Keterbatasan Tak Halangi Wawang Dulang Pundi Rupiah dari Action Figure

0 105

Heibogor.com – Tak ada manusia yang sempurna. Namun, sudah sepantasnya sebagai makhluk ciptaan-Nya Kita wajib bersyukur atas apa yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita. Dampak pandemi Covid-19 menerjang semua sektor perekonomian. Banyak warga yang kehilangan penghasilan karena berhenti bekerja atau tidak bisa berjualan karena sepi pembeli. Maraknya perkembangan action figure saat ini tak lepas dari peran serta anime dan film-film superhero yang telah lebih dulu eksis.

Pengaruh dari keduanya memberikan efek yang cukup besar pada minat masyarakat, terutama kalangan anak-anak, remaja dan bahkan orang dewasa sekalipun. Semakin besarnya pasar action figure juga membuka peluang bagi pelaku usaha yang memproduksi boneka berkarakter. Salah satunya adalah Wawang Sunarya yang tetap berkarya di bidang seni meskipun dalam situasi pandemi Covid-19.

Meskipun dalam keterbatasan, bisa dijadikan contoh bagaimana tetap berjuang di tengah keterbatasan daripada berpangku tangan sambil menunggu bantuan dan belas kasihan meski memiliki keterbatasan fisik, dampak pandemi terutama bagi kaum disabilitas yang mempunyai keterbatasan fisik untuk bertahan hidup memang terasa lebih berat bagaimana tidak? Dengan kondisi yang serba terbatas dan juga harus bertahan hidup di tengah gempuran dan kebutuhan sehari-hari diperlukan ekstra kesabaran dan ketekunan.

Penyandang disabilitas berusia 37 tahun ini mampu menciptakan kerajinan tangan yang unik dan lucu yang banyak disukai pembeli dari hobinya yang suka menggambar sejak kecil, ia coba kembangkan dengan membuat karya seni berupa action figure dari kertas koran. Keterampilan itu, ia pelajari secara otodidak dan hanya mengandalkan internet sebagai tutorialnya.

Untuk membuat action figure, ia hanya membutuhkan kawat untuk rangka, lem, kertas koran dan cat akrilik. Hobinya melukis dan menggambar membuatnya tak kesulitan saat membuat action figure. Beberapa action figure yang telah ia buat kebanyakan superhero, seperti Batman, Superman, Spiderman, Samurai-X, dan lainnya. Awalnya dia tidak menyangka kalau karya buatannya itu ternyata banyak peminatnya dan laku dijual.

Dari situ ia coba-coba ikut pameran untuk lebih mengenalkan hasil karyanya. Seiring berjalannya waktu tepatnya di tahun 2012 ia mencoba membuat terobosan baru yaitu membuat miniatur boneka karakter yang terbuat dari resin dari yang awalnya hanya berbahan kertas koran. Ditemui di workshop-nya yang berlokasi di Cibuluh, Kota Bogor, Wawang terlihat sibuk mengerjakan pesanan pembuatan karakter tokoh pewayangan dan maskot.

Kerajinan tangan (handmade) Art Toys dari bahan clay dan resin tersebut kembali berproduksi setelah empat bulan terhenti akibat terdampak pandemi Covid-19. Ia pun kembali menjual action figure-nya melalui media online. “Bagi saya tidak ada pilihan untuk menyerah, apalagi di tengah pandemi begini,” ceritanya.

Wawang menjelaskan, action figure yang ia buat berbagai macam sesuai dengan keinginan pembeli seperti tokoh pewayangan, superhero lokal, maskot pemerintah daerah maupun instansi, dan banyak juga pembeli yang memesan boneka bergambar wajah orang untuk dijadikan hadiah atau cinderamata. Wawang pun tak ragu menjelaskan proses produksi kreasinya.

Sebelum melangkah untuk membuat action figure ini terlebih dahulu menyiapkan beberapa perlengkapan dan bahan baku, seperti kawat sebagai rangka, clay sebagai bahan baku utama pembentuk tubuh action figure, resin sebagai pelapis agar kuat dan mengkilap, silikon sebagai bahan cetakan, cat akrilik, serta wax sebagai bahan pengeras.

Setelah semua bahan baku sudah siap, langkah berikutnya ialah membuat bentuk dasar yaitu dengan menggambar sketsa bentuk figure yang ingin dibuat, setelah jadi baru masuk ke proses perangkaian kerangka figure dengan menggunakan kawat aluminium. Setelah rangka selesai dibuat, tutup rangka dengan clay serta bentuk clay tersebut hingga menyerupai action figure yang diinginkan. “Proses ini membutuhkan ketelitian dan sedikit pengalaman,” jelasnya.

Bila bentuk dasar telah jadi, maka langkah selanjutnya ialah membuat cetakan sebagai tempat wax dengan menggunakan silikon. Apabila cetakan sudah jadi, maka langkah selanjutnya ialah memanaskan wax hingga mencair, lalu letakkan bentuk dasar ke cetakan lalu tuangkan wax ke dalam cetakan secara bertahap mulai dari bagian tangan, kaki, kepala, dan tubuh.

Diamkan selama 1 hari hingga benar-benar mengeras, bila sudah mengeras, ukir action figure untuk mendapatkan detail bentuk yang diingikan. Dan tahap terakhir ialah lapisi cairan resin pada action figure agar lebih kuat dan diamkan selama satu hari. Dan setelah mengeras rapikan action figure dengan cara diamplas dan pahat bagian-bagian yang kurang lalu warnai dengan menggunakan cat yang mengandung akrilik dan diamkan selama satu hari, action figure pun siap untuk dipamerkan.

Proses produksi tidak mengalami kesulitan, kata dia, dengan bahan baku clay atau rubber resin atau fiber glass dan akrilik untuk pewarnaan yang mudah dicari di pasaran. Hasil karyanya ini, memiliki tingkat kedetailan yang mirip dengan aslinya seperti bola mata, ekspresi hingga guratan pada wajahnya agak sulit dibuat.

“Boneka yang saya buat tergantung keinginan pemesan. Mau bikin karakter superhero bisa, mau bikin wajah seseorang seperti Deddy Corbuzier bisa, pernah saya buat. Yang sekarang lagi saya buat itu ondel-ondel untuk ikon Jakarta dan Bang Bek, Mpok Asih untuk ikon Bekasi. Lama pembuatannya 3 hari sampai 1 minggu,” jelasnya, belum lama ini.

Untuk harga, sambung Wawang, dibanderol sesuai ukuran dan jenis permintaan pemesan. Kisarannya mulai dari Rp50 ribu hingga Rp150 ribu. Untuk permintaan khusus dengan tingkat kesulitan yang berbeda harga dapat dinegosiasikan langsung. Selain membuat action figure (handmade resin art toys) dengan nama brand Choco-01 ini, Wawang juga membuat gantungan kunci, tempelan kulkas, dan merchandise untuk acaraacara khusus hingga cinderamata untuk mahar pernikahan.

Kebanyakan dari pengunjung tersebut memesan pembuatan dan modifikasi action figure mereka. Wawang tidak jarang menghadapi kesulitan saat melayani permintaan pelanggan dalam mengubah karakter action figure. “Untuk promosi dan pemasaran saya gunakan sosial media. Produk ini, banyak dipesan dari wilayah Jabodetabek tapi ada juga dari luar pulau Jawa seperti Bangka, Lombok, Jambi, Riau, Kalimantan. Kalau di luar negeri pernah ikut pameran INACRAF di Jerman,” ungkapnya.

Wawang mengaku daripada dia kalah dengan keadaan yang tak menentu kapan berakhirnya pandemi ini dia memilih untuk terus optimis dan beradaptasi di masa sulit. Ke depan, ia meyakini bisnis action figure miliknya akan terus berkembang. Apalagi kelompok pecinta mainan ini semakin banyak.

Selain itu, Wawang juga berpesan pemilik usaha juga harus tetap optimistis dan berpikiran positif. Kondisi pandemi ini yang mengharuskan kita hanya di rumah saja sebenarnya memberi waktu kita untuk lebih kreatif, lebih banyak menggali ide. Wawang percaya bahwa bisnis-bisnis yang dihasilkan dari action figure tak akan mati ditinggalkan pelanggan. Sebab, perkembangan action figure, terus tumbuh dari waktu ke waktu.

Selain itu, komik-komik juga menjadi bahan acuan para kolektor action figure untuk memperbarui serta menambah koleksinya.”Jadi kalau potensinya pasti masih tinggi. Karena pasti banyak bermunculan figure-figure baru, atau bahkan figure lama dengan tampilan baru. Jadi pasti ada terus,” kata dia.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.