Nostalgia Buku dan Kaset Lawas di Terminal Musik dan Buku Djadoel Babeh Ian, Bikin Kangen Tempo Dulu!

0 47

Heibogor.com – Keberadaan barang-barang lama seperti kaset pita, piringan hitam (Ph), dan buku-buku lawas kini sudah langka ditemui. Sejumlah pedagang yang dulu menjual barang-barang bekas itu pun banyak yang gulung tikar atau berpindah profesi.

Namun, meski dipukul mundur oleh kemajuan zaman, masih ada penjual yang bertahan menjajakan barang-barang jadul itu seakan menolak mati. Contohnya penjual kaset dan buku jadul yang lapaknya dapat ditemui di daerah Cibatok, Cibungbulang, Kabupaten Bogor, dengan nama “Terminal Musik dan Buku Djadoel”. Di sini terdapat ratusan koleksi musik dan buku dari dalam dan luar negeri yang terkenal di zamannya.

Pemiliknya bernama Ian (58) atau yang akrab dipanggil Babeh Ian. Ia menjelaskan, koleksi musik pita kaset yang ia punya berjumlah ribuan. Sedangkan piringan hitam (Ph) ada ratusan. Tapi hanya sebagian yang ia bawa ke lapak, sebagian lagi di simpan di rumah. Di sini ada berbagai macam aliran musik mulai dari rock classic, pop, dangdut, jazz, blues, melayu dan lain-lain yang dibawakan oleh penyanyi solo maupun grup band dari Indonesia ataupun mancanegara di era tahun 60 hingga 80an.

“Kaset ini saya jual Rp 10-15 ribu. Ada juga yang saya jual Rp200 ribu tergantung kelangkaannya. Dan yang banyak dicari itu musik Indonesia seperti Guruh Soekarno, atau kasetnya Leo Kristi, Mogi Darusman, Gank Pegangsaan atau piringan hitamnya Tielman Brothers,” kata Babeh Ian, Selasa (21/7/20).

Kemudian untuk buku-buku lawas, di rak yang tersusun rapi itu terdapat buku politik, agama, budaya, sastra, keterampilan, sejarah, bahasa, hukum, tokoh, ekonomi, komik, majalah, dan lain-lain. Untuk kalangan anak sekolah buku yang paling banyak dicari itu novel. Itu pun tugas dari gurunya.

Kalau anak-anak kuliahan biasanya nyari buku-buku referensi untuk bikin skripsi. Tapi ada juga anak-anak mahasiswa yang mencari buku-buku tentang politik, pergerakan, tokoh-tokoh kiri, seperti Tan Malaka, buku-buku sastra Pramoedya, Sapardi Djoko Damono.

“Buku-buku Belanda juga banyak. Di sini ada buku keluaran tahun 50an, yang lebih tua juga pernah ada tahun 1800. Untuk harga kisaran dari Rp10 ribu sampai 500 ribu tergantung kelangkaan. Rata-rata pembelinya adalah anak muda dari Jabodetabek. Ramainya biasanya Sabtu Minggu,” ucapnya.

Pria yang menyukai buku sastra ini mengungkapkan, kaset dan buku-buku ini didapat dari pencariannya sendiri namun ada juga yang ia beli dari orang-orang yang menganggap kaset dan buku-buku lama ini sudah tidak terpakai. “Daripada dibuang atau dikilo kan sayang. Jadi, mereka bawa ke sini dijual ke saya. Tapi disortir dulu baik dari kondisi fisik dan lain-lainnya,” kata Babeh Ian.

Ia menuturkan, membuka lapak di daerah Cibatok ini baru empat tahun. Tapi sudah menjalankan usaha penyewaan buku ini sejak ia kecil waktu masih tinggal di Jakarta. “Karena saya tak punya keterampilan lain dan tak bisa berdagang yang lain, jadi ini saja yang saya jalani sebagai sumber nafkah buat hidup,” ungkap Babeh Ian yang pernah menjadi pedagang kaki lima dalam menjual kaset dan buku jadul di daerah Jakarta.

Bagi Babeh Ian, meskipun zaman sudah berubah dengan kemajuan teknologinya, barang-barang lama seperti kaset dan buku ini tidak akan mati. Menurutnya, musik itu universal mengenai rasa, kepekaan dan punya kesan sendiri. Begitupun buku lama juga punya nilai kebenaran sendiri dalam membuka wawasan.

“Bagi penikmat musik maupun buku justru makin lama makin langka makin dicari. Dan selama saya di sini empat tahun, anak-anak muda yang mencari musik maupun buku makin banyak bukan makin berkurang. Makanya sekarang banyak gerakan-gerakan literasi untuk menghidupkan kembali minat baca khususnya lewat buku,” kata Babeh yang membuka lapak setiap hari dari jam 08.00-17.00 WIB itu.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.