Kakek Punya Hutang Rp15 Juta Rentenir Bawa Paksa Cucu Berusia 5 Tahun Jadi Jaminan

0 116

Heibogor.com – Seorang anak berusia lima tahun berinisial MR berhasil kembali ke pelukan kakek dan neneknya setelah kurang lebih 20 hari dibawa oleh Nurhalimah untuk dijadikan jaminan pembayaran hutang.

Kasus ini, berhasil diusut Satreskrim Polresta Bogor Kota dan menetapkan Nurhalimah sebagai tersangka atas kasus pengambil alih penguasaan atas anak di bawah umur secara melawan hukum. Dalam jumpa pers yang digelar di Mako Polresta Bogor Kota, Jalan Kapten Muslihat, Kota Bogor,  Senin (9/8/21), Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro menyampaikan, bahwa motif dari kasus ini adalah hutang piutang.

Kejadian ini, sempat viral di jejaring media sosial yang menyebutkan ada seorang cucu dijadikan jaminan hutang oleh neneknya di wilayah Bogor Barat. Kabar itu tidak benar. Faktanya, anak tersebut dibawa paksa oleh pemberi hutang. Bukan dijadikan jaminan oleh neneknya. Susatyo menjelaskan, ini berawal dari adanya hutang kepada Nurhalimah sebesar Rp15 juta yang pinjam Yanto dan Mardiyah yang tak lain adalah kakek dan nenek dari MR.

Pada 16 Juli 2021, Nurhalimah datang ke kontrakan Yanto, di daerah Bubulak, dengan maksud menagih hutang. Karena Yanto dan Mardiyah tidak bisa melunasi hutang, Nurhalimah lalu membawa MR cucu dari Yanto dan Mardiyah yang masih di bawah umur. Sejak dari itu, Yanto dan Mardiyah tidak bisa bertemu dengan MR. Bahkan, saat Yanto dan Mardiyah ingin bertemu atau menelpon cucunya pun tetap tidak bisa.

“Jadi, Pak Yanto dan Ibu Mardiyah ini tidak ketemu cucunya dari 16 Juli hingga 6 Agustus 2021. Pak Yanto yang melaporkan kasus ini ke Polresta Bogor Kota lantaran tertekan dan terdesak apalagi cucunya atas nama MR telah diambil dari penguasaanya oleh terlapor yaitu Nurhalimah,” terang Susatyo.

Susatyo menuturkan, dari keterangan Nurhalimah kepada polisi, penyebab ia membawa MR karena Yanto dan Mardiah memiliki hutang kepadanya dengan total mencapai Rp15 juta. Yanto pun berpindah pindah rumah dan sulit ditemui. Maka dari itu, Nurhalimah membawa MR sebagai jaminan. “Tidak ada dugaan tindak kekerasan pada MR. Anak tersebut sehat dan terawat,” kata Susatyo.

Susatyo menambahkan, polisi fokus menangani dugaan pengambil alihan anak di bawah umur yang dilakukan Nurhalimah. Apapun alasannya Nurhalimah telah bertindak melawan hukum. Menindak lanjuti laporan Yanto dan Mardiyah Polresta Bogor Kota melalui unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) mencari keberadaan MR ke kediaman Nurhalimah. Di situ polisi yang mendapati MR langsung menyerahkan kepada pihak keluarga yakni kakek dan neneknya.

Setelah itu, kata Susatyo, pihaknya berkoordinasi dengan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Bogor dalam rangka pemeriksaan sekaligus pemulihan psikis MR.

“Hari Minggu 8 Agustus kami melakukan pemeriksaan terhadap lima orang saksi sekaligus. Kemudian, pihaknya juga melakukan pemeriksaan terhadap Nurhalimah. Pada hari Senin sore kami tetapkan Nurhalimah sebagai tersangka dengan persangkaan Pasal 88 Undang-undang perlindungan anak dan Pasal 330 KHU pidana tentang pengambil alih penguasaan atas anak di bawah umur secara melawan hukum,” jelasnya.

Sementara, Koordinator P2TP2A Iit Rahmatin menuturkan, P2TP2A berkomitmen untuk melakukan pemulihan psikologis terhadap MR. “Kami juga akan memberikan proses perlindungan untuk para korban yaitu pak Yanto, ibu Mardiyah dan MR,” tegasnya.

Di tempat yang sama, nenek MR, Mardiyah mengucapkan terima kasih kepada pihak kepolisian dan P2TP2A yang telah membantu dirinya mengembalikan cucunya MR. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Polresta Bogor Kota yang sudah membantu saya sampai cucu saya kembali kepada saya,” singkatnya. Usai konferensi pers, sebagai bentuk kepedulian, Kapolresta Bogor Kota memberikan beasiswa pendidikan untuk MR.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.