Buah Penantian Panjang, Prestasi Pun jadi Matang

Profil Juara Bogorku Bersih 2020

0 183

Perhelatan Bogorku Bersih 2020,  berjalan sejak Juni hingga November, ditutup dengan semarak di Taman Ekspresi, Sempur Kota Bogor, pada Kamis (12/11).   Dari 631 peserta  yang mengikuti Lomba Bogorku Bersih 2020, ada 24 pemenang dari lima kategori. Juara kategori permukiman Swadaya dan Tepi Sungai masing-masing dibawa pulang oleh RT 04 RW 06 Sindangrasa dan RT 02 RW02 Balumbang Jaya (selengkapnya lihat grafis).

Hasil terbaik tak bisa hanya dicapai dengan persiapan yang instan. Gelar juara yang diperoleh warga RT 02 RW 02 Balumbang Jaya berasal dari penantian selama tiga tahun.

Raut wajah peserta Bogorku Bersih menegang. Pengumuman juara untuk kategori Pemukiman Tepi Sungai diteriakkan satu per satu oleh pemandu acara. Paling terakhir, sejumlah warga dari sudut kanan atas tribun Taman Ekspresi melonjak kegirangan. Mereka yang berasal dari RT 02 RW 02 Balumbang Jaya resmi menjuarai kategori itu.

Sumringah, Ketua RW 02 Yayat Supriatna mengajak perwakilannya menerima hadiah di atas panggung Taman Ekspresi, Kamis (12/11) lalu. Piala beserta uang tunai Rp15 juta bakal dibawa pulang. Dalam bayangannya, Yayat pun sudah merancang banyak program untuk lingkungannya menggunakan uang hadiah tersebut. Tentu saja demi kemaslahatan warga yang berada di sekitar RW 02.

Hal serupa pernah diterapkan Yayat bersama warganya. Salah satu RT di lingkungannya sempat mencicipi gelar juara untuk katehori lainnya. Kemenangan itu diraup Yayat, tiga tahun sebelumnya. Uang hadiah yang diperoleh pun dipakai untuk mengembangkan wilayah lainnya yang butuh sentuhan lebih “ramah”.

“Kita sejak lama memang sudah rutin menerapkan kebersihan di lingkungan warga, itu yang kamu tonjolkan. Waktu itu (dulu) kami Alhamdulillah dapat juga (gelar) sebagai yang terbaik. Hasil dari uang itu yang kami pakai untuk membuka area Ruang Terbuka Hijau (RTH) di pinggiran sungai,” terangnya, saat ditemui Radar Bogor, usai menerima hadiah.

Konsep RTH itu berhasil menarik pengembangan lingkungan lainnya. Mereka juga mulai aktif melakukan edukasi melalui Kelompok Wanita Tani (KWT). Rantai pengelolaan lingkungan yang baik itu pun tidak serta merta membuat RW 02 yakin untuk langsung mengikutkan RT 02 untuk kompetisi tahunan yang diinisiasi Radar Bogor itu.

“Sehingga dua tahun (kami membangun dan mengembangkannya), kami belum siap. Tahun ketiga setelah juara itu kami baru mencoba ikut dan alhamdulillah ternyata buktinya (bisa menorehkan) hasil yang maksimal,” jelasnya.

Menurut dia, penantian selama.tiga tahun itu tidak sia-sia. Mereka melakukannya secara bertahap atau step by step. Berbekal dari pengalaman itu, mereka tak ingin terburu-buru untuk lingkungan lainnya. Lantaran mereka juga telah memgantongi salah satu RT yang bakal dipersiapkan untuk event Bogorku Bersih selanjutnya.

Ia bersama Ketua RT 02 bergantian berfoto dengan menyandang piala dan hadiah. Sejumlah pengurus RT dan warga mengajak Camat Bogor Barat, Juniarti Estiningsih untuk berfoto. Wajah-wajah yang girang menyatu dengan orang nomor satu kecamatan Bogor Barat itu.

Rencananya, kata Yayat, mereka bakal mengoptimalkan lingkungan di RW 02. Apalagi, target lainnya untuk menjadikan wilayah itu sebagai Kampung Tematik Sunda. Target itu sudah di depan mata, lantaran lingkungan yang digawangi Yayat itu sendiri sudah menyandang gelar sebagai Kampung KB dengan nominasi lima terbaik di tingkat provinsi Jawa Barat.

Termasuk pembenahan sungai itu sendiri, kami punya program khusus untuk kebersihan sungai. Harapannya juga ada nilai tambah bagi wilayah kita untuk jadi objek wisata. Kembangkan wilayah jadi Kampung Sunda itu mau agar ada nilai wisatanya,” pungkasnya.

Sementara itu, Camat Bogor Barat, Juniarti Estiningsih  sangat bangga dengan tiga kategori untuk pemukiman diborong habis oleh wilayahnya sendiri. Bahkan, salah satu kategori, yakni permukiman swadaya didominasi oleh finalis dari Bogor Barat. Dia bahkan sempat kelimpungan dengan hal tersebut. Ia kebingungan membagi waktu untuk bisa menemani warganya untuk menyambut para juri yang hadir di dua kategori, swadaya dan tepi sungai, dalam waktu yang bersamaan.

             “Luar biasa usaha mereka. Saya merasa puas bahwa program-program yang ada ternyata bisa tercover dan teredukasi kepada masyarakat. Terkait dengan juara, sebenarnya itu nomor ke sekian. Namun, bagaimana mereka bisa memberikan manfaat yang lebih banyak kepada lingkungan sekitar,” ujarnya usai merayakan euforia kemenangan perwakilan Bogor Barat.

Esti, sapaannya, juga tampak menyatu dengan warga-warganya dari kelurahan yang membawa pulang gelar juara. Kegembiraan terpancar langsung dalam acara tersebut. Salah satunya, dari  warga perumahan Griya Melati yang berkali-kali mengajak camat kesayangannya itu berfoto bersama. Mereka juga menikmati lantunan musik penutup dengan meluapkan kegembiraan bersama-sama.

Hasil itu mengukuhkan berbagai program ramah lingkungan yang diterapkan di Bogor Barat. Sejak awal, Esti mengakui sudah menekankan agar warga sadar lingkungan dan menjaga kebersihan. Penerapan konsep urban farming juga sudah mulai merata diberlakukan di setiap kelurahan. Beberapa diantaranya sudah memiliki kebun hidroponik maupun taman Toga tersendiri.

“(Soal pilot project), kita akan coba jadikan mereka percontohan untuk lingkungan lainnya. Kita bebaskan untuk mengadaptasi hal yang sama. Termasuk, kita nanti juga akan wajibkan setiap kelurahan dan RW harus punya RT binaan, yang ke depannya bisa diikutkan ke dalam lomba ini (Bogorku Bersih),” tegasnya. (mam)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.