Timun Suri, Sang Primadona Pelepas Dahaga di Bulan Puasa

0 69

Heibogor.com – Setiap bulan Ramadan buah Timun Suri selalu populer. Tak ada yang tahu pasti kenapa di bulan puasa buah ini selalu jadi primadona sekaligus diincar banyak pembeli.

Jika ditelusuri budidaya buah khas untuk menu berbuka puasa ini, terletak di Desa Kemang, Kabupaten Bogor, yang merupakan sentra pertanian Timun Suri. Ya, petani di Desa Kemang ini, memasok Timun Suri hasil panennya ke sejumlah daerah di Bogor hingga luar Bogor, karena melonjaknya permintaan konsumen.

Sesuai namanya, buah ini berbentuk mirip mentimun namun lebih besar. Warnanya pun tak hanya hijau tapi juga kuning cerah. Namun, jangan tertipu dengan warna kulitnya meski berwarna kuning cerah memang menarik perhatian tetapi bukan menjadi patokan penentu matang atau tidaknya buah tersebut. Ada yang berwarna kuning muda namun sudah tua, dan sebaliknya. Jadi, warna kulit tidak bisa jadi patokan mutlak.

Timun Suri yang manis akan memiliki rasa yang menyerupai Melon. Biasanya Timun Suri nikmat dijadikan campuran minuman aneka es, jus, atau sirup. Apa pun rasa sirupnya dan dibubuhi sedikit es, maka jadilah minuman yang menyegarkan dan sangat identik dikaitkan dengan menu minuman berbuka di bulan puasa.

Salah satu petani Timun Suri, Inang mengungkapkan, bisa meraup pundi-pundi rupiah dari hasil bertani Timun Suri tersebut. Pria yang akrab dipanggil Acay ini menyebutkan, buah ini dibudidayakan hanya semusim menjelang Ramadan saja. Sehingga saat Ramadan tinggal menuai hasil panennya. Hasil panen Timun Suri didistribusikan ke sejumlah daerah. Selesai Ramadan lahan ini kembali digunakan untuk ditanami sayuran bayam dan kangkung.

Selama Ramadan, Acay mengaku bisa memanen hingga 20 kali metik dengan jarak panen normal per 3 atau 4 hari. Panen Timun Suri yang dihasilkan dari 10 ribu hektare lahan miliknya bisa menghasilkan jumlah yang cukup lumayan karena tidak terserang hama maupun penyakit tanaman.

“Kemungkinan panen tahun ini dari hasil tanam di bulan Februari 2021 lalu bisa mencapai sekitar 20 ton. Saya sudah menghitung bakal panen di bulan Ramadan. Makanya, saya tanam bibit sejak dua bulan lalu,” ujar pria yang juga sebagai Ketua RT 04 RW 08 di Kampung Kemang Kiara, Desa Kemang, Kecamatan Kemang ini saat ditemui heibogor.com, Minggu (18/4/21).

Menurut dia, petani di wilayahnya sudah terbiasa jika menjelang Ramadan menanam Timun Suri. Sebab, kata dia, permintaannya cenderung meningkat karena di daerahnya ini buahnya memiliki keunggulan yakni selain rasanya pulen dan beraroma harum, tak ketinggalan daging buahnya juga tebal.

Musim panen Timun Suri tahun ini, masih kata Acay, relatif sangat baik karena didukung curah hujan yang tinggi. Kemudian soal harga, Acay menyebut bervariasi tergantung besar ukuran. Umumnya dirinya menjual ke konsumen seharga Rp6 ribu per kilogram.

“Kami merasa lega panen tahun ini relatif membantu pendapatan ekonomi keluarga di tengah pandemi. Apalagi, saat ini harga Timun Suri relatif baik. Kami berharap baik harga maupun hasil panen ini dapat tetap bertahan baik hingga akhir Ramadan nanti,” harapnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.