Budidaya Pare Masih Jadi Primadona Saat Musim Hujan

Harga Bersaing Pemintaan Pasar Normal

0 75

Heibogor.com – Sejak ditanam dua bulan lalu, budidaya pare yang ditanam Kelompok Tani Dewasa (KTD) Karya Mandiri bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Berkarya di lahan seluas 3.600 meter kini mulai memasuki masa panen dengan interval empat hari sekali. Kurang lebih sekitar 5 ton pare dapat dihasilkan dalam masa panen ini.

“Ini adalah panen keempat. Sebelumnya pada panen pertama menghasilkan pare sebanyak 300 kilogram. Panen kedua 700 kilogram dan panen ketiga 1,3 ton,” kata Ketua KWT Berkarya, Mulyani saat ditemui di kebun pare di wilayah Cilendek Barat, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Minggu (22/11/20).

Ia menjelaskan, komoditas pare atau paria ini, sengaja dipilih dan dibudidayakan karena dari segi ekonomi lebih condong menguntungkan di samping memang ada permintaan pasar. Selain itu, kelebihan dari pare ini agak kuat terhadap curah hujan yang tinggi. Maka itu, karena sekarang ini intensitas hujan tinggi jadi penyiraman cukup dengan air hujan.

“Sebelum pare, buah yang dibudidayakan adalah terong. Pergantian jenis tanaman sayuran tersebut bagus untuk memulihkan kesuburan tanah dan memutus mata rantai hama. Selain mengikuti permintaan pasar, ada baiknya jenis tanaman yang ditanam dirotasi, diganti dengan sayuran yang lain karena itu bagus untuk kesuburan tanah dan memutus mata rantai hama,” ujarnya.

Masih kata Mulyani, bulan ini, merupakan masa panen pare sejak ditanam dua bulan lalu. Kalau musim hujan bisa 10 kali panen. Sedangkan kalau musim panas bisa sampai 15 kali panen dengan interval empat hari sekali. Budidaya pare dilakukan dengan sistem mulsa karena lebih efisien dari segi tenaga dan juga biaya pembersihan serta dapat menekan pertumbuhan gulma.

Selain itu, sistem mulsa digunakan untuk menjaga struktur tanah karena dapat mengurangi penguapan pupuk saat kondisi terik matahari. Agar tanaman tidak mudah stres, media tanam perlu didiamkan selama satu bulan sebelum penebaran biji.

“Jadi, setelah tanah diolah diberikan pupuk sekitar satu bulan, barulah biji ditanam. Biji ditanam dengan jarak 20 sampai 30 sentimeter antar tanaman, dan sekitar satu meter antara mulsa,” jelasnya.

Untuk pemupukan sendiri, sambung Mulyani, selama masa tanam 60 hari dilakukan sebanyak dua kali. Pertama, saat usia tanaman dua minggu dan selanjutnya di bulan berikutnya. Sedangkan penyiraman dapat menyesuaikan dengan kondisi iklim di Kota Bogor.

“Saat ini, harga pare di pasaran sedikit agak turun yakni seharga Rp3.500 dari prediksi awal sekitar Rp5.000-7.000 per kilogram. Namun, pihaknya tetap bersyukur harganya tidak jatuh sekali seperti mentimun,” ungkapnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.