Vaksin Sinovac Ikhtiar Bersama Lawan Virus Covid-19

0 55

Heibogor.com – Vaksin Covid-19 Sinovac yang disuntikkan kepada masyarakat adalah vaksin berjenis inactivated vaccine atau virus mati. Secara singkat inactivated vaccine adalah vaksin menggunakan versi lemah atau inaktivasi dari virus untuk memancing respons imun.

Izin penggunaan itu, dikeluarkan usai hasil evaluasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menunjukkan bahwa Sinovac memiliki efikasi sebesar 65,3 persen. Pertimbangan izin dikeluarkan setelah melihat imunogenisitas, keamanan, dan efikasi Sinovac telah sesuai standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, WHO.

Di Kota Bogor, simulasi vaksinasi Covid-19 telah dilakukan pada Rabu, 18 November 2020 lalu di Puskesmas Tanah Sareal yang ditunjuk karena memiliki capaian imunisasi rutin di atas 90 persen dan telah meraih akreditasi sebagai puskesmas paripurna. Kegiatan simulasi tersebut bahkan ditinjau langsung oleh Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo. Dalam kunjungan tersebut, Jokowi panggilan akrab presiden menyampaikan, bahwa semua vaksin yang nantinya akan digunakan dalam program vaksinasi Covid-19 merupakan vaksin yang terdaftar dan disetujui oleh WHO.

Jokowi memperkirakan proses vaksinasi massal baru dapat dilaksanakan pada akhir tahun ini atau awal tahun mendatang. Terkait distribusi vaksin tersebut, Presiden menyebut bahwa hal itu tidak mudah. Tiap vaksin dari produsen yang berbeda juga memiliki ketentuan penyimpanan dan pola distribusi yang berbeda-beda. Hal inilah yang saat ini sedang disiapkan oleh pemerintah dengan sebaik-baiknya untuk menjamin bahwa vaksin yang akan disuntikkan kepada masyarakat tidak mengalami kerusakan dan penurunan mutu.

“Kemudian siapa yang akan divaksin terlebih dahulu? Yang akan divaksin pertama adalah tenaga kesehatan baik itu dokter, perawat, juga tenaga medis yang ada. Itu yang diberikan prioritas, ditambah TNI-Polri kemudian nanti baru ASN untuk pelayanan publik yang ada di depan, guru, dan kemudian kita semua,” imbuh presiden.

Sementara itu, perwakilan Kemenkes dari Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan dr Asik Surya mengatakan, dipilihnya Kota Bogor sebagai salah satu lokasi uji coba vaksin karena Bogor bagian dari epicentrum Jabodetabek. “Pertama, Kota Bogor ini kan bagian dari epicentrum Jabodetabek. Kedua, paling mudah tempatnya,” ungkapnya.

Tibanya Vaksin Covid-19 Sinovac

Vaksin Covid-19 Sinovac tiba di Kota Bogor, pada Selasa (12/1/21). Vaksin Sinovac tersebut diterima langsung Wali Kota Bogor, Bima Arya didampingi Dedie Rachim dan Kepala Dinas Kesehatan, dr. Sri Nowo Retno, serta unsur Forkominda, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor dan perwakilan rumah sakit se-Kota Bogor, di Dinas Kesehatan, Jalan Kesehatan No. 1, Tanah Sareal, Kota Bogor, sekitar pukul 13:20 WIB.

Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim mengatakan, berdasarkan informasi dari Dinkes provinsi bahwa vaksin Covid-19 Sinovac dikirim dari Bandung jam 12.00 WIB. Dedie mengungkapkan, pihaknya sudah siap dalam hal ini, Dinkes sebagai fasilitatornya. Artinya Labkesda Dinkes sudah disiapkan sebagai tempat penampungan vaksinnya.

Sementara, Kadinkes Kota Bogor, dr. Sri Nowo Retno menjelaskan, sebanyak 9.150 dosis vaksin Covid-19 Sinovac akan dibagikan. Tahap pertama untuk penerima vaksin Covid-19 Sinovac ini adalah tenaga kesehatan yang ada di 54 fasilitas kesehatan. Wali Kota Bogor, Bima Arya menambahkan, bahwa Vaksin Covid-19 Sinovac ini sudah dinyatakan lolos dan aman oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan terjamin kehalalannya oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Penerima vaksin ini, selain tenaga kesehatan juga akan menyasar para penyintas maupun yang memiliki riwayat auto imun, termasuk saya karena masuk penyintas,” ucapnya.

Perang Menghadapi Pandemi Covid-19 Memasuki Babak Baru

Vaksinasi tahap pertama di Kota Bogor, dilakukan pada pertengahan Januari lalu yakni Kamis (14/1/21). Vaksinasi yang dilaksanakan di Puskesmas Tanah Sareal itu, diperuntukan bagi 9.150 tenaga kesehatan. Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, menjadi orang pertama di Kota Bogor yang menerima vaksin diikuti oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompinda).

“Kami para pemimpin perlu memberikan contoh untuk meyakinkan masyarakat yang kerapkali menerima informasi tidak benar terkait Covid-19. Mudah-mudahan masyarakat sedikit bisa lebih tenang. Kan sudah halal dan ada izin BPOM. Semoga ini bisa membantu keadaan untuk menjadi lebih baik,” ujar Dedie didampingi Wali Kota Bogor, Bima Arya yang tidak divaksin karena sudah sembuh paska terpapar Covid19. Namun, Bima hadir untuk mengawal semua proses vaksinasi mulai dari tahap registrasi hingga observasi pasca vaksinasi.

Kepala Dina Kesehatan (Kadinkes) Kota Bogor, dr. Sri Nowo Retno menerangkan, sasaran vaksin adalah orang yang berusia 18-59 tahun dengan estimasi 60 persen dari keseluruhan jumlah penduduk Kota Bogor, kurang lebih ada 660 ribu sasaran. Kemudian dari jumlah tersebut akan di screening kembali.

“Beberapa kondisi masyarakat yang tidak bisa diberikan vaksin Covid-19 di antaranya pernah terkonfirmasi Covid-19, ibu hamil dan menyusui, yang memiliki komorbid, menjalani terapi jangka panjang terhadap penyakit kelainan darah, dan penderita penyakit jantung. Berikutnya penderita penyakit autoimun, penderita penyakit saluran pencerna kronis, penderita penyakit hipertiroid, penderita penyakit kanker, penderita diabetes melitus, penderita HIV dan penderita penyakit turberkulosis,” kata Kadinkes.

Wanita yang kerap dipanggil dr.Retno itu menjelaskan, total jumlah penduduk Kota Bogor adalah 1.112. 081 jiwa, sedangkan jumlah penduduk yang berusia mulai dari 18 hingga 59 tahun yang merupakan sasaran vaksin ada sekitar 691.934 jiwa. Sedangkan jumlah tenaga kesehatan (nakes) atau non nakes yang bekerja di fasilitas kesehatan jumlahnya mencapai 8.925 jiwa. “Intinya vaksin akan diberikan secara bertahap sampai tahun 2022,” terangnya.

Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 bagi tenaga kesehatan (nakes) di Kota Bogor, tercatat sudah ada 2.263 orang atau 23,74% yang sudah di suntik vaksin Sinovac dari 9.533 sasaran. “Data itu, sementara per 22 Januari 2021 hingga pukul 19.00 WIB,” kata Kadinkes. Menurutnya, jumlah registrasi ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) ada 472 orang di 11 puskesmas, 13 rumah sakit dan 3 Klinik. Jumlah total yang registrasi ada 2.723 orang atau 28,56% dari 9.533 sasaran.

Kadinkes menyebutkan, jumlah vaksin yang sudah terdistribusi sebanyak 6.520 vial atau 71,18% dari 9.150 vaksin stock ke 25 Puskesmas, 4 Pustu, 21 rumah sakit dan 4 Klinik. “Untuk jumlah vaksin yang sudah digunakan sebanyak 2.263 vial atau 34,71% dari 6.520 vial yang terdistribusi,” katanya. Untuk lokasi vaksinasi kata Retno, ada di 54 faskes, yakni di 25 puskesmas, 4 pustu, 21 rumah sakit dan 4 klinik. Sebelumnya, Kick Off Pencanangan Vaksinasi di Kota Bogor dilaksanakan di Puskesmas Tanah Sareal, Kamis (14/1/21) lalu.

Masih kata Kadinkes, penerima vaksinasi Covid-19 tetap harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat dikarenakan vaksinasi belum dilakukan secara merata. Sebelum divaksin, penerima harus melakukan screening kesehatan terlebih dahulu dan terbebas dari beberapa kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan untuk divaksin.

Vaksinasi Massal Untuk Nakes

Ribuan tenaga kesehatan (nakes) di Kota Bogor mengikuti vaksinasi massal di Rumah Sakit (RS) Bogor Senior Hospital, Jalan Raya Tajur, Bogor Selatan, Kota Bogor, Kamis (11/2/21). Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim mengatakan, total nakes yang terdaftar di Kota Bogor sebanyak 10.772 orang. Sementara Kota Bogor mendapat droping vaksin untuk nakes tersebut sebanyak 9.150. Nakes yang sudah mendapat vaksin sebanyak 7.144 nakes. Dengan demikian tersisa 2.222 vaksin.

Dari 2.222 vaksin yang belum terpakai ini, lanjut Dedie, akan dialokasikan untuk nakes yang usianya di atas 59 tahun. Ada sekitar 70-80 orang nakes yang diundang untuk mendapatkan vaksin ini dan sisanya akan diberikan kepada nakes yang belum terdaftar mendapatkan vaksin.

Dikatakan Dedie, vaksin massal ini merupakan vaksinasi pertama untuk nakes di luar daftar 10.772 nakes dan akan ditargetkan selesai dalam waktu satu minggu. “Insya Allah kita selesaikan vaksinasi massal ini dalam waktu satu minggu, setelah itu kita masuk ke proses vaksinasi berikutnya, yakni untuk ASN, TNI, Polri dan untuk beberapa tokoh agama dan tokoh masyarakat,” jelasnya.

Kepala Seksi (Kasi) Infokes dan Humas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Erny Yuniarti menyampaikan, tujuan dari vaksinasi massal ini adalah mempercepat cakupan vaksinasi Covid-19 di Kota Bogor. Menurut data pada tanggal 8 Februari 2021 baru 64,59 persen atau 6.958 orang nakes yang telah disuntik vaksin. Sementara sasaran vaksin nakes menurut data dari Kementrian Kesehatan adalah 10.772 orang.

Masih kata Erny, peserta yang akan di vaksin adalah nakes dan non nakes (tenaga pendukung) yang belum menerima suntikan vaksin. Syaratnya mereka harus melakukan pendaftaran melalui link bitly yang telah disebar ke seluruh fasyankes di Kota Bogor serta organisasi profesi kesehatan.

Pada hari pelaksanaan vaksinasi tersebut, lanjut Erny, untuk nakes peserta wajib membawa surat tanda registrasi (STR) dan surat izin praktek (SIP) faskes di Kota Bogor. Sedangkan untuk tenaga pendukung atau non nakes menunjukkan surat keterangan kerja di faskes yang ada di Kota Bogor. “Untuk jadwal pelaksanaan di mulai jam 08.00 hingga 17.00 WIB dan akan terbagi menjadi beberapa sesi. Jadwal di informasikan melalui fasyankes, organisasi profesi kesehatan, Instagram Dinkes, website Dinkes,” jelasnya.

Di sisi lain, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Erna Nuraena memaparkan, bahwa orang yang sudah divaksin Covid-19 tetap harus memakai masker, mencuci tangan pakai sabun atau memakai hand sanitizer, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan membatasi interaksi sosial (5M).

“Kalau orang yang belum divaksinasi mungkin pada saat terinfeksi virus perlu waktu sampai seminggu hingga antibodinya terbentuk sehingga infeksinya menjadi berat. Tapi kalau yang sudah divaksin dalam 24 jam dia sudah terbentuk antibodinya jadi bisa langsung melawan virus,” jelas dr. Erna. Adapun efek samping atau efek lanjutan sesudah vaksinasi biasanya mengalami ringan, sebagian besar ringan nyeri pada tempat penyuntikan, dan beberapa ada yang demam.

Sebetulnya menurut dia, demam itu tanda yang baik dimana tubuh akan optimal membentuk antibodi pada suhu yang lebih tinggi dari normal. “Jadi, kalau orang demam itu artinya antibodinya sedang terbentuk, kemudian efek samping lainnua ada yang mengantuk,” terangnya. Terkait beredarnya berbagai informasi hoaks perihal vaksin Covid-19, dr. Erna mengharapkan agar masyarakat tidak mempercayai berbagai berita hoaks. “Banyak sekali cerita-cerita aneh dan kabar bohong, seperti setelah disuntik vaksin ada yang meninggal dan lain-lain. Padahal, sebenarnya disuntik vaksin pun biasa saja. Semoga ini menjadi semangat kepada masyarakat agar ingin juga divaksin,” tandasnya.

Capaian Vaksinasi Covid-19

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggelar Rakor akselerasi capaian vaksinasi Covid-19 secara virtual, Senin (15/2/21). Rakor yang dipimpin Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) ini diikuti pemerintah kabupaten/kota seluruh Indonesia, tak terkecuali Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Bertempat di Ruang Paseban Punta, Balai Kota Bogor, Wali Kota Bogor Bima Arya didampingi Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor Sri Nowo Retno mengikuti Rakor hingga selesai.

Pada Rakor ini, tidak hanya membahas capaian vaksinasi Covid-19 saja melainkan turut dibahas terkait Surat Edaran Kemenkes yang baru Nomor HK.02.02/I/368/2021 tentang ketentuan penyuntikan vaksin corona terhadap para lansia, pemilik komorbid (penyakit penyerta), ibu menyusui dan penyintas Covid-19. “Jadi, arahan Wamenkes, menyelesaikan tahap I sasaran Tenaga Kesehatan (Nakes) kalau bisa Minggu ini diselesaikan,” ujar Kepala Dinkes Kota Bogor, dr. Sri Nowo Retno.

Retno sapaan akrabnya mengatakan, di Kota Bogor sasaran Nakes sesuai yang terdata di Sistem Informasi SDM Kesehatan berjumlah 10.772 dan yang sudah register 10.742 atau sudah 99,72 persen. Nakes yang sudah di suntik berjumlah 8.276 atau 76,83 persen, sementara 2.296 atau 21,37 persen gagal di vaksin karena eksklusi (penyintas Covid-19, ibu hamil, ibu menyusui, komorbid dan lansia). “Di Surat Edaran Kemenkes terbaru untuk penyintas Covid-19 lebih dari tiga bulan, komorbid yang terkontrol, ibu menyusui dan lansia boleh diberikan,” katanya.

Ia menambahkan, dalam waktu satu pekan ini pihaknya akan menindaklanjuti dengan mendata kembali 2.296 Nakes yang eksklusi (komorbid, penyintas Covid-19, ibu menyusui dan lansia) tersebut untuk di skrining sehingga bisa diberikan vaksinasi. “Kemarin Kota Bogor kan dapat 9.150 dosis vaksin, ada sisa 884 dosis vaksin. 884 dosis vaksin ini akan kami optimalkan untuk selesaikan sasaran satu nakes yang 2.256 tidak bisa di vaksin, di skrining lagi sesuai dengan ketentuannya yakni penyintas Covid-19 lebih dari tiga bulan, komorbid yang terkontrol,” bebernya.

Ia menjelaskan, setelah Nakes selesai di vaksinasi semua, akan masuk di sasaran tahap II . Pihaknya saat ini sedang mendata sasaran tahap II untuk lansia, pendidik, pedagang pasar, tokoh agama, wakil rakyat, pejabat negara, pegawai pemerintah, keamanan (TNI, Polri, Satpol PP), pelayanan publik lainnya, transportasi publik, atlet, pariwisata, wartawan dan pekerja media. “Data ada yang sudah masuk tapi belum lengkap, hari ini akan difinalisasi, yang terdata baru 14.210,” terangnya.

Namun, sampai saat ini belum ada informasi dari Wamenkes kapan dosis vaksin tahap II. Namun yang terpenting saat ini menyelesaikan Nakes tahap I dan pendataan vaksinasi tahap II harus sudah masuk pekan ini sehingga kemungkinan pada Maret sudah bisa mulai vaksinasi. “Pak wali kota sudah bisa di vaksin di tahap II dan untuk jumlah vaksin yang diterima mudah-mudahan sesuai usulan Kota Bogor mungkin sekitar 16 ribuan kalau data sudah masuk semua,” ungkapnya.

Penurunan Kasus Covid-19

Wali Kota Bogor, Bima Arya mengatakan, dua pekan lalu angka kasus Covid-19 di Kota Bogor sangat tinggi atau ada di puncaknya. Bahkan, semenjak kasus positif Covid-19 pertama di Kota Bogor trennya naik merayap. Namun, sepekan terakhir ini secara perlahan-lahan mengalami penurunan. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor kasus harian Covid-19 menurun 41,7 persen.

Tren tersebut terlihat dari angka terkonfirmasi positif setiap harinya dari 6 Februari-14 Februari 2021 dengan rincian 187, 178, 175, 174, 165, 150, 129, 128 dan Minggu (14/2) kemarin 109 kasus. “Apa penyebab penurunannya, mari kita yakini penyebabnya adalah semua langkah dari hulu ke hilir yang hingga sekarang kita ikhtiarkan,” ungkap Bima Arya. (Advertorial)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.