Tradisi Perang Belecon Saat Malam Takbiran di Bogor

Tradisi perang belecon atau adu gelegar tembakan meriam bambu memeriahkan malam takbiran di Desa Cinagara dan Desa Pasir Buncir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, pada Minggu (1/5/2022) malam. Tradisi setiap momen lebaran Idul Fitri ini, dilestarikan secara turun temurun selama puluhan tahun sebagai bentuk syiar mencintai hari besar umat Islam dan sebagai bentuk hiburan untuk warga yang pulang kampung merayakan lebaran. (heibogor.com/Andi)

0 955
Seorang pemuda menyusun meriam bambu di Kampung Cisalopa, Desa Cinagara, Kabupaten Bogor, Minggu (1/5/2022). Sedikitnya 120 meriam bambu berukuran 1,5 sampai 2 meter disiapkan untuk perang belecon yang akan ditembakkan saat malam takbiran. (heibogor.com/Andi)

 

Bambu yang dipakai berjenis bambu bitung yang didapat dari daerah Cimande. Dirawatnya tradisi perang belecon ini, membuat tradisi ini semakin meluas dimainkan di setiap kampung. Di dua kampung ini saja terdapat belasan lokasi meriam bambu. (heibogor.com/Andi)

 

Selain bambu, bahan lain yang digunakan yaitu karbit sebanyak 50-100 kg, minyak tanah, dan air. Dibutuhkan waktu selama satu minggu mulai dari pengambilan bambu sampai jadi terpasang. Semua biaya kegiatan adalah hasil dari swadaya pemuda dan masyarakat. (heibogor.com/Andi)

 

Memasukkan karbit ke dalam meriam bambu. (heibogor.com/Andi)

 

Seorang pemuda mengisi meriam bambu dengan karbit yang akan menghasilkan suara ledakan. (heibogor.com/Andi)

 

Cepi menjajal meriam bambu yang sudah siap ditembakkan. Suara tembakan berasal dari karbit yang menguap setelah dilarutkan dalam air yang berada di dalam bambu kemudian disulut dengan panas api. (heibogor.com/Andi)

 

Seorang ibu-ibu mencoba menghidupkan meriam bambu. Permainan ini dapat dicoba oleh siapa saja mulai dari anak-anak sampai orang tua bahkan kaum wanita. (heibogor.com/Andi)

 

Seorang pemuda menyiapkan meriam bambu sebelum ditembakkan. Perang belecon mulai dimainkan secara serentak selepas jam 9 malam hingga subuh mengiringi lantunan takbir . Perang meriam bambu ini pun juga diramaikan dengan pesta kembang api. (heibogor.com/Andi)

 

Seorang pemuda memasukkan air ke dalam meriam bambu sebelum ditembakkan. Perang belecon mulai dimainkan secara serentak selepas jam 9 malam hingga subuh mengiringi lantunan takbir . Perang meriam bambu ini pun juga diramaikan dengan pesta kembang api. (heibogor.com/Andi)

 

Seorang pemuda menyiapkan meriam bambu sebelum ditembakkan.Dirawatnya tradisi perang belecon ini, membuat tradisi ini semakin meluas dimainkan di setiap kampung. Di dua kampung ini saja terdapat belasan lokasi meriam bambu. (heibogor.com/Andi)

 

Menyalakan api. (heibogor.com/Andi)

 

Menyalakan meriam bambu. (heibogor.com/Andi)

 

Seorang pemuda menyalakan meriam bambu. Sedikitnya di satu lokasi terdapat 120 meriam bambu berukuran 1,5 sampai 2 meter yang disiapkan untuk perang belecon saat malam takbiran. (heibogor.com/Andi)

 

Sekelompok anak memainkan meriam bambu di Desa Pasir Buncir, Minggu (1/5/2022). Tradisi ini semakin meluas dimainkan di setiap kampung. Di Desa Pasir Buncir ini saja terdapat 5-10 lokasi meriam bambu. (heibogor.com/Andi)

 

Seorang anak menjajal meriam bambu yang sudah siap ditembakkan di Desa Pasir Buncir, Minggu (1/5/2022). Permainan ini dapat dicoba oleh siapa saja mulai dari anak-anak sampai orang tua bahkan kaum wanita. (heibogor.com/Andi)

 

Tradisi perang belecon atau adu gelegar tembakan meriam bambu menjadi tradisi masyarakat di daerah Caringin setiap menyambut Hari Raya Idul Fitri. Desa yang melakukan tradisi ini ialah Desa Cinagara dan Desa Pasir Buncir. (heibogor.com/Andi)

 

Banyaknya warga yang memainkan perang belecon, membuat suara tembakan meriam bambu ini menggelegar sepanjang malam hingga pagi mengiringi lantunan takbir. (heibogor.com/Andi)

 

Tradisi perang belecon atau adu gelegar tembakan meriam bambu menjadi tradisi masyarakat di daerah Caringin setiap menyambut Hari Raya Idul Fitri. (heibogor.com/Andi)

 

Tradisi perang belecon atau adu gelegar tembakan meriam bambu menjadi tradisi masyarakat di daerah Caringin setiap menyambut Hari Raya Idul Fitri. (heibogor.com/Andi)

 

Tradisi perang belecon atau adu gelegar tembakan meriam bambu menjadi tradisi masyarakat di daerah Caringin setiap menyambut Hari Raya Idul Fitri. Perang belecon mulai dimainkan secara serentak selepas jam 9 malam hingga subuh. Perang meriam bambu ini pun juga diramaikan dengan pesta kembang api. (heibogor.com/Andi)

 

Seorang warga dari Desa Pasir Buncir menembakkan meriam bambu pada Minggu (1/5/2022) malam. (heibogor.com/Andi)

 

Seorang warga dari Desa Cinagara menembakkan meriam bambu pada Minggu (1/5/2022) malam. (heibogor.com/Andi)

 

Seorang warga dari Desa Cinagara menembakkan meriam bambu pada Minggu (1/5/2022) malam. (heibogor.com/Andi)

 

Seorang warga dari Desa Pasir Buncir menembakkan meriam bambu pada Minggu (1/5/2022) malam. (heibogor.com/Andi)

 

Suasana adu meriam bambu di Desa Pasir Buncir pada Minggu (1/5/2022) malam. (heibogor.com/Andi)

 

Sekelompok warga membawa gas ikan pada Minggu (1/5/2022) malam. Selain perang suara ledakan dengan meriam bambu, warga juga menggunakan gas ikan untuk menghasilkan suara ledakan. Perang ini pun juga diramaikan dengan pesta kembang api. (heibogor.com/Andi)

 

Sekelompok warga membawa gas ikan pada Minggu (1/5/2022) malam. Selain perang suara ledakan dengan meriam bambu, warga juga menggunakan gas ikan untuk menghasilkan suara ledakan. Perang ini pun juga diramaikan dengan pesta kembang api. (heibogor.com/Andi)

 

Suasana di salah satu kampung di Desa Pasir Buncir yang memeriahkan malam takbiran dengan kembang api, meriam bambu, flare dan tabuhan drum. (heibogor.com/Andi)

 

Suasana di salah satu kampung di Desa Pasir Buncir yang memeriahkan malam takbiran dengan kembang api, meriam bambu, flare dan tabuhan drum. (heibogor.com/Andi)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.