Djoko Suratno Sulap Kardus Bekas Jadi Guci Antik nan Cantik Bernilai Ciamik

0 16

Heibogor.com – Tak ada yang tak bisa jika kita memiliki kemauan dan niat. Seperti yang dilakukan oleh Djoko Suratno yang memilih memanfaatkan sampah kardus bekas. Warga Kelurahan Kedung Badak RT 02/RW 12, Kota Bogor, mampu membuat guci cantik yang tidak kalah menarik dari guci keramik.

Biasanya guci terkenal dari tanah liat yang dibuat dengan teknik gerabah yakni memutar bahan tanah liat namun, Djoko menjamin meski terbuat dari kardus dicampur dengan sisa nasi yang dilembutkan sebagai perekat, guci ini dijamin kuat dan tahan lama serta anti pecah.

Djoko menceritakan, ide kreatifnya ini, muncul dipikirannya pada tahun 2009 sejak ia berada di dalam rumah tahanan (rutan) di Kota Malang, Jawa Timur. Seni keterampilan tangan yang ia kembangkan itu, menjadi salah satu kegiatan warga binaan yang dikelola dan dikembangkan pihak rutan.  Alhasil, produk dari limbah kardus buatannya diikutsertakan dalam sebuah pameran kerajinan tangan. Bahkan sampai ada yang laku terjual dalam pameran tersebut.

“Jadi, selain untuk menghilangkan jenuh, prakarya yang dilakukan ini diharapkan bisa menjadi modal para warga binaan kelak setelah selesai menjalani masa tahanan dan keluar dari rutan. Dari situ inovasi dan keterampilan ini saya dapat dan masih saya tekuni sampai sekarang,” ungkapnya, Rabu (9/9/20).

Djoko Suratno menyelesaikan pembuatan guci dari limbah kardus, Rabu (9/9/20). Bahan dasar pembuatan guci ini adalah dari kardus bekas yang dipotong-potong kecil kemudian direndam dalam air supaya dapat hancur menjadi bubur kertas. Bubur kertas kardus kemudian dicampur dengan sisa nasi yang dilembutkan sebagai perekat untuk bisa dibentuk menjadi aneka karya yang diinginkan. (heibogor/Andi)

Ia menjelaskan, bahan dasar pembuatan guci ini adalah dari kardus bekas yang dipotong-potong kecil kemudian direndam dalam air supaya dapat hancur menjadi bubur kertas. Bubur kertas kardus kemudian dicampur dengan sisa nasi yang dilembutkan sebagai perekat untuk bisa dibentuk menjadi aneka karya yang diinginkan.

“Selain guci, saya juga membuat asbak, aksesoris atau gantungan lampu hias, pigura untuk foto yang semuanya terbuat dari limbah kardus. Meski dibuat dengan proses yang masih manual, tapi produk ini, saya jamin kuat, tahan terhadap air dan bisa bertahan lebih dari 5 tahun,” ungkap Djoko saat ditemui di kediamannya yang tengah menyelesaikan pembuatan guci yang dililit naga.

Pria yang juga pengurus di Bikers FKPPI Bogor ini mengungkapkan, proses pembuatan satu buah guci bisa memakan waktu 1 minggu sampai 10 hari tergantung besar ukuran dan tingkat kesulitan model yang dibuat. Sedangkan untuk harga jualnya mulai kisaran Rp750 ribu sampai Rp 9 juta.

“Ya, awalnya saya juga kaget ternyata nilai jualnya cukup fantastis mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Tapi dibalik itu semua, saya berharap prakarya seperti ini dapat memotivasi dan ditularkan kepada orang lain agar memiliki modal keterampilan dalam menjalani hidup. Saya juga berencana mengajarkan ini kepada siswa taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD),” ucapnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.