Penjualan Hewan Kurban di Masa PPKM Anjlok

Panitian Hewan Kurban Wajib Terapkan Prokes Ketat

0 54

Heibogor.com – Rumah Potong Hewan (RPH) di wilayah Bubulak, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor akan melibatkan pengawasan dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Bogor serta dokter hewan untuk memeriksa kesehatan hewan kurban hingga melakukan penyembelihan hewan kurban sesuai ketentuan dan syariat Islam.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) RPH Bubulak, Didong Suherdi mengatakan, karena pelaksanaan Idul Adha 1442 H pada 20 Juli 2021 mendatang masih dalam suasana pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat, maka penyembelihan hewan kurban dan pembagiannya dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan.

Ia menjelaskan, kapasitas sehari RPH Bubulak bisa memotong 200 ekor sapi. Keuntungan memotong di RPH adalah terjamin aman, sehat, utuh dan halal (asuh).

“Sapinya dicek oleh dokter, setelah dipotong pun dicek lagi post mortemnya dagingnya sehat atau tidak. Kemudian memotong sesuai syariat Islam, waktu pemotongannya lebih cepat hanya 30 menit,” jelas Didong.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bogor, Anas S Rasmana mengatakan, meski tidak akan semua bisa tertampung di RPH, minimal bisa mengurangi titik-titik yang biasanya memotong secara langsung. Dalam hal keterbatasan kapasitas RPH, pemotongan hewan kurban dapat dilakukan di luar RPH tapi dengan ketentuan dan protokol kesehatan yang ketat.

Anas juga memprediksi bahwa penjualan hewan kurban tahun ini menurun. “Laporan dari para pedagang yang kita temui sampai dengan H-7 itu mereka menurun sampai 30 persen. Contoh sapi itu baru terjual 2.500 transaksi. Estimasi kita sampai tanggal 20 Juli itu akan terjual 4.500 sapi, tahun lalu 5.200 ekor. Kalau kambing/domba tahun lalu terjual 8.000 ekor, tahun ini diperkirakan hanya 6.000 ekor. Sampai H-7 kemarin kambing baru terjual 4.000 ekor,” beber Anas.

Sementara itu, Ketua DMI Kota Bogor, Ustaz Ade Sarmili mengimbau kepada panitia kurban untuk bisa memahami kondisi pandemi ini dengan menyiapkan kebutuhan sesuai protokol kesehatan.

“Keterserapan sapi untuk disembelih di RPH itu per hari 200 ekor dikalikan empat hari jadi 800 ekor. Praktis, ada sekitar 3.000 ekor hewan kurban tersebar di masyarakat. Ini harus kita tangani ekstra,” ujarnya.

Kesiapan panitia di wilayah, kata dia, bagaimana kesiapan aparatur untuk mengawasi supaya tidak menjadi klaster penyebaran Covid-19 di masyarakat ketika berkurban.  “Tapi kita tidak berharap itu terjadi. Mudah-mudahan lewat edaran wali kota itu kemudian terbaca, kira-kira perangkat apa yang harus dipersiapkan ketika kurban itu harus masjid, musala, dll. Karena di sini tidak tercukupi,” tambah dia.

Ade Sarmili berharap kepada pemerintah agar menyiapkan juga fasilitas antigen untuk panitia kurban di wilayah. “DKM harus membatasi panitia yang bertugas dan mengimbau warga agar tidak berkerumun ke area penyembelihan. Harus ada protokol kesehatan yang kita pahami bersama dengan para DKM agar kegiatan ini tidak menimbulkan masalah baru,” tegasnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.