Komunitas Seni Jatiwangi Art Factory Fokus Rumuskan Geografis Lansekap Tanah

0 75

Heibogor.com – Jelang event Seni Documenta 15 di Konferensi New Rural Agenda di Kassel, Jerman, pada bulan Juni 2022 mendatang, Jatiwangi art Factory, sebuah komunitas seni di wilayah Majalengka, Kabupaten Majalengka, menggelar empat konferensi lokal di empat wilayah di Indonesia, yakni Kongres Para Tanah di Bogor, Konferensi Kepala Desa di Jatiwangi, Konferensi Perempuan di Poso, Sulawesi Tengah, dan Konferensi Generasi Muda di Maumere, NTT.

Di Bogor sendiri Kongres Para Tanah dilangsungkan di Museum Tanah dan Pertanian Bogor Jalan Ir H Djuanda, Kota Bogor, pada Rabu 23 Maret 2022 kemarin. Member Jatiwangi art factory, Ismal Muntaha menjelaskan, empat konferensi lokal diselenggarakan sebagai cara untuk melibatkan masyarakat lokal, pelaku budaya, dan aktivis akar rumput di dalam merumuskan agenda-agenda yang akan dibawa dan dipresentasikan di Kassel, Jerman bulan Juni nanti. Acara Kongres Para Tanah di Bogor ini sebagai kick off pelaksanaan New Rural agenda 2022.

Kongres Para Tanah di Bogor, merupakan konferensi yang mencoba mengajukan strategi kebudayaan dan bagaimana komunitas dapat menjadi bagian dari pembangunan kultural sebuah wilayah, khususnya membayangkan ruang hidup yang berkelanjutan. “Secara simbolis pembukaan Kongres Para Tanah ditandai dengan pembubuhan cap tiga jari dengan tanah  oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Bogor dan Kepala Museum Tanah dan Pertanian. Di samping itu, juga ada workshop dan pameran pemanfaatan tanah,” katanya.

Di lokasi yang sama, salah satu anggota JAF, Bunga menjelaskan, pihaknya ingin menyuarakan bagaimana tanah itu tidak selalu dieksploitasi untuk melayani manusia. Tapi tanah ini juga perlu dikelola, dipelihara karena menjadi yang terdekat dalam kehidupan. Lewat konferensi ini, pihaknya mencoba mengajukan strategi kebudayaan dan bagaimana komunitas dapat menjadi bagian dari pembangunan kultural sebuah wilayah, khususnya membangun ruang hidup yang berkelanjutan.

Lebih lanjut ia menerangkan, konferensi tersebut dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa gelombang perubahan yang disebabkan oleh pembangunan telah menimbulkan banyak sekali proses transformasi, tidak hanya lansekap geografis dan kepadatan penduduknya yang terus melonjak, tapi lansekap budaya dan sosial, atau politik juga turut berubah.

Di sisi lain, kemampuan masyarakat yang berbasis di pedesaan untuk mengolah sumber daya lokal yang dekat dan tersedia, terbukti dapat menjadi modal kultural yang efektif di dalam menghadapi persoalan-persoalan di lingkungannya. Dengan demikian, wilayah perdesaan menjadi fokus yang masuk akal untuk membicarakan keselamatan dan masa depan bersama.

“Bentuk yang digunakan di dalam konferensi ini adalah pernyataan artistik dan performatif dengan pelibatan rasa. Hal ini penting untuk menguji coba model lain dari konferensi tingkat tinggi yang pernah ada, yang biasanya fokus pada argumentasi berbasis logika elit yang eksklusif. Pendekatan artistik dipilih sebagai medium yang inklusif bagi berbagai macam pihak, termasuk aspek non-human untuk berpartisipasi. Tidak hanya argumentasi berbasis komunikasi verbal, konferensi ini akan banyak melibatkan panca indera sebagai cara berkomunikasi seluruh peserta,” paparnya.

Sementara, Kepala Museum Tanah dan Pertanian (Mustani), Rima Setiani menyampaikan, Kongres Para Tanah ini seperti gayung bersambut dari keinginan museum tanah untuk mengadakan event tentang tanah. Sehingga masyarakat bisa mengetahui asal berbagai jenis tanah di Indonesia bahkan di dunia. “Jadi, melalui Kongres Para Tanah ini, Museum Tanah dan Pertanian ingin menyebarkan informasi kepada masyarakat bahwa di sini tidak hanya memamerkan koleksi yang dipunyai saja  tetapi juga cara pandang masyarakat terhadap tanah,” pesannya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.