Kurban Idul Adha di Masa PPKM Diimbau Disembelih di Rumah Potong Hewan

0 59

Heibogor.com – Jelang Idul Adha 1442 H yang jatuh pada Selasa (20/7/21) mendatang, Wali Kota Bogor, Bima Arya meninjau kesiapan Rumah Potong Hewan (RPH) di wilayah Bubulak, Kecamatan Bogor Barat, didampingi Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bogor, Anas S Rasmana, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Bogor, Ustaz Ade Sarmili, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bogor, H. Ramlan Rustandi, dan Kepala UPTD RPH Bubulak, Didong Suherdi.

Dikatakan Bima Arya, pelaksanaan Idul Adha tahun ini yang masih dalam pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat, pelaksanaannya menyesuaikan, demikian pula tentang penyembelihan hewan kurbannya diatur.

“Diimbau kepada masyarakat agar penyembelihan hewan kurban dan pembagiannya selain sesuai ketentuan dan syariat Islam juga harus menerapkan protokol kesehatan semaksimal mungkin. Bisa juga penyembelihan dilakukan di RPH,” kata Bima Arya.

Bima menyebut bahwa secara teknis RPH Bubulak siap melakukan penyembelihan hewan kurban. “Saya tadi cek secara teknis seperti apa. Saya pastikan di sini petugasnya siap, prokesnya juga siap. Estimasi kapasitasnya sampai berapa, sehingga kita bisa memperkirakan agar warga mendapatkan kepastian. Jangan sampai warga diarahkan ke sini, tapi di sini tidak siap. Saya minta koordinasi yang rapi saja,” ujar Bima.

Pelaksanaan kurban juga akan melibatkan pengawasan dari DMI Kota Bogor serta dokter hewan untuk memeriksa kesehatan hewan kurban.

“Kapasitas sehari bisa memotong 200 ekor sapi. Pasti tidak akan semua bisa tertampung di RPH, minimal bisa mengurangi titik-titik yang biasanya memotong secara langsung. Dalam hal keterbatasan kapasitas RPH, pemotongan hewan kurban dapat dilakukan di luar RPH tapi dengan ketentuan dan protokol kesehatan yang ketat,” terang Bima.

Sementara itu, Ketua DMI Kota Bogor Ustaz Ade Sarmili mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Kota Bogor karena telah memperhatikan kesehatan umatnya, terutama dalam momen berkurban nanti.

“Kurban itu kan masalah pribadi, tapi kemudian menjadi masalah umum karena dagingnya dibagikan kepada masyarakat luas maka harus dipastikan kesehatan dan higienisnya. Tapi yang tak kalah penting lagi adalah harus syar’i. Ketika kami melihat prosesnya di RPH Bubulak, kami melihat ini sesuai dengan syariat Islam, mulai dari cara penyembelihannya, kemudian proses-proses lainnya,” kata Ade.

Ade juga mengimbau kepada panitia kurban untuk bisa memahami kondisi pandemi ini dengan menyiapkan kebutuhan sesuai protokol kesehatan.

“Bagaimana kesiapan panitia di wilayah, bagaimana kesiapan aparatur untuk mengawasi supaya tidak menjadi klaster penyebaran Covid-19 di masyarakat ketika berkurban. Tapi kita tidak berharap itu terjadi. Mudah-mudahan lewat edaran wali kota itu kemudian terbaca, kira-kira perangkat apa yang harus dipersiapkan ketika kurban itu harus masjid, musala, dll,” tambah dia.

Ade Sarmili berharap kepada pemerintah agar menyiapkan juga fasilitas antigen untuk panitia kurban di wilayah. “DKM harus membatasi panitia yang bertugas dan mengimbau warga agar tidak berkerumun ke area penyembelihan. Harus ada protokol kesehatan yang kita pahami bersama dengan para DKM agar kegiatan ini tidak menimbulkan masalah baru,” tegasnya.

Seperti diketahui, Kementerian Agama menegaskan bahwa kegiatan malam takbiran di masjid/mushalla maupun takbir keliling ditiadakan di seluruh kabupaten/kota yang diterapkan PPKM Darurat.

Begitu juga dengan Salat Idul Adha di daerah yang diterapkan PPKM Darurat, ditiadakan. Semua kegiatan peribadatan selama pemberlakuan kebijakan PPKM Darurat, dilakukan di rumah masing-masing.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.