Pulihnya Sektor Pariwisata Setelah Pandemi Covid-19

0 117

Satu setengah tahun berlalu dunia ini dilanda pandemi virus Covid-19 yang ditemui di China pada November 2019 lalu. Pandemi virus ini membuat semua orang yang ada di dunia khawatir terkena virus yang penyebarannya sangat mudah dan cepat ini. Mulai dari Maret 2020, pemerintah Indonesia merancang program untuk membatasi kegiatan masyarakat agar terputusnya rantai penyebaran virus tersebut, yaitu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Penerapan PSBB menyebabkan masyarakat melakukan aktivitasnya dari rumah secara daring, mulai dari bekerja, membeli makanan, hingga menghibur diri sehingga banyak industri pariwisata yang terpaksa tutup sementara karena minimnya kegiatan operasional yang berjalan. Para tenaga kerja yang bekerja di sektor pariwisata juga terkena imbasnya, tidak sedikit dari mereka yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Akibat dari minimnya kegiatan operasional dan tidak adanya pemasukan untuk membayar karyawan dan biaya operasional lainnya, tidak sedikit juga pariwisata yang gulung tikar. Hal tersebut menyebabkan turunnya pertumbuhan ekonomi daerah bahkan negara. Sebelum Indonesia dilanda pandemi Covid-19, perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah sebesar 5,3 persen. Akan tetapi, dikarenakan adanya pandemi Covid-19, ekonomi Indonesia mengalami penurunan hingga 2,07 persen (bps.go.id). Pada kenyataannya, pariwisata merupakan sektor prioritas pemerintah karena mampu menjadi penggerak perekonomian bangsa dan salah satu penyumbang devisa nasional terbesar ketiga di Indonesia.

Tak dapat dipungkiri bahwa memilih untuk tetap tinggal di rumah menjadi pilihan terbaik bila sekalipun banyak orang yang ingin travelling, karena saat ini kesehatan diri menjadi prioritas utama. Hal ini jelas berdampak pada penurunan sektor pariwisata Indonesia yang menjadi sepi pengunjung.

Maka dengan itu, satu-satunya jalan demi bertahannya sektor pariwisata Indonesia yaitu dengan mengubah strategi pemasarannya. Menurut Kotler dan Keller dalam bukunya yang berjudul Manajemen Pemasaran edisi 13, manajemen pemasaran dianggap sebagai seni dan ilmu memilih target pasar, meraih, mempertahankan, serta menumbuhkan pelanggan dengan menciptakan, menghantarkan, dan mengkomunikasikan nilai pelanggan yang umum. Dengan menjalani 4 klasifikasi dari gabungan strategi pemasaran menurut Kotler dan Keller dalam strategi pemasaran pariwisata Indonesia, di antaranya yaitu :

  1. Produk; solusinya yaitu dengan mengkombinasikan dan meningkatkan keunggulan jasa pariwisata dalam keragaman, kualitas, desain interior maupun outdoor, brand wisata, dan layanannya.
  2. Harga; biaya tiket yang ditawarkan diusahakan sesuai dengan kualitas yang dapat memuaskan wisatawan.
  3. Tempat; lokasi yang menarik, ketersediaan pangan, ketersediaan penginapan, transportasi yang harus terdata, tersedia, serta terpantau oleh pihak pariwisata. Setelah pemberlakuan adaptasi kebiasaan baru terhadap Covid-19, masyarakat diperkirakan akan lebih tertarik dengan melakukan pariwisata alam terbuka.
  4. Promosi; promosi yang dilakukan yaitu dengan memaksimalkan promosi iklan digital seperti adanya potongan harga dan konten menarik demi upaya penyampaian dan membujuk wisatawan untuk tertarik berwisata kemudian memesan tiket dan kembali lagi untuk berlibur di tempat tersebut. Selain itu juga dapat membuat tur virtual sebagai tambahan promosinya.

Agar perekonomian Indonesia tidak semakin terpuruk dan tetap dapat berjalan, alangkah lebih baik jika sektor pariwisata dibuka kembali dengan menetapkan protokol kesehatan Covid-19 yang akan meyakinkan masyarakat untuk datang ke tempat pariwisata. Hal yang dapat dilakukan oleh pengelola lokasi pariwisata adalah sebagai berikut:

  1. Menjunjung tinggi protokol kesehatan, pengelola lokasi pariwisata tentu harus melakukan pembersihan lingkungan secara berkala menggunakan desinfektan.
  2. Spot-spot yang terbilang rawan harus ketat kebersihannya serta selalu diperhatikan. Spot-spot tersebut diantaranya seperti loket tiket, musala, toilet, pintu keluar masuk lokasi, dan tempat makan. Spot-spot tersebut harus disediakan hand sanitizer juga wastafel pencuci tangan.
  3. Kuantitas pengunjung yang perlu diperhatikan setiap harinya dimana harus ada batas maksimal pengunjung.
  4. Menunjukan surat hasil swab test wisatawan jika diperlukan.

Pada kenyataannya, pariwisata merupakan sektor prioritas pemerintah karena mampu menjadi penggerak perekonomian bangsa dan salah satu penyumbang devisa nasional terbesar ketiga di Indonesia. Maka dengan adanya strategi pemasaran yang sesuai, sektor pariwisata akan hidup kembali dan memberikan dampak baik terhadap perekonomian Indonesia, diantaranya yaitu :

  1. Pariwisata meningkatkan produktivitas Indonesia.
  2. Pariwisata menjadi sumber untuk penerimaan devisa negara.
  3. Pariwisata mendorong angka pertumbuhan ekonomi dalam mengurangi jumlah pengangguran.
  4. Pariwisata Indonesia yang ramai dapat menarik investor asing sehingga nilai tukar dan kondisi keuangan negara meningkat.

Selalu masih ada harapan bagi masa depan pariwisata Indonesia setelah pandemi. Yang terpenting saat ini yaitu fokus pada pengendalian Covid-19 secara agresif. Pemulihan ekonomi bangsa akan mudah dilakukan ketika jumlah Covid-19 melandai dan sudah menunjukkan situasi positif yang aman.

Penulis :

Arie Surya Gutama, S.Sos., S.E., M.Si. – arie@unpad.ac.id

Faiza Afraluna Wiranegara – faiza20003@mail.unpad.ac.id

Aisyah Rasya Syafa Azzahra – aisyah20011@mail.unpad.ac.id

Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Padjadjaran

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.