Dari Kota Batik hingga Musik Indonesia Punya Kota Kreatif yang Inovatif

0 116

Heibogor.com – Empat kota di Indonesia dinobatkan sebagai Kota Kreatif oleh UNESCO melalui program UNESCO Creative Cities Network (UCCN) yang dihelat akhir pekan kemarin di Provinsi Riau.

Konferensi yang dipandu oleh Galih Sedayu ini berhasil menghadirkan keempat kota tersebut, yakni Pekalongan sebagai Kota Kerajinan dan Seni Rakyat (Batik), Bandung sebagai Kota Desain, Ambon sebagai Kota Musik dan Jakarta sebagai Kota Literasi.

Focal Point of Pekalongan as a City of Folks and Craft, Arief Wicaksono menjelaskan, bahwa batik sangat dekat dengan masyarakat Pekalongan. Sejak lahir hingga tutup usia, masyarakat Pekalongan sudah menggunakan Batik. Pada tahun 2003 dan 2005 Pekalongan juga sudah mengadakan Festival Batik.

Lalu, lagu Slank yang berisi Kota Batik di Pekalongan, bukan Jogja Solo juga menjadi salah satu dorongan warga Pekalongan untuk mendedikasikan batik. Kemudian, pada 2009 Batik dinyatakan sebagai Warisan Tak Benda dari Unesco setelah diusulkan oleh Pekalongan. Selain memiliki kekuatan kolaborasi Pentahelix, Pekalongan juga memiliki kampus yang memiliki jurusan Teknik Batik.

Pekalongan Creative Cites Forum adalah wadah komunitas, stakeholder dan pelaku Batik. Adapun Rantai Proses Batik melalui proses Kreasi, Produksi (didukung Perda ttg Keersediaan Kain Batik), Distribusi, Konsumsi, konservasi. Untuk terus membumikan Batik, Pekalongan juga memiliki kegiatan Hari Jadi Kota Pekalongan dan Hari Batik. Pemerintah juga mendukung kemajuan Batik dengan menelurkan Perda 2013 tentang ketersediaan bahan Batik dan kebijakan menggunakan batik pada hari-hari yang ditentukan.

Lalu, Focal Point Bandung as a City of Design, Tita Larasati menyampaikan bahwa proses Bandung masuk ke dalam UCCN itu menjadi pelajaran yang paling berarti karena jadi belajar tentang pendataan, penggalian potensi dan administrasi yang ketat.

Apalagi semua proses tersebut tidak menggunakan APBD. Design dipilih karena melalui proses panjang, dari pendataan, FGD dll. Kota yang sudah dapat predikat Kota Design biasanya memiliki infrastruktur yang baik sehingga pendatang tidak akan nyasar ketika datang ke kota-kota itu seperti Kota Desain di Jepang, Eropa Barat dan lain-lain.

Design digunakan oleh warga Bandung untuk cara berpikir dan menggali solusi. Design juga digunakan sebagai jembatan antara masyarakat dengan pemerintah melalui Design Thinking. Prototype juga dibuat untuk membuat inovasi. Design juga dibuat untuk membangun ruang publik dan pertemuan warga. Selanjutnya, Bandung akan menjaga penobatan tersebut dengan berbagai aktivitas seperti kegiatan Bandung Biennale dan mengawal pelaksanaan Perda.

Sementara, Focal Point Ambon as a City of Music, Ronny Lopies menyatakan bahwa 90 persen orang Ambon itu bisa bernyanyi. Ambon hanya satu kali mencoba daftar UCCN dan langsung bisa meraih. “Kenapa kami bisa meraih? Karena kami membangun jejaring untuk menggali potensi. Di Ambon, Kami dari janin sampai meninggal itu dekat dengan musik. Orang sudah meninggal lama, musik masih dimainkan,” katanya.

Selanjutnya, Ambon akan bangun pariwisata musik dan kota hutan. Saat ini, Ambon ada 10 daerah wisata music dan hutan dirawat untuk mendukung bahan-bahan dalam membuat alat musik. Dan, yang paling hangat, dari Jakarta Focal Point Jakarta as a City of Literacy, Laura Prinslo menjelaskan bahwa pencapaian tersebut adalah momentum yang dibangun sejak 2015 karena Jakarta pernah menjadi tuan rumah book fair dan ada Komite Buku Nasional. “Tujuan utama kami adalah menjadikan Jakarta sebagai Kota Ramah Buku. Menariknya, Jakarta menjadi kota pertama Literacy City pertama di Asia,” jelasnya (**).

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.