Buah Tin, Si Superfood Kaya Manfaat dan Mudah Ditanam dengan Iklim Indonesia

0 73

Heibogor.com – Budidaya buah Tin ternyata cukup menjanjikan bila dikembangkan di Indonesia. Mengingat buah ini selalu berbuah tanpa mengenal musim. Budidaya buah tin salah satunya dikembangkan oleh Garden of Prospective Agriculture atau Kebun Pengembangan Pertanian Masa Depan yang berlokasi di daerah Katulampa, Bogor Timur, Kota Bogor.

Pengelola Kebun Pengembangan Pertanian Masa Depan, Rana WIjaya menjelaskan, buah Tin ini aslinya dari daerah timur tengah yang tanahnya agak berpasir, poros dan gembur. Kalau di tanam di Indonesia medianya juga harus gembur dengan ditambah sekam. Untuk ditanam di sini, ada dua rekomendasi. Pertama, boleh ditanam dalam polybag. Kedua, boleh di tanah.

Kalau ditanam dalam polybag, buah Tin yang masuk dalam varietas negrone ini, cepat berbuah. “Tiga bulan kalau ditanam dengan sistem cangkok itu sudah keluar bintik buah. Umur lima bulan sudah bisa panen. Walaupun buahnya kecil dan berwarna hitam tapi buahnya manis dan kebanyakan buahnya matang sempurna,” terangnya, Selasa (29/9/20).

Lalu jika memakai metode tanam langsung di tanah, sambungnya, ia memakai teknik penyambungan atau grafting. Teknik ini, merupakan pengembangan dari budidaya sebelumnya, yaitu teknik cangkok. Dalam teknik tersebut, pada batang bawah ia menggunakan Tin lokal atau di sini disebutnya pohon Loa. Sedangkan batang atas disambungkan dengan pohon tin varietas negrone. Maksudnya agar akar pohon bisa tahan dengan kondisi tanah di sini.

“Saya mulai tanam buah Tin di tanah pada 2012. Tapi ada persoalan, akar pohonnya tidak kuat dengan kondisi tanah. Karena itu, sekarang saya pakai teknik grafting yakni mengkombinasikan dengan pohon Loa karena akarnya cukup kuat di tanah sehingga daya serap nutrisi lebih ke batang atas. Pohon Loa ini juga cukup kompak dengan pohon Tin karena jenisnya masih satu keluarga Moraceae” jelasnya.

Rana mengatakan, pohon Tin memiliki keunikan tersendiri karena dapat berbuah cepat dan tanpa mengenal musim. Bahkan, buah Tin ini boleh dibilang superfood karena memiliki kandungan nutrisi yang hampir lengkap.

“Pengalaman para musafir di timur tengah, mereka bisa jalan berhari hari berminggu minggu hanya dengan membawa kantong air dan mengkonsumsi buah Tin. Jadi, mereka tidak kekurangan supply nutrisi hanya dengan satu buah itu,” bebernya.

Ia mengungkapkan, budidaya tin tidak terlalu sulit dalam perawatannya. Seperti penyiramannya dapat dilakukan setiap hari agar pertumbuhan pohon bagus dengan catatan air tidak perlu diberi terlalu banyak, karena akan berpengaruh pada pembusukan akar. Sedangkan untuk pemupukan, ia menggunakan pupuk organik dari kotoran hewan ternak yang dicairkan dalam kolam. Pemupukan paling bagus dilakukan seminggu sekali dengan konsentrasi rendah.

Adapun musuh utama pohon Tin yaitu hewan penggerek batang. Hewan ini, biasanya ditemukan pada pohon mangga dan senggon yang suka melubangi batang-batang pohon Tin. “Untuk mengatasinya, saya pakai cairan asap sekam yang disiramkan setiap seminggu sekali. Ini sudah diujicobakan dan sejauh ini setelah diaplikasikan, belum pernah kena serangan hama,” ujarnya.

Selain hewan penggerek batang, kendala lainnya yaitu karat daun tin. Namun, untuk karat daun yang terjadi pada pohon tin tidak akan terlalu mematikan dan daun karatnya tinggal dibuang saja. “Kendala lainnya yakni cuaca hujan. Untuk mengurangi buah dari paparan air hujan, saya gunakan gelas air minuman mineral dipasang di bagian batang buah. Gelas ini juga fungsinya untuk menghindari agar buah tidak dimakan burung,” ungkapnya.

Saat ini, Rana telah membudidayakan 100 pohon tin dengan teknik grafting. Menurutnya, peluang usaha tin masih cukup terbuka lebar, karena pasarnya ada, bahkan di pasar modern belum semua menjual Tin. Ia menambahkan, budidaya buah Tin juga cocok untuk urban farming di tengah pandemi sekarang ini yang sangat bermanfaat bagi kesehatan dan daya tahan tubuh.

“Jadi, kalau mau urban farming sebagai tanaman pekarangan boleh dengan menggunakan polybag. Kalau mau langsung di tanah juga boleh sebagai perkebunan cuma kendalanya jika dalam skala luas tidak boleh terpapar air yang terlalu banyak apalagi pas di musim hujan. Jadi, solusinya harus green house atau di gunduk dengan diberi bentengan agar air tidak tergenang karena kalau tergenang akarnya bisa busuk,” pungkasnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.