Atraksi Topeng Monyet Bentuk Kekejaman dan Eksploitasi Hewan

0 43

Heibogor.com – Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) sering dijadikan bahan eksploitasi lewat pertunjukan topeng monyet. Atraksi topeng monyet masih banyak ditemui di sejumlah daerah termasuk di Bogor. Meski tidak termasuk kategori binatang yang dilindungi oleh negara, namun eksploitasi monyet banyak dikecam oleh organisasi perlindungan binatang.

Manager animal management YIARI Bogor, drh Wendi Prameswari menjelaskan, Monyet ekor panjang merupakan satwa primata berkelompok yang sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Dikarenakan perdagangan, pembukaan hutan, pemeliharaan, dan minimnya data informasi populasi. Saat ini, statusnya baru saja dinaikkan oleh IUCN dari Least Concern menjadi Vulnerable (rentan).

Menurutnya, atraksi topeng monyet merupakan salah satu contoh kekejaman pada satwa yang justru dianggap hiburan oleh masyarakat. Pada dasarnya, atraksi topeng monyet melanggar prinsip animal welfare.

Ada lima prinsip kesejahteraan hewan (Five Freedoms) yang dimaksud dalam animal welfare yaitu pertama, bebas dari rasa haus dan lapar (Freedom from hunger and thirst). Kedua, bebas dari rasa ketidak nyamanan/penyiksaan fisik (Freedom from discomfort). Ketiga, bebas dari rasa sakit, cedera dan penyakit (Freedom from pain, injury and disease). Keempat, bebas untuk mengekspesikan perilaku alamiah (Freedom to express normal behaviour). Dan yang kelima, bebas dari ketakutan dan rasa tertekan (Freedom from fear and distress).

Isu kesejahteraan hewan di Indonesia diangkat oleh Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia dari tahun 2000an. Kesejahteraan hewan di Indonesia sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 yang kemudian direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 41 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Ketentuan kesejahteraan hewan dalam Undang-Undang itu kemudian dirinci lagi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan.

“Jadi, meskipun sudah jinak, hewan ini berpotensi bisa membahayakan manusia. Hal itu (tidak welfare) dapat dilihat dari awal proses penangkapan, “pendidikan” monyet yang tidak dapat berperilaku normal dan sangat stres seperti dipaksa untuk berjalan 2 kaki, kemudian risiko menularkan penyakit zoonosis (dari monyet ke manusia maupun sebaliknya),” terangnya saat dikonfirmasi melalui pesan singkat pada Kamis (30/7/20).

Terkait masih adanya eksploitasi hewan seperti atraksi topeng monyet, ia menyarankan perlu adanya edukasi kepada masyarakat mengenai hal ini (topeng monyet, red). Bahwa atraksi topeng monyet merupakan salah satu bentuk eksploitasi satwa. “Tugas para pihak berwenang untuk bisa melakukan penertiban juga,” pungkasnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.