Ketersediaan Oksigen dan Tenaga Kesehatan Tak Seimbang dengan Tingginya Kasus Positif COVID-19

0 151

Heibogor.com – Ketersediaan oksigen untuk kebutuhan medis di rumah sakit di Kota Bogor tak seimbang karena pemakaian oksigen untuk pasien COVID-19 yang terus meningkat disebabkan karena melonjaknya kasus positif dalam beberapa minggu terakhir ini.

Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 Kota Bogor kemudian bergerak cepat dengan melakukan koordinasi kepada Kementerian Kesehatan dan Kementerian BUMN. Hasilnya, Kota Bogor mendapatkan bantuan 100 tabung oksigen berukuran 6 meter kubik untuk kebutuhan di rumah sakit.

Bantuan oksigen medis tersebut tiba di Posko Logistik PPKM Darurat, Jalan Sudirman, Bogor Tengah, Kota Bogor pada Senin (5/7/21) sekitar jam 23.30 WIB. Di mana tabung-tabung tersebut telah dilakukan isi ulang oksigen oleh PT Krakatau Steel di Cilegon, Banten.

“Stok di lapangan menipis, supplyer banyak yang tidak mampu lagi memasok. Kami data berapa RS yang memerlukan pasokan tambahan oksigen. Karena itu kami bergerak cepat, akhirnya bisa dibantu oleh Pak Menkes dan Pak Menteri BUMN,” ungkap Bima Arya saat memantau pendistribusian oksigen, Senin (5/7/21) malam.

“Jadi, Krakatau Steel siap untuk memberikan bantuan 100 tabung besar oksigen. Kami kirim truk ke sana dari Satpol PP dibantu BPBD, kemudian didistribusikan ke beberapa RS yang memang sudah habis stok oksigennya,” jelasnya.

Pada malam tersebut, Bima Arya memonitor penyaluran oksigen untuk tiga rumah sakit, yakni RS Azra (16 tabung), RS Hermina (5 tabung) dan RS Medika Dramaga (20 tabung). “Hari ini ada beberapa RS lagi termasuk Rumah Sakit Lapangan, Pusat Isolasi Asrama IPB dan RS lainnya yang membutuhkan,” kata Bima.

Setiap harinya, kata Bima, Satgas COVID-19 Kota Bogor mengusahakan selalu mengambil pasokan baru oksigen di Krakatau Steel. “Stok yang baru datang ini bisa bertahan beberapa hari ke depan. Tapi tadi berdasarkan rakor dengan Pak Menko Luhut, disampaikan bahwa diperkirakan tiga hari ke depan distribusi oksigen harusnya bisa kembali normal. Tapi kita tetap mengantisipasi. Setiap hari akan kita coba memaksimalkan tambahan oksigen ini ke RS-RS,” terangnya.

Selain oksigen Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim mengungkapkan, kondisi darurat COVID-19 saat ini membuat Kota Bogor masih membutuhkan tenaga kesehatan (nakes). “Jadi, saat ini yang kita hadapi bukan hanya masalah oksigen, tapi juga masalah nakes. Ini tantangan kita bagaimana kita bisa mendapat nakes,” kata Dedie saat meninjau aktivasi dua tempat isolasi pasien di Asrama 5A IPB University Dramaga dan Rumah Sakit (RS) Perluasan di GOR Pajajaran, Senin (5/7/21).

Dedie menegaskan, saat ini kelengkapan peralatan nakes sudah memadai. Hanya saja tadi, justru sumber daya manusia (SDM) nakesnya yang belum tercukupi. Menurut Dedie, para nakes yang ada saat ini terbagi – bagi tugas.

“Sekarang SDM-nya langka karena kebutuhan – kebutuhannya di mana – mana. Antara lain ada yang menjadi swaber, vaksinator, ditambah kebutuhan – kebutuhan rumah sakit tidak hanya di Bogor tapi seluruh RS di Indonesia,” sambungnya. Menurut Dedie, saat ini Kota Bogor membutuhkan lebih dari 200 orang nakes. Hingga saat ini, mungkin yang baru tercapai hanya sekitar 20 orang saja. Namun, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor diakui Dedie terus mencari sumber – sumber nakes yang kompeten.

“Kalau 200 itu yang untuk kebutuhan isolasi, sementara kebutuhan di RSUD juga tinggi. Semua sama masalahnya, SDM-nya. Aktivasi RSUD dua (RS Perluasan) saja mungkin butuh berapa puluh lagi, itu juga belum terpenuhi,” sambung Dedie.

Ikut mendampingi Dedie, Direktur Utama (Dirut) RSUD Kota Bogor, Ilham Chaidir menambahkan, nakes yang ada saat ini diyakininya masih memiliki moril yang tinggi. Ilham juga menyatakan para nakes masih siap berjuang untuk pelayanan COVID-19. “Hanya memang ini jumlah kecepatan kapasitas penambahan pasien dibandingkan dengan penambahan SDM dan ruangan tidak sebanding. Jadi masih banyak yang positif baru, terutama dari isoman,” jelas Ilham.

Kondisi ini, kata dia memang belum ideal. Seharusnya, satu perawat menangani enam pasien. Apalagi, penanganan pasien COVID-19 lebih berat karena harus menggunakan baju hazmat dengan alat pelindung diri (APD) lengkap. Saat ini, satu perawat melakukan penanganan untuk 15 pasien. Selain itu, kata Ilham, memang kondisi seperti saat ini mengharuskan RSUD meningkatkan kapasitas.

“Kalau SDM kita naikkan dengan kontingensi. Jadi yang rawat inap kita kurangi. Mau tidak mau sekarang hanya tersisa 56 (nakes) untuk rawat umum non-COVID-19. Nanti kita target menjadi 341 nakes untuk COVID-19. Sekarang bertahap dulu,” beber Ilham.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.