Keterlibatan Perempuan Jalani Strategi ESG Dalam Kebijakan dan Budaya

0 36

Heibogor.com – Memperingati Hari Kartini 21 April 2022 dan Hari Bumi 22 April 2022, Center for Public Relations, Outreach and Communication (CPROCOM) menyelenggarakan Climate Communication Forum (CCF) bertajuk “Emphasizing the S (Women) in The ESG Communication” Jumat (22/04/22) melalui zoom meeting.

Kegiatan webinar ini merupakan kerjasama dengan The Climate Reality Project Indonesia, PT Mitra Pajakku, dan Majalah PR Indonesia. “ESG (Environmental, Social and Governance) telah menjadi isu utama dan barometer bagi perusahaan untuk dapat bertahan sejak pandemi Covid-19.Terjadinya pandemi membuat perusahaan tidak lagi diukur hanya dari program CSR. Tetapi, strategi ESG perlu diimplementasikan dalam kebijakan dan budaya perusahaan yang bertujuan untuk pengurangan karbon dan emisi,” ujar pendiri dan CEO CPROCOM yang juga narasumber di webinar tersebut Dr. Emilia Bassar.

Emil lantas menjelaskan, CCF menjadi bagian dari upaya global untuk mengkomunikasikan secara terus menerus, masif, dan intensif melalui para narasumber dari kalangan praktisi, akademisi, pelaku bisnis, aktivis, pejabat pemerintah, dan pemuda untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan praktek, baik terkait isu perubahan iklim dan lingkungan maupun pembangunan berkelanjutan. Hal ini tidak mudah karena beragamnya interest dan tingkat pemahaman audiens akan isu perubahan iklim, dampaknya bagi kehidupan, serta solusinya yang dapat kita lakukan.

“CCF mengambil peran bagaimana mengkomunikasikan isu-isu tersebut, dengan harapan dapat menggerakkan perusahaan atau organisasi mengambil bagian dan peran dari upaya besar menjaga dan merawat bumi, khususnya dalam mendukung peran perempuan dalam mengatasi perubahan iklim,” jelas Emil.

Praktisi Sustainability, Linda Gurning, menegaskan bahwa perempuan adalah actor yang berperan besar dalam proses konservasi bumi guna mencegah krisis iklim lebih parah. “Perempuan lebih peduli dengan lingkungan hidup dan punya opini yang cukup kuat terhadap krisis iklim, terutama yang berhubungan dengan kesehatan. Hal ini wajar karena di Asia, perempuan punya fungsi domestik merawat keluarga, anak, dan orangtua. Konservasi lngkungan ini sangat memengaruhi kesehatan,” ujar Linda.

ESG dan Perempuan

ESG dan sustainability merupakan kemampuan humankind untuk dapat hidup di masa depan dengan cita-cita yang diinginkan masyarakat. ESG sendiri merupakan framework investasi yang membantu investor menilai kinerja dan risiko perusahaan. Prinsipprinsip ESG mempertimbangkan, mengukur, dan melaporkan aspek lingkungan (environmental), sosial (social), dan tata kelola (governance) bisnis perusahaan di samping mempertimbangkan keuangannya. Program ESG selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) untuk mencapai masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan. ESG tidak hanya dilihat sebagai tantangan perusahaan jika perusahaan belum siap atau karena frameworknya yang kompleks. Namun, ESG perlu dilihat sebagai peluang dalam meningkatkan ketertarikan investor untuk meningkatkan investasi, sehingga dapat menguntungkan pemangku kepentingan perusahaan.

Pakar ESG, Herry Ginanjar, mengatakan bahwa investor akan melihat bagaimana sebuah perusahaan memperlakukan perempuan sebagai wujud keberagaman dan mendukung SDGs poin 5, yaitu kesetaraan gender. “Dalam berkomunikasi dengan pemangku kepentingan, termasuk kelompok perempuan, perusahaan harus mendudukkan perempuan sebagai subyek.

Komunikasi dengan pendekatan multi-stakeholder participation akan membangun terciptanya ekosistem melalui program ESG,” ujar Herry. Emil menambahkan bahwa perusahaan atau organisasi dapat melakukan survei untuk menetapkan baseline kesadaran perempuan yang berfungsi untuk merancang program komunikasi ESG bagi perempuan. “Kita juga bisa memberikan wadah untuk dialog dan feedback perempuan terkait isuisu ESG, dan memfasilitasi kemitraan,” jelas Emil.

Linda memberikan beberapa rekomendasi terkait perempuan dan ESG, yaitu: penerapan kebijakan gender yang mencakup Gender Action Plan (GAP), pemilahan data berbasis gender untuk situasi risiko perubahan iklim, peningkatan kapasitas dan pemahaman mengenai gender bagi pembuat kebijakan, alokasi dana khusus bagi perempuan untuk mengatasi kerentanannya dalam krisis iklim, dan menerapkan mekanisme dan pendekatan proaktif kepada perempuan.

Strategi Komunikasi ESG

Untuk membangun strategi komunikasi ESG yang efektif, Emil menjelaskan, perencanaan strategi komunikasi ESG dimulai dari research dan analisis situasi dengan menggunakan PESTLE (Political, Economic, Social, Technological, Legal, Environmental) misalnya. Tahap selanjutnya adalah menentukan SMART Objectives, menyusun key messages, serta menentukan audiens, media, dan taktik komunikasi yang kreatif dan terukur. Strategi komunikasi ESG bertujuan untuk meningkatkan minat investor, komunikasi yang transparan dan empatik, serta menyampaikan metrik pengukuran ESG organisasi.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.