Idjo Tukidjo Ikhlas Ketuk Pintu Rumah Warga Tak Malu Jadi Abdi Kader Posyandu

0 88

Heibogor.com – Umumnya, kader posyandu itu diisi kaum perempuan. Sedikit lelaki yang mau mengabdi menjadi kader posyandu. Namun, di posyandu di daerah Kampung Pasir RT 02/RW 07 Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, terdapat kader laki-laki dan mungkin di Kota Bogor ini, ia menjadi satu-satunya kader posyandu dari kalangan laki-laki.

Ia adalah Idjo Tukidjo. Lelaki tua berusia 76 tahun ini, sudah mengabdi selama 20 tahun sebagai kader posyandu. Bahkan, masih aktif hingga saat ini. Meskipun terbilang langka, pekerjaan itu tak membuatnya malu ataupun rendah diri. Ia tetap bersahaja menjalani profesinya sebagai kader posyandu.

Pria kelahiran 1945 ini, menjadi kader posyandu sejak 3 September 2001. Bekerja sebagai kader posyandu, Idjo mengaku ikhlas mengabdi kepada masyarakat. Berbekal keikhlasan, ia mendatangi rumah demi rumah di kampungnya untuk mengajak masyarakat agar memeriksakan anaknya ke posyandu.

Idjo menuturkan, awalnya ia tidak terpikir menjadi kader. Mulanya di kampungnya ini tidak ada posyandu. Kemudian atas usul seorang bidan, rumah tinggalnya ditawarkan menjadi posyandu.

“Akhirnya rumah saya dijadikan posyandu. Berjalan satu bulan, di bulan kedua bidan ini tidak ada yang bantu. Tidak mungkin kan bidan bekerja sendirian. Akhirnya saya dan istri mengikrarkan diri untuk jadi kader posyandu dan kebetulan saya tidak punya pekerjaan saat itu. Jadi, waktu itu kader posyandu cuma saya berdua dengan istri,” kata Idjo, Jumat (9/4/21).

Sebagai kader posyandu, banyak suka duka silih berganti menyertai hidupnya. Idjo merasa senang jika banyak ibu-ibu dan bayinya yang mendatangi posyandu. Karena itu menambah motivasinya untuk membantu masyarakat khususnya ibu-ibu dan anak balita agar kehidupannya lebih baik. Anaknya tumbuh dan berkembang secara sehat dan kuat, khususnya di Kampung Pasir RW 07.

“Selain bisa mengabdikan diri, itu membuat badan saya sehat karena pekerjaan ini mengharuskan saya keliling kampung untuk mengajak warga datang ke posyandu. Kan saya ga bisa bawa motor. Untuk kemana mana harus jalan kaki,” ungkapnya.

Di sisi lain, rasa duka merasuk dalam hatinya jika di hari kegiatan posyandu hanya sedikit anggota masyarakat yang hadir.

“Dulu saya harus berjalan kaki ke rumah-rumah di dua RT untuk memberitahukan jadwal posyandu. Waktu itu belum ada toa. Baru di tahun 2006 saya usulkan minta speaker. Tapi sekarang lagi rusak sudah satu tahun,” beber ayah dari lima anak ini.

Berkat kegigihanya, kini jumlah kader posyandunya berjumlah 6 orang, semua perempuan, salah satunya diantaranya isterinya sendiri. Dalam melaksanakan tugasnya, Idjo bekerjasama dengan petugas kesehatan, tim penggerak PKK, dan aparat pemerintah lingkungan, termasuk pengurus RT dan RW.

Ia pun terus mengingatkan pentingnya terlibat dengan kegiatan posyandu. Namun sayang, penghasilan yang didapat dari pengabdiannya ini masih terbilang kecil dan jauh dari kata layak.

“Ada honor dari puskesmas Bogor Timur sebesar Rp 50 ribu per bulan untuk satu orang. Saya sih mensyukuri saja karena inikan kita kerja sosial. Ya, harapan saya pemerintah bisa menganggarkan ibaratnya ditingkatkan uang lelah para kader posyandu ini,” harapnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.