual antara Rp6 sampai 10 juta untuk kualitas super lidah atas bawah hitam. Sedangkan perekor untuk cemani lidah hitam mulai dari Rp400 ribu sampai Rp1,5 juta untuk usia dari 1 sampai 6 bulan. Sementara indukannya Rp2 juta. Untuk harga telur dari indukan lidah hitam seharga Rp100 perbutir.

“Selain lidah hitam ada juga cemani lidah abu-abu. Harga perekornya mulai dari Rp100 sampai Rp400 ribu. Itu dari usia 1 sampai 6 bulan. Sedangkan indukannya Rp500 ribu. Untuk harga telor dari indukan lidah abu Rp50 perbutir. Budidaya ayam cemani memiliki peluang bisnis yang cukup potensial tidak hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri. Alhamdulillah untuk penjualan tidak hanya di Indonesia, tapi sudah sampai ke luar negeri,” ungkapnya.

Awal Menyukai Unggas

Tarmudi ingat betul memulai hobi pelihara hewan dari ordo Galliformes ini tahun 2014. Sebelum ayam cemani, pertama kali yang dipelihara ayam bangkok, ayam kate, ayam ketawa hingga ayam pelung. “Saya senang datang ke kontes untuk mencari tahu asal usul ayam. Nah, saya sebagai orang Jawa berpikir ayam Jawa yang bisa dijadiin kontes. Pilihan saya jatuh ke ayam cemani, dan dari situ mulai memperkenalkan ayam cemani di kalangan penghobi,” tuturnya.

Ia awalnya memelihara 5 ekor anakan ayam cemani. Namun, waktu itu hanya 3 ekor yang tumbuh hingga dewasa, yakni 1 jantan dan 2 betina. Ia pun tak menyangka anakan turunan dari ayam ini banyak yang minat. “Saya awalnya enggak niat kayak sekarang. Tapi saya foto, sering diposting (media sosial) ternyata banyak yang mau. Jadi, setiap anakan itu selalu abis. Waktu itu saya ngejalanin juga jual beli. Lama-lama penghobinya makin banyak,” ujarnya.

Bahkan ia pun sempat ekspor ke berbagai negara mulai dari Benua Asia hingga Eropa. “Saya juga sempat ekspor ke berbagai negara namun setelah ada kebijakan dari Kementan mengenai pembatasan ekspor ayam cemani, sampai saat ini saya sudah tidak lagi menjual ke negara lain,” tambahnya.

Ia juga mencoba mengikuti kontes ayam hias skala nasional dengan membawa ayam kesayangannya yang bernama Superboy. “Saya kemarin juara satu kontes ayam hias tingkat nasional di Bandung. Nama ayamnya Superboy, mungkin keberuntungan dan kualitas ayam yang baik menjadikan Superboy juara satu,” ucap Tarmudi.

Setelah berhasil meraih juara satu, ayam cemani Superboy miliknya ternyata banyak yang minat untuk dijadikan indukan. Tak tanggung-tanggung harga yang ditawarkan kepada dirinya sangat tinggi. “Banyak yang menawar ayam saya. Bahkan, orang Thailand menawar Rp7 juta untuk Superboy itu. Cuman tidak saya jual, kalau mau anakanya saja,” katanya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.