Pengrajin Cobek Batu Bojong Koneng Terus Kebanjiran Permintaan di Tengah Gempuran Teknologi Dapur Modern

Butuh Uluran Modal dan Dukungan Pemerintah

0
Warning: A non-numeric value encountered in /www/wwwroot/heibogor.com/wp-content/themes/publisher/includes/func-review-rating.php on line 212

Warning: A non-numeric value encountered in /www/wwwroot/heibogor.com/wp-content/themes/publisher/includes/func-review-rating.php on line 213
18

Heibogor.com – Sudah puluhan tahun warga di Kampung Garungsang RT02/RW05, Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, menjalani usaha pembuatan cobek batu. Salutnya, di era teknologi sekarang ini, warga di kampung tersebut memilih tetap bertahan sebagai pengrajin tradisional di tengah kemajuan peralatan dapur modern.

Jika Anda mengunjungi kampung ini, bisa dilihat di sejumlah rumah terdapat gundukan batu yang ditumpuk. Selain itu, terdengar pula suara percikan batu yang ditempa di rumah-rumah warga. Dikatakan warga, dari 136 KK yang tinggal di kampung tersebut, 75 persennya adalah pengrajin cobek batu. Sedangkan sisanya lagi adalah petani dan wirausaha.

Saat menyambangi lokasi tersebut, ada dua tempat pembuatan cobek batu. Pertama, di rumah-rumah. Kedua, yang langsung dibuat di atas perbukitan yang terletak di belakang kampung. Sedikitnya ada sekitar 50 saung pembuat cobek di bukit itu dan di atas bukit itu juga bahan batu untuk cobek didapat. Di mana, sebagian warga bekerja menggali lahan perbukitan yang mengandung batu yang disinyalir berasal dari muntahan materi gunung.

Batu tersebut kemudian dipotong dengan alat pahat dan palu. Meski sudah ada yang menggunakan mesin dalam membuat cobek tapi kebanyakan warga Kampung Garungsang masih membuatnya secara manual.

Salah satu tokoh masyarakat yang juga pengrajin cobek batu, Suganda mengatakan, Desa Bojong Koneng terkenal dengan usaha pembuatan cobek batu yang sudah dijalani selama puluhan tahun. Sebagian besar pengrajin di daerah ini memang masih memiliki ikatan saudara. Maklum, keahlian mereka menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ia menyatakan, meski peralatan dapur sudah modern tapi permintaan pasar terhadap cobek batu masih tinggi namun meski sudah banyak pengrajin serupa di beberapa daerah, ia mengklaim produk buatan kampung ini memiliki kualitas nomor 1 karena dibuat secara manual dan murni menggunakan bahan baku batu.

“Kalau di tempat lain pakai cor-coran (adonan semen), kalau kami menggunakan batu utuh asli,” kata Suganda, akhir pekan kemarin.

Ketua RT02 ini menjabarkan, dalam sehari setiap orang bisa membuat 5-6 cobek. Jika 5 cobek dikali 50 orang berarti sudah ratusan cobek diproduksi. Sedangkan di sini ada ratusan warga yang membuat cobek. Berarti bisa sampai ribuan cobek diproduksi per harinya. Itu baru dari satu kampung. Belum dari kampung yang lain.

Produk ini, tidak hanya dijual ke sejumlah pasar di Bogor dan Jakarta saja, sambungnya, melainkan sudah melalangbuana hingga luar kota dan luar pulau Jawa. Untuk harga yang ditawarkan pun beragam menyesuaikan dengan diameter barang yakni mulai dari Rp 15 ribu sampai dengan Rp 30 ribu.

“Meski permintaan pasar tinggi, kita belum bisa memenuhi semuanya karena faktor modal terbentur dengan kebutuhan sehari hari. Jadi, untuk modal hari-hari masih pinjam dari orang ke orang. Prinsipnya yang penting hari ini kerja nanti sore bisa makan,” bebernya.

Ia mengungkapkan, walaupun sudah puluhan tahun berjalan tapi usaha ini tidak bisa berkembang karena tidak adanya pemodal serta pendamping yang membantu memasarkan. Padahal ini sudah terkenal bahkan menjadi budaya kerajinan tangan ciri khas di Bojong Koneng.

“Jadi, itu kendala yang kami rasakan. tidak ada yang mendampingi untuk pengembangan usaha. Tidak ada pemodal, tidak ada yang membantu memasarkan. Kurang perhatianlah dari pemerintah. Padahal budaya kerajinan tangan di lebih dari 7 desa ini bisa menjadi sumber ekonomi dan wisata baik bagi warga maupun pemerintah. Kan warga juga bisa dibina untuk membuat produk lain selain cobek seperti patung, meja, kursi atau aksesoris lainnya yang terbuat dari batu,” ungkapnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.