“KRL” Bojonggede Punya Laboratorium Sampah Organik dan Ingin Miliki Homestay Eduwisata

0 28

Heibogor.com – Bagi warga Perumahan Puri Artha Sentosa RW 13. Desa Waringin Jaya, Bojonggede, Kabupaten Bogor awalnya khawatir dan terganggung dengan gundukan sampah yang terus menggunung setiap saat. Dari situlah warga mencari inovasi agar sampah menjadi hal yang bernilai ekonomis nan bermanfaat.

Adalah Ketua RW 13 Desa Waringin Jaya, Taufik menuturkan di sela-sela kegiatannya bahwa dirinya dan warga perumahan gotong royong memanfaatkan sampah dan kesadaran akan pemanfaatan lahan menjadikan lingkungan tempat mereka tinggal dikenal sebagai Kampung Ramah Lingkungan (KRL).

Selain pupuk tanaman hidroponik, dimanfaatkan juga sebagai pupuk organik tanaman warga sekitar seperti buah dan sayuran. Mikail/heibogor.com

Tak hanya itu juga terdapat laboratorium tanaman hidroponik di mana bahan utama berupa pupuk terbuat dari sampah organik. “Sampah organik ini kami olah menjadi pupuk. Ada alat penghancurnya dipisah antara sampah basah dan kering. Sampah basah ini kita manfaatkan sebagai pupuk tanaman hidroponik,” kata Taufik saat ditemui heibogor.com, Selasa (29/9/20).

Selain pupuk tanaman hidroponik, dimanfaatkan juga sebagai pupuk organik tanaman warga sekitar seperti buah dan sayuran. Bahkan beberapa sampah yang terdapat di bank sampah dapat diolah dan dijual kembali seperti berbahan kardus dan kaca.

“Karena kita ada bank sampah untuk pengolahan sampah, baik sampah kering atau basah dan residu sampah kering kita kumpulkan, kami olah kemudian dijual kembali seperti bahan kardus dan kaca gelas,” jelasnya.

Bahkan masyarakat di RW 13 secara bahu membahu dapat memproduksi pupuk sendiri berbahan dasar sampah yang belakangan kerap dijual ke luar daerah untuk budidaya serupa. Umumnya, pupuk seharga Rp8.500 per 350ml dijual ke teman kantor dan pekerja dari warga sekitar.

Sementara, hasil media tanam hidroponik berupa kangkung, selada, bayam dan sawi dikonsumsi pribadi oleh warga sekitar. Tak jarang hasil panen juga dijual dalam skala lokal serupa dengan penjualan pupuk. Selain memanfaatkan sampah sebagai pupuk, sampah kering di lingkungan ini pun diolah menjadi berbagai bentuk kerajinan khususnya yang berbahan dasar plastik. “Bungkusan plastik kering itu kita olah menjadi bentuk tanaman hias dan baju, ya dimanfaatkan saja dari pada terbuang,” ucap Taufik.

Di tempat yang sama, Koordinator Rumah Hidroponik RW 13, Rusin Lajudi menambahkan ide ini muncul dari warga setempat karena mereka ingin menciptakan usaha skala kelompok yang dapat menunjang ketahanan pangan di lingkungannya

“Sebenarnya di bawah naungan koperasi, swadaya masyarakat warga sini saja. Kami cetuskan usaha yang paling tidak menunjang ketahanan pangan, memang belum maksimal tapi dengan adanya hidroponik ini tidak ada lagi alasan tak ada lahan untuk mempertahankan ketahanan pangan,” paparnya.

Koordinator Rumah Hidroponik RW 13, Rusin Lajudi menambahkan ide ini muncul dari warga setempat karena mereka ingin menciptakan usaha skala kelompok yang dapat menunjang ketahanan pangan di lingkungannya Mikail/heibogor.com

Rusin menambahkan, mereka secara swadaya ingin menjadikan lingkungan mereka sebagai lokasi eduwisata bagi pelajar dan mahasiswa yang ingin belajar bagaimana dari pengolahan sampah dapat menjadi ketahanan pangan skala komunitas dalam satu wilayah. Berkaca dari sebelumnya yang sempat ditengok sejumlah pelajar dan mahasiswa.

Meski begitu, masih ada kendala lain yang harus dihadapi yakni ketersediaan lahan luas dan sejumlah fasilitas guna menampung tamu-tamu yang berkunjung dan sarana belajar para tamu. “Kami ingin skalanya lebih besar menuju KRL sebagai edukasi, dan memiliki rancangan menjadi eduwisata ada home stay untuk tamu, tapi kita belum siap karena belum ada home stay dan perlunya dukungan pemerintah setempat,” pungkas pria asal Sulawesi itu.

Berkat hal ini tidak mengherankan dalam 3 tahun belakangan lingkungan tersebut selalu ikut serta dalam lomba KRL mewakili Kecamatan Bojonggede. Tahun ini, KRL-nya naik 1 tingkat menjadi lingkungan zero waste karena pemanfaatan sampah non asap melalui penilaian tim Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.