Pentingnya Kenali Etika Fotografi di Ruang Publik

0 26

Heibogor.com- Penggemar Fotografi baik penghobi, profesional hingga jurnalis foto tentu ketika mengambil gambar banyak waktu dihabiskan di ruang publik yang bebas dari sejumlah aturan.

Namun, ‘bebas’ bukan berarti kita terlepas dari segala tuntutan tanpa menerapkan etika dalam memotret yang ada di sekeliling kita atau memotret objek yang akan kita ambil gambar. Tentu hal ini berlaku tak hanya bagi seorang jurnalis foto, juga berlaku bagi para penghobi fotografi.

Dalam diskusi “Etika Fotografi, Hukum dan Penggunaan Foto Jurnalistik” yang digelar oleh Kelompok Wartawan (Pokwan) DPRD Kabupaten Bogor menghadirkan Robinsar Opak, Fotografer senior yang juga mantan Kepala Divisi Hukum dan Advokasi Pewarta Foto Indonesia (PFI) induk periode 2015-2019, Kamis (27/8/20) kemarin menegaskan pentingnya etika dalam memotret di ruang publik.

Menurutnya, menerapkan etika yang baik dalam memotret objek yang akan kita foto perlu diterapkan di mana pun kita berada lantaran berkaitan dengan hubungan kita sesama manusia lainnya.

“Etika fotografi kerap dilupakan. Etika ini penting karena berkaitan dengan manusia lain. Bila kita beretika baik, kita mendapatkan keterbukaan masyarakat, diterimanya kita bila berada dalam lokasi mereka,” ujarnya.

Bila kita yang ingin memotret seseorang. Pastikan kita melakukan pendekatan terlebih dahulu kepada orang tersebut sebelum memotret. Jelaskan kepada orang itu apa maksud dan tujuan kita memotret. Jangan sampai orang itu tidak nyaman dengan kita sehingga tidak menerima keberadaan kita di lokasi.

Paling tidak, orang tersebut tidak keberatan bila kita ambil gambar dirinya meski berada di area publik. Tak hanya itu, dalam area publik banyak aktivitas publik hinga orang yang sebenarnya juga dapat kita ambil gambar. Jangan pernah lupa untuk meminta izin terlebih dahulu kepada mereka, buat diri mereka merasa nyaman tanpa adanya rasa terintimidasi.

“Pun sama di jalanan, banyak anak jalanan, pengemis, pemulung dan aktivitas. Tapi jangan lupa kita izin dahulu ke mereka. Itu etika yang benar,” jelas pria yang akrab disapa Bang Opak tersebut.

Sama halnya dengan memotret di ruang privasi atau tempat terbatas seperti perkantoran, gedung pemerintahan, intansi, hingga mall. Dalam ruang terbatas seperti ini sangat diperlukan izin khusus terlebih dahulu sebelum memotret karena bukan lagi termasuk area publik.

Pembahasan soal etika dalam memotret tak berakhir di sana. Hal yang belum terpecahkan seperti perdebatan kemanusian dan mengejar momen seperti ‘motret dahulu atau menolong dahulu’ pada korban kecelakaan, bencana alam pun sempat dibahas. Opak menyarankan, ambil jalan tengah solusi terbaik keduanya.

“Pada situasi seperti ini, ambillah jalan tengah sesuai situasi. Tapi jangan juga melupakan tugas sebagai jurnalis foto” terangnya.

Ditambah, pemilihan gambar untuk dipublikasikan dalam media massa jangan sampai membuat keluarga korban atau sang korban membangkitkan rasa traumanya. Media harusnya menutup baik-baik privasi korban dan keluarganya jangan sampai wajahnya terpublikasi.

“Contoh konkret, misalnya kasus kekerasan seksual. Jangan tampilkan wajah korban, itu akan membuatnya trauma dengan wajahnya tersebar. Pilihlah foto yang mewakili kasus tersebut,” ungkapnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.