Anggota DPRD Minta Dinkes Atasi Polemik Kasus Kematian Usai Divaksin, Bantuan Warga Pinggir Wilayah Jangan Terabaikan

Program Vaksinasi Wajib Jemput Bola

0 126

Heibogor.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor saat ini terus menargetkan sebagai kota vaksinasi. Hal tersebut terungkap dalam rapat Forkopimda yang digelar di Taman Ekspresi, Jumat (13/8/21).

Untuk mendukung target tersebut, Anggota DPRD Kota Bogor, Endah Purwanti pun meminta jajaran punggawa Bima Arya-Dedie A. Rachim untuk menjemput bola dengan mendekatkan sentra vaksinasi di wilayah.

“Program vaksinasi ini bisa didekatkan ke wilayah. Seperti yang saya sarankan dari pekan lalu, bagaimana proses pendataan di RW dan menyasar wilayah pinggiran. Seperti pinggiran Bogor Utara beberapa wilayah di Bogor Selatan harapannya bisa dioptimalkan dengan layanan ke wilayah seperti halnya imunisasi,” ujar Endah dalam rapat Forkopimda.

Sedangkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, Endah menyarankan agar masyarakat yang mengikuti program vaksinasi diberikan penghargaan berupa beras atau sembako yang bisa dikerjasamakan dengan bank beras milik Kodim 0606/ Kota Bogor.

“TNI saat ini memiliki 250 ton beras yang bisa disalurkan kepada warga yang ada di pinggiran Kota Bogor yang ingin mengikuti vaksinasi dan ini bisa merangsang keinginan warga untuk mengikuti vaksinasi,” lanjut Endah.

Lalu terkait adanya temuan kasus kematian pasca vaksinasi, Endah meminta kepada Dinkes agar observasi lebih lanjut. Sebab, dari kasus yang ditemukan oleh Endah, di mana seorang anak berusia 14 tahun meninggal dunia setelah divaksin dan mengalami demam selama 3 hari berturut-turut.

“Ini tolong di perhatikan lagi untuk diobservasi. Karena ketika keluarga sudah komunikasi ke puskesmas, puskesmas hanya menjawab itu reaksi biasa. Harapannya ada respon yang cepat di puskesmas. Paling tidak diberikan obat atau edukasi,” tegas Endah.

Terakhir, Endah juga meminta agar Pemkot lebih memerhatikan angka kematian. Sebab, saat ini tingkat angkat kematian akibat isoman menurut Endah cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya edukasi masyarakat terkait varian delta.

Endah pun menjelaskan bahwa gejala yang disebabkan oleh varian delta ini jelas akan nampak pada hari kelima dan harus mendapatkan langsung penanganan dari rumah sakit karena menurunnya kadar oksigen dalam darah.

“Saya berpikir bagaimana kalau perluasan RSUD dijadikan tempat medical check up cepat. Sehingga orang yang isoman bisa di assessment dengan data akurat dan mendapatkan perawatan. Kita lihat kan rata-rata setelah lima hari akan ada gejala dan setelah diperiksa paru-parunya sudah memutih. Inikan terlambat ya. Nah ini harapannya ada program medical check up drive thru atau seperti apa. Sehingga bisa menekan angka kematian,” pungkasnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.