Hasil Riset Minta Pemkot Bogor Lebih Aktif dan Rangkul Seluruh Profesi Sosialisasi Covid-19

0 33

Heibogor.com – Berdasarkan hasil riset yang dilakukan Social Resilience Lab Nanyang Technological University (NTU) bertajuk ‘Survei Persepsi Risiko Covid-19’ yang dilakukan sejak 15 Agustus hingga 1 September 2020, menunjukkan sejumlah kelemahan jajaran Pemerintah Kota Bogor dalam memberikan sosialisasi.

Usai mendengarkan hasil riset yang dipaparkan oleh Associate professor NTU, Sulfikar Amir secara virtual, Wali Kota Bogor, Bima Arya menyampaikan, ke depan Pemkot Bogor akan lebih memperkuat edukasi secara maksimal dengan melibatkan dokter dan tokoh agama sehingga diharapkan warga Kota Bogor lebih sadar dan paham bahwa Covid-19 itu berbahaya dan nyata.

“Hasil riset yang disampaikan tadi menguatkan landasan Pemerintah Kota Bogor untuk menerapkan secara maksimal PSBMK (Pembatasan Sosial Berskala Mikro dan Komunitas) dan tidak memilih PSBB. Rencananya, PSBMK secara lebih maksimal akan kita umumkan pada Senin (14/9) besok,” ungkap Bima Arya didampingi wakilnya Dedie A Rachim usai mengikuti pemaparan hasil riset dari Balai Kota Bogor, Jumat (11/9/20).

Masih kata Bima, selain itu, Pemkot akan memperkuat protokol kesehatan yang kolaboratif dengan semua pihak. Hal tersebut tidak terlepas dari hasil riset di mana sebanyak 50 persen bingung covid-19 buatan manusia atau bukan. Bahkan yang percaya covid-19 buatan manusia sebanyak 14 persen. Artinya sebagian besar warga Kota Bogor belum teredukasi dengan baik dan 90 persen warga terpapar secara ekonomi.

Atas dasar tersebut, Bima beralasan memilih memaksimalkan penerapan PSBMK. Hasil riset juga menunjukan bahwa Kota Bogor memiliki modalitas sosial yang luar biasa berupa solidaritas yang kuat antar sesama warga. Untuk itu, program Jaga Asa (Jaringan Keluarga Asuh Kota) akan digencarkan kembali, di mana keluarga yang mampu secara ekonomi bisa membantu keluarga yang membutuhkan.

“Jadi, bisa dibayangkan ketika tidak teredukasi, tidak paham dan terpapar secara ekonomi, kemudian kita terapkan PSBB secara ketat tanpa dibantu secara ekonomi, maka tidak mungkin. Selain itu penerapan PSBB membutuhkan jumlah personel yang cukup untuk mengamankan, butuh anggaran bantuan sosial yang cukup,” ungkapnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.