Jatuh Bangun Ara Wiraswara Sang Penyintas Covid-19, Sempat Pesimis Tapi Kini Optimis berbuah Manis

0 57

Coronavirus disease 2019 atau yang lebih dikenal dengan Covid-19 menjadi wabah yang membawa bencana kematian terbanyak sepanjang tahun 2020 ini. Tidak hanya di Indonesia, tapi di sejumlah negara yang terdampak baik di eropa maupun asia juga mengalami hal serupa. Fenomena yang menjadi sejarah dunia ini, menjadi catatan tersendiri khususnya bagi orang-orang yang berhasil sembuh dari Covid-19.

Salah satunya Ara Wiraswara, pasien yang berhasil sembuh dan bangkit melawan virus Covid-19 dalam dirinya. Sebagai penyintas Covid-19, ia membuka diri untuk berbagi cerita bagaimana upayanya saat berjuang untuk sembuh dari Covid-19 hingga akhirnya ia dinyatakan sembuh dari virus Corona. Ia pun bertekad membantu sesama penyintas Covid dengan menginisiasi sebuah gerakan sosial yang dinamai komunitas Teman Lawan Covid-19 (Temanco).

Ara, panggilan akrabnya, dikabarkan terkonfirmasi positif pada 19 Maret 2020 sepulang dinas ke luar negeri mendampingi Wali Kota Bogor, Bima Arya. Dari sinilah kisahnya bermula. “Awalnya saya berpikir virus ini tidak akan melanda Indonesia. Saya menganggap itu hal yang biasa saja dan tidak perlu ditakuti. Itu pemikiran saya tentang Covid-19 sebelum wabah ini melanda Indonesia dan menulari banyak orang termasuk diri saya,” kata Ara.

Namun, hal itu seketika berubah saat dirinya di vonis positif Covid-19. Sebuah kenyataan yang harus ia terima dan jalani. Tapi dibalik itu, ia menyadari bahwa Tuhan punya rencana lain. Banyak hikmah dan pelajaran yang ia dapat selama berjuang melawan virus Covid-19 dalam dirinya. Salah satunya bangkit melawan Covid-19 untuk hidup yang lebih baik.

“Ketika dinyatakan positif, saya langsung dijemput ambulance menuju ke RSUD. Karena kondisi saya agak menurun, saya diberi infus dan selang oksigen untuk membantu pernapasan saya yang sesak. Saya di isolasi di RSUD bersama Bima Arya yang kala itu juga dinyatakan positif terkonfirmasi virus Corona,” bebernya.

Bangkit untuk Sembuh

Ara mengaku hari-hari pertama menjalani perawatan merupakan masa terberatnya. Selama menjalani perawatan banyak perubahan yang terjadi pada dirinya. Selama isolasi, ia tidak bisa bertemu dengan siapapun kecuali dokter dan perawat. Makanan pun diantar dan diletakkan di depan pintu kamar isolasi. Bahkan, Ia harus menggunakan alat makan khusus dan mencucinya sendiri. Ia juga memutuskan berhenti membaca berita-berita yang menakutkan dan menyedihkan tentang pandemi Corona.

“22 hari di rumah sakit itu bukan sesuatu yang sederhana karena di satu sisi kita berjuang untuk sembuh di satu sisi kita nyaris kehilangan interaksi dengan orang lain dan tidak bisa kemana-mana. Hal itu, membuat stres. Untuk mengisi waktu saya jadi banyak menulis, ibadah juga jadi lebih rajin dan tepat waktu. Intinya lebih banyak kesempatan dan waktu untuk mengevaluasi diri,” kata pegawai negeri sipil di lingkungan Pemerintah Kota Bogor ini.

Ia mengaku sempat mengalami stres karena pikirannya dipenuhi pertanyaan kenapa dirinya bisa terkena Covid-19? Apakah istrinya yang sedang mengandung serta kedua anaknya yang masih kecil juga ikut tertular olehnya? Ditambah banyak informasi tentang Covid yang menyeramkan sehingga menimbulkan stres yang luar biasa. Dengan kondisi badan yang tidak mendukung, terlintas dalam benaknya apakah ini akhir dari hidup?

“Bayangkan dua minggu kemudian, saya kembali menjalani tes swab. Namun, hasilnya kembali dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 melalui hasil tes usap yang ketiga hingga kesepuluh kalinya. Begitu juga tes swab ke-13 sampai 15 masih juga positif Covid-19,” ungkapnya.

Demi bisa sembuh, ia terus berjuang dan selalu menjaga daya tahan tubuh serta berfikir positif dan tak lupa berdoa kepada Tuhan agar diberi kesembuhan. Akhirnya, kabar baik datang dari dokter yang menanganinya. Hasil tes swab yang ke-16 ia dinyatakan negatif dan hasil tes swab ke-17 juga demikian.

“Semua obat yang direkomendasikan dokter saya minum. Suplemen yang direkomendasikan teman-teman juga saya minum. Selebihnya berdoa berikhtiar, berolahraga, berjemur dan yang paling berat melakukan manajemen stres. Tapi yang paling menguatkan tekad saya untuk sembuh adalah dukungan dari istri dan keluarga termasuk support dari teman-teman sekolah dan teman-teman di lingkungan kerja. Itu yang menjadi salah satu stimulan buat saya berjuang,” ujarnya.

Ara mengungkapkan, pernah berpikir untuk menyerah karena rasa takut dan sakit badan yang makin menggila. Terutama di hari pertama yang dianggap paling berat. Cuma di satu sisi dirinya masih punya banyak mimpi untuk orang-orang terdekat dan itu menjadi salah satu motivasi yang menguatkan dirinya untuk berjuang sembuh.

“Karena covid saya berada di satu titik terendah dalam kehidupan saya. Saya berpikir udahlah selesai saja. Tapi di satu sisi saya berpikir lagi bahwa saya masih punya banyak mimpi. Mimpi-mimpi itu menjadi kekuatan yang sangat besar menstimulus saya untuk sembuh. Dukungan dari orang-orang yang saya kenal juga menjadi penyeimbang titik terendah hidup saya menjadi naik lagi bahwa saya harus sembuh,” ucapnya.

Ketika Tuhan memberikan kesempatan dirinya sembuh dari covid, Ara membuat nazar secara pribadi di antaranya memperbaiki ibadah, nazar puasa, dan keinginan berbuat sesuatu kepada orang-orang yang tengah berjuang karena terkena Covid-19.

Membentuk Komunitas Sesama Penyintas Covid-19

Setelah dinyatakan sembuh, Ara melaksanakan salah satu nazarnya yakni membentuk komunitas bersama sejumlah penyintas Covid-19. Mulanya ada beberapa orang yang terkena covid menghubungi dirinya dan berbicara tentang beberapa kasus. Ara berpikir kalau ini dilakukan hanya dirinya sendiri tidak akan menjangkau lebih banyak orang.

Kemudian Ara berdiskusi dengan teman-teman di Salam Aid untuk membuat gerakan membantu teman-teman covid. Di situ Ara menawarkan satu konsep berupa pendampingan psikis dengan mempertemukan satu penyintas dengan satu pasien untuk memberikan pendampingan motivasi secara intens.

Ide itu bersambut dari teman-teman Salam Aid. Pendampingan psikis ini perlu didampingi oleh aspek yang lain seperti pendampingan ekonomi, pendampingan spiritual, pendampingan edukasi warga. Pendampingan ini, berlaku untuk pasien yang sedang di rawat di rumah sakit atau yang sedang isolasi di rumah. Kalau ternyata keluarganya berasal dari keluarga tidak mampu maka penting bagi komunitas Temanco untuk memberikan dukungan agar mereka menjalani isolasi mandiri dengan tenang artinya kebutuhan sembako dan kebutuhan suplemennya terjaga dengan baik.

“Kita membuka jaringan sebisa mungkin dengan berbagai elemen. Komunitas Temanco ini, dibuat dengan tujuan memotivasi pasien terinfeksi dan mengedukasi masyarakat Kota Bogor terkait bahaya Covid-19. Di sini kami ingin menyampaikan pesan kepada pasien Covid-19 bahwa virus ini bisa sembuh dan dilawan bersama-sama. Asalkan mau berjuang dan menjaga daya tahan tubuh agar tetap sehat. Para survivor ini adalah buktinya,” ucapnya.

Bangkit dan Berjuang di Temanco

Sampai saat ini, Temanco telah melakukan pedampingan kepada lebih dari 15 pasien dan memotivasi mereka agar cepat sembuh. Tak hanya itu, sejak dibentuk September 2020 lalu, relawan Temanco juga sudah melakukan pendampingan kepada 25 keluarga, 68 jiwa tersebar di 15 kelurahan dan 9 kecamatan, termasuk 3 kecamatan di luar Kota Bogor. Baik pendampingan psikis maupun ekonomi.

Ia berharap pengalamannya sebagai penyintas Covid-19 dapat membantu pasien Covid-19 yang masih berjuang untuk pemulihan. Covid-19 bisa menjangkiti siapa saja. Sayangnya, masih banyak orang di luar sana yang menganggap Covid-19 sebagai aib, kemudian menjadikannya justifikasi untuk memperlakukan pasien positif Covid-19 secara diskriminatif.

Menurut Ara, kunci kesembuhan adalah ikhtiar dan doa. Ikhtiar dengan mengikuti saran dokter, minum obat, aneka suplemen dan terus menguatkan semangat untuk sembuh. Sedangkan kunci memerangi corona, setiap orang fatsun melakukan 3M, sementara pemerintah fokus pada 3T.

Masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari hari membuat penyebaran Covid-19 makin tumbuh subur berkembang. Semakin hari jumlah kasus baru masih terus mengalami peningkatan yang signifikan. Pandemi itu ada dan bisa menulari siapa saja dan di mana saja.

“Bangkit dari pandemi tidak mudah tapi bisa kita lakukan bersama. Semua harus ambil peran sekecil apa pun. Kita sebagai warga tertib dengan 3M. Kita sebagai warga terus meretas kepedulian untuk membantu mereka yang tengah terpapar Covid-19,” pungkasnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.