Kie Lin, Makhluk Mitologi Kepercayaan Leluhur Tionghoa Pertahankan Warisan Budaya

Tradisi Ritual jelang dan Usai Cap Go Meh

0 518

Heibogor.com – Beragam tradisi budaya etnis Tionghoa yang dilakukan menjelang hingga pasca tahun baru Imlek dan Cap Go Meh. Dari sejumlah tradisi itu, ada pula ritual-ritual yang dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan sekaligus merawat dan mempertahankan warisan budaya dari para leluhur mereka yang sudah berjalan selama ratusan tahun. Salah satunya adalah ritual memandikan Kie Lin.

Ritual Kie Lin

Ritual pertama Kie Lin dimulai seminggu atau 10 hari sebelum tahun baru Imlek. Ritual ini, bernama Dji Si Siang Ang yang dilakukan dengan maksud memberikan laporan kepada dewa dewi bahwa Kie Lin sudah siap untuk melaksanakan ritual lainnya sampai hari puncak Cap Go Meh.

Kemudian, ritual berikutnya dilakukan di hari ke-8 setelah tahun baru Imlek. Ritual ini biasa disebut memandikan Kie Lin atau Kie Lin Ce Kau (menerima berkat). Ritual diawali dengan doa-doa di rumah perguruan silat PGB Bangau Putih di Gang Aut Jalan Gardu Tinggi, Sukasari. Selain sebagai tempat latihan silat, rumah tersebut juga digunakan untuk latihan grup Kie Lin, latihan kesehatan, meditasi, dan pengobatan.

Setelah ritual doa, selanjutnya grup Kie Lin bergeser ke wilayah Pulo Geulis, untuk pengambilan air pemandian. Prosesi pemandian Kie Lin menggunakan air sungai Ciliwung yang diambil dari samping rumah almarhum Suhu Subur Rahardja, pendiri perguruan silat PGB Bangau Putih, yang terletak di pinggir sungai kawasan Pulo Geulis, Kelurahan Babakan Pasar. Ritual dipimpin oleh Gunawan Rahardja, pimpinan PGB Bangau Putih yang merupakan putra dari Suhu Subur Rahardja.

Ia membakar dupa, membacakan doa dan memerciki Kie Lin dengan air. Setelah dimandikan Kie Lin dibawa ke vihara Phan Ko Bio dan Dhanagun untuk mengambil Hu (semacam surat jalan atau izin) bahwa Kie Lin telah menerima berkat dan mendapat surat jalan untuk melakukan perannya dalam perayaan Cap Go Meh.

Satu hari sebelum Cap Go Meh atau hari ke-14, ada ritual Kie Lin Cap Si, yakni Kie Lin mengawal dewa Phan Ko dari vihara Phan Ko Bio ke vihara Dhanagun untuk besok harinya mengikuti arak-arakan ke luar. Dalam penyelenggaraan Cap Go Meh (15 hari setelah perayaan tahun baru Imlek) di Bogor, Kie Lin dipercaya mengawal rupang KongCo Ho Tek Ceng Sin, sekaligus menjadi pembuka kirab liong barong dan kesenian Bogor. Di masyarakat Bogor, Kie Lin dianggap sebagai tuan rumah pada acara perayaan kirab Cap Go Meh yang diadakan oleh Yayasan Vihara Dhanagun.

Tentang Kie Lin

Satu-satunya Kie Lin di seluruh Indonesia, hanya ada di Kota Bogor. Dihidupkan dan dilestarikan oleh Perguruan Silat Persatuan Gerak Badan (PGB) Bangau Putih. Hadirnya Kie Lin sebagai kebudayaan unik yang berhasil dipertahankan hingga saat ini, dihadirkan oleh seorang tokoh leluhur yang begitu lekat dengan kehidupan sosial masyarakat di Bogor. Ia adalah Suhu Subur Rahardja, pendiri perguruan silat PGB Bangau Putih.

Dikisahkan dalam legenda Tionghoa, ada empat hewan mitologi yang dipercaya yaitu Naga, Kie Lin, Kura-kura, dan burung Phoenix. Kie Lin yang dipercaya sebagai tunggangan para dewa dipilih oleh Suhu Subur Rahardja sebagai bagian dari kebudayaan dan menjadi satu kesatuan di perguruan silat PGB Bangau Putih.

Diceritakan bahwa, Kie Lin ini terdiri dari 18 hewan bumi yang ada di laut, darat dan udara. 18 hewan itu tergabung menjadi satu dalam rupa Kie Lin. Seperti di antaranya tanduk kepala Kie Lin adalah tanduk rusa, matanya mata kepiting, mulutnya mulut katak, jenggotnya jenggot singa, punggungnya punggung kelabang, sisiknya sisik ikan dan ular. Kemudian kempat kakinya pun berbeda antara kaki depan dan belakang serta kaki kanan dan kirinya. Demikian juga dengan ekornya. Itu semua bentuk Kie Lin yang tergabung dari 18 jenis hewan.

Ketua pengurus grup Kie Lin, Manu Wijaya menjelaskan, Kie Lin pertama kali dibuat pada awal tahun 1950 di Bogor. Pertama kali dimainkan tahun 1954. Di era zaman orde baru, Kie Lin sempat vakum hingga berkali-kali dipindahkan agar Kie Lin bisa bertahan. Kemudian di tahun 2000 untuk pertama kalinya pertunjukkan Kie Lin dimainkan kembali pada perayaan Cap Go Meh. Masyarakat pun sangat antusias dengan kemunculan Kie Lin yang kembali diakui dan boleh dipraktikkan.

“Saat ini, perguruan silat PGB Bangau Putih memiliki dua Kie Lin. Kie Lin Hijau (penjaga langit) dan Kie Lin Merah (penjaga bumi). Kie Lin Hijau biasa keluar untuk acara-acara budaya. Sedangkan Kie Lin Merah biasa keluar untuk acara-acara khusus,” terangnya, Selasa (8/2/22).

Manu mengungkapkan, yang bisa memainkan Kie Lin ini hanya pesilat yang sudah berlatih minimal dua tahun. Selain itu, pesilat juga harus mempunyai ketahanan fisik yang kuat dan bisa bekerjasama dengan tim. Tidak semua pesilat bisa bermain Kie Lin. Jadi, bisa dibilang yang memainkan Kie Lin ini adalah orang-orang pilihan.

“Tarian dan musik Kie Lin dapat dikatakan sangat langka dan khas serta tidak ada perguruan silat atau perkumpulan kesenian barong yang memiliki Kie Lin sebagai barongnya. Kie Lin dan kemahiran silat merupakan satu kesatuan yang utuh. Oleh sebab itu, syarat pemain Kie Lin harus melatih silatnya di perguruan PGB Bangau Putih. Karena pemeliharaan budaya Kie Lin merupakan kesatuan mutlak dengan pelatihan silat itu sendiri,” jelasnya.

Ia memaparkan, bahwa Kie Lin berbeda dengan barongsai. Barongsai sekarang ini lebih banyak untuk acara hiburan dan sudah menjadi cabang olahraga. Sedangkan Kie Lin penampilannya lebih ke acara ritual keagamaan dan kebudayaan. Mungkin kalau dari kasta, Kie Lin ini adalah kasta tertinggi dan setara sama liong (naga).

“Untuk memainkannya pun tidak bisa sembarangan. Kalau kepala Kie Lin sampai jatuh menyentuh lantai itu sudah ga boleh lagi main, harus langsung ditutup matanya, dibawa pulang dan dibakar. Dari itu, untuk mempersiapkan diri dan melatih kekompakan dan gerakan, kita rutin berlatih satu sampai dua kali dalam seminggu sejak satu bulan lalu,” bebernya.

Manu meneruskan, di seluruh Indonesia, Kie Lin hanya ada di Kota Bogor, yang dilestarikan oleh perguruan silat PGB Bangau Putih. Perguruan silat PGB Bangau Putih sendiri sudah memiliki banyak cabang di Bogor, di kota-kota besar hingga di mancanegara.

“Di kota-kota besar ada Yogyakarta, Jakarta, Sumatera, Bali. Kalau di luar negeri ada di Amerika, Arab Saudi, Austria, Jerman, Spanyol, Perancis, Italia, serta Inggris. Setiap dua tahun sekali perguruan silat PGB Bangau Putih mengadakan latihan gabungan nasional dan latihan gabungan internasional (retret) untuk menggiatkan kembali perguruan,” pungkasnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.