RSUD Kota Bogor Tetap Terbaik se-Jabar Meski Kekurangan Tenaga Kesehatan

0 77

Keberhasilan penerapan pembatasan sosial berskala mikro dan komunitas (PSBMK) pada September 2020 lalu, dievaluasi Pemerintah Kota (Pemkot). Apakah berdampak baik atau malah menambah jumlah kasus Covid-19 di Kota Bogor.

Hasil evaluasi tersebut, terungkap bahwa salah satu upaya untuk menekan tingkat kematian Covid19, adalah dengan menambah tenaga kesehatan (Nakes) dan fasilitas kesehatan di RSUD Kota Bogor. Terlebih lagi, rumah sakit milik Pemkot Bogor ini mendapat bantuan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat, senilai Rp 51 miliar.

Direktur Utama RSUD Kota Bogor, dr. Ilham Chaidir mengatakan, bantuan dari Pemprov Jabar senilai Rp51 miliar tersebut khusus dipergunakan untuk peningkatan pelayanan Covid-19.  “Terkait alat – alat kesehatan, RSUD Kota Bogor sudah memiliki alat yang cukup lengkap. Jadi uang tersebut lebih banyak terserap untuk peningkatan penanganan Covid-19. Apalagi RSUD Kota Bogor ini, rencananya menjadi rumah sakit rujukan untuk penanganan Covid-19 di tingkat regional Jawa Barat dan rumah sakit pendidikan. Untuk pencairannya tahun depan,” kata Ilham.

Ilham menambahkan, diangkatnya RSUD Kota Bogor sebagai RS rujukan regional Jawa Barat, dikarenakan penanganan Covid-19 di RSUD Kota Bogor saat ini  masuk kategori terbaik. Hal itu terlihat dari jumlah kamar isolasi yang disediakan sebanyak 130 kasur.

“Fasilitas kami termasuk yang terlengkap, kita transformasi baru enam  bulan tapi penambahan ruang ICU  cukup signifikan. Awalnya kita cuma punya dua  dalam waktu singkat ada penambahan empat, dan sekarang jadi totalnya enam. Kemudian rencananya nanti akan tambah lagi dua lagi jadi totalnya delapan,” jelasnya.

Meski memiliki kelengkapan fasilitas kesehatan, namun Ilham mengakui kekurangan tenaga kesehatan (Nakes) di RSUD Kota Bogor. “Meski RSUD Kota Bogor memiliki 130 kasur, namun Nakes di RSUD hanya mampu menangani 94 pasien saja. Makanya 2-3 minggu lalu itu kewalahan, bahkan sempat menyedot Nakes dari pelayanan lain,” ungkapnya.

Ilham sendiri mengaku sebenarnya ia enggan mengganggu fasilitas kesehatan lain hanya untuk menanggulangi Covid-19.  “Hak pasien non Covid-19 dan Covid-19 itu sama. Saya ingin semua ini seimbang, jadi pelayanan biasa jalan dan penanganan Covid-19 maksimal,” pungkasnya. (Advertorial)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.