Masjid Al Muhajirin Sediakan Sambungan Internet Bantu Siswa Belajar Daring

0 95

Heibogor.com – Sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dilakukan secara daring membuat sejumlah siswa di Kota Bogor, kesulitan dalam menerapkannya. Di antaranya banyak orang tua siswa tak mampu membeli paket kuota internet atau menyediakan handphone (HP) untuk anaknya belajar.

Dari keluhan orang tua atas persoalan tersebut, Dewan Kemakmuran Masjid  (DKM) Jami Al Muhajirin di wilayah RW 06, Kelurahan Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur, memberikan internet gratis untuk guru dan anak sekolah dari berbagai jenjang sekolah daring.

Pengurus DKM Masjid Jami Al Muhajirin, Bayu Abe Hendrawan (45) menyampaikan, penyediaan internet gratis ini, bertujuan agar mereka nyaman belajar tanpa khawatir kuota.

Untuk mensosialisasikan layanan ini, pihaknya mengumunkan lewat pengeras suara (toa) dan mensosialisasikannya kepada pengurus RT RW, dan selama proses belajar para siswa tetap menjalani protokol kesehatan dengan mencuci tangan sebelum masuk masjid.

Ia menerangkan, langkah yang dilakukan ini adalah hasil rapat dan kesepakatan bersama antar jamaah yang dilatarbelakangi dari adanya informasi siswa yang kesulitan belajar di masa pandemi ini terutama dalam hal kuota.

Dari 10 RT yang ada di RW 06 ini atau dari sekitar 746 KK hampir 30 persennya adalah warga kurang mampu dan sangat terdampak secara ekonomi di masa pandemi ini.

“Dari itu, kami sepakat memfasilitasi anak-anak dan guru memakai internet secara gratis. Ini baru berjalan hampir satu bulan. Kita buka dari mulai jam 07.00 sampai 17.00 WIB. Kurang lebih sekitar 15 anak yang belajar di masjid ini setiap harinya didampingi guru pendamping. Semua pelajar baik muslim maupun non muslim kita akomodir karena masjid harus bermanfaat bagi semua,” jelasnya, Senin (24/8/20).

Ia menambahkan, selain menyediakan WiFi, pihaknya juga menyiapkan hp untuk siswa yang tidak memiliki hp, meja lipat dan ruangan khusus belajar yang sekarang masih dalam tahap finishing.

“Awalnya kita sediakan WiFi. Setelah kita analisa lagi ternyata HP yang dipakai belajar kadang rebutan dengan orang tuanya yang juga perlu buat kerja. Akhirnya kita sediakan hp di sini. Lalu kita juga dapat info di sini ada keluarga guru cuma dikasi Rp 25 ribu untuk mengisi kuota. Itu sekali nge Zoom juga selesai. Akhirnya kita tarik juga guru-guru boleh ngajar di sini,” terangnya.

Itu semua adalah hasil swadaya warga, sambung Bayu. Di mana, DKM Masjid Jami Al Muhajirin memiliki program sosial yang sudah berjalan cukup lama dengan nama Kencleng yakni gerakan infak 500 perak. Kenclengan ini, disimpan di rumah-rumah warga dan akan diambil setiap dua minggu sekali.

“Ada sekitar 500 kenclengan yang disebar ke warga. Sebulan dua kali kita tarik dan rata-rata bisa terkumpul Rp 8-10 juta dalam sebulan. Awalnya ini untuk santunan kematian dan kegiatan bakti sosial. Karena ada situasi seperti ini, akhirnya kita pasang jaringan internet untuk kebutuhan warga. Jadi pemanfaatannya dari warga untuk warga,” ungkapnya.

Sementara, Faturrahman (13) salah seorang siswa yang belajar di masjid mengatakan, orang tuanya kesulitan membeli kuota internet karena tak memiliki penghasilan tetap. Siswa MTS Darul Ma’wa ini mengungkapkan, untuk belajar daring ia harus meminjam hp orang tuanya dan membeli paket internet sekitar Rp100 ribu.

“WiFi gratis ini sangat membantu. Saya tahu dari tetangga, makanya sekarang belajar di sini. Sudah hampir sebulan lah belajar di sini,” ucapnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.