Sistem Bioflok Optimalkan Produktivitas Pembudidaya Ikan

0 36

Heibogor.com – Sistem bioflok kini mulai banyak diterapkan oleh pembudidaya ikan karena memiliki beberapa keuntungan untuk mengoptimalkan produktivitas panen mulai dari efisiensi pakan, penggunaan air dan lahan serta waktu perawatan yang terbilang singkat.

Seperti diungkapkan Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) MinaB Agribisnis, Widia Muhtar bahwa sistem bioflok ini, hemat air hampir 90 persen hingga masa panen sehingga minim penggantian air. “Penambahan air itu tiga hari setelah pembuangan kotoran dasar dan itu paling 10 persen,” kata Widia, Selasa (24/5/22).

Widia melanjutkan, keuntungan lain dari sistem bioflok ini bisa mengirit hampir 30 persen penggunaan pelet sebagai pakan utama. Pasalnya dalam kolam bioflok terdapat sumber pakan alami bagi ikan yakni flok bakteri probiotik. Flok ini jadi makanan ikan. Kalau pakai sistem konvensional biasanya 1 kilogram ikan memerlukan 1,5 kilogram pakan, tapi dengan sistem ini bisa 0,9 hingga 1,1 kilogram pakan.

“Selain itu, sistem bioflok juga efisiensi lahan jika dibandingkan dengan sistem konvensional. Pada kolam bioflok penerapan padat tebar bisa hingga 100 ekor per meter kubik. Seperti di kolam bioflok bulat berdiameter 3 meter dan tinggi 90 sentimeter ini bisa diisi 600 sampai 700 ekor. Pertumbuhan ikan juga lebih cepat dikarenakan ikan banyak bergerak di kolam dan pastinya ikan cepat lapar saat di luar waktu rutin pemberian pelet ikan akan makan flok,” terangnya.

Ia melanjutkan, Pokdakan MinaB Agribisnis sendiri saat ini tengah membudidayakan ikan nila merah dengan sistem bioflok di Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Budidaya ikan nila merah dilakukan mulai dari pembenihan, pembesaran hingga ikan siap jual. “Yang ada sekarang saya punya 32 kolam untuk pembesaran. Itu ukuran diameternya 3 meter. Sedangkan pembenihan ada 8 kolam dengan ukuran 2,5×4,5 meter dan tinggi 80 sentimeter. Per kolam pembenihan diisi 10 ribu ekor,” ungkapnya.

Pria berusia 31 tahun itu mengakui pengadaan benih ikan nila merah yang dibudidayakannya ini masih didatangkan dari wilayah Sukabumi dan Subang. “Panen kita diperkirakan 1,5 sampai 2 kwintal setiap kolamnya. Kalau 32 kolam kurang lebih target kita bisa mencapai 4 sampai 4,5 ton per bulan,” paparnya

Dia menambahkan nila merah hasil budidayanya dijual untuk memenuhi kebutuhan pasar di wilayah Kota Bogor hingga Jakarta. Dalam budidaya nila merah dengan sistem bioflok ini, sambung dia, pengecekan kepadatan flok harus rutin dilakukan tiga hari sekali, termasuk kadar pH air di angka 7 sampai 8. Proses ini juga untuk menentukan pengaplikasian susulan probiotik ataupun molase.

“Di sini untuk pengecekan flok kami pakai alat ukur dengan batas minimum 20 dan maksimalnya 50 mililiter. Ketika endapan 20 mililiter itu ditambah probiotik, sedangkan 50 mililiter diberi molase saja,” ucapnya.

Selain itu, sistem ini mengandalkan pasokan oksigen dari aerator yang bekerja tanpa henti. Dengan demikian diperlukan pompa cadangan ataupun genset untuk mengatasi saat kondisi mati listrik. “Ikan masih bisa bertahan maksimal 3 jam ketika blower mati. Lewat dari itu biasanya ikan stres dan resikonya kematian. Untuk bisa bertahan 3 jam lagi bisa buang air setengah kolam. Jadi, maksimalnya 6 jam. Makanya wajib untuk punya genset,” tukasnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.