Warga Cikeas Bebersih Sungai Ciliwung Cegah Banjir dan Longsor

Olah Sampah Jadi Kampung Ramah Lingkungan

0 55

Heibogor.com – Warga RW 05, Desa Cikeas, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, didampingi Kelompok Jaringan Masyarakat Peduli Daerah Aliran Sungai (Jampedas) mengadakan aksi bersih-bersih lingkungan di bantaran Kalibaru untuk menormalisasi daerah aliran Sungai Ciliwung untuk mencegah terjadinya banjir.

Ketua RW 05, Heri Yuliansah menyampaikan, beberapa hari lalu terjadi longsor. Dari itu, dilakukan kerjabakti membersihkan sampah dan sisa longsoran yang menutupi aliran anak Sungai Ciliwung. Ia mengungkapkan, kalau masalah lingkungan warga RW 05 cukup peduli karena itu menyangkut dengan kesehatan warga sekitar.

“Kami juga punya program bersih-bersih lingkungan yang rutin dilakukan sebulan sekali. Kita pun selalu mengimbau warga agar tidak buang sampah ke kali agar bencana banjir dan longsor bisa dihindari,” ujar Heri, Sabtu (18/7/20).

Sementara, Ketua Jampedas, R Mursyid menambahkan, selain konsen pada pemberdayaan ekonomi dan penghijauan, Jampedas juga konsen terhadap pelestarian lingkungan dan aliran sungai.

“Kita rutin memonitor kondisi sungai, mendata titik longsor sampai penanganan sampah setiap satu bulan sekali kita lakukan bersih-bersih bekerjasama dengan RW setempat karena ini kan anak sungai Ciliwung yang hilirnya sampai ke Jakarta. Kalau di sini tersendat di hilirnya bisa terjadi banjir,” jelas Mursyid didampingi Wakil Ketua Jampedas, Dede Suherman.

Selain mendampingi kampung ramah lingkungan, sambung Mursyid, Jampedas juga fokus pada pengelolaan sampah yang sudah banyak membuat kelompok binaan di sejumlah wilayah di Kabupaten Bogor. Salah satunya kelompok swadaya masyarakat mitra Ruhai yang membuat Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST).

Dia mengajarkan warga bagaimana mengolah sampah berbasis Reuse, Reduce dan Recycle (3R). Mursyid menjelaskan, TPST ini mampu menggarap sampah hingga 1 ton dalam sehari. Sampah tersebut berasal dari enam RT yang warganya sudah tidak lagi membuang sampah sembarangan. Sampah yang terkumpul akan dipilah sesuai jenisnya yakni organik dan non organik.

Ia menjelaskan, sampah yang tidak bisa didaur ulang akan dibakar dalam Insinerator atau tungku pembakaran sampah. Sedangkan sampah yang bernilai ekonomis seperti botol plastik, botol kaca, kardus ataupun besi dikumpulkan untuk nantinya dijual ke pengepul. Atau ada juga yang didaur ulang menjadi paving block dan pot tanaman dari sampah tampon anak (diapers).

“Untuk sampah organik didaur ulang menjadi pupuk padat dan pupuk cair organik. Dalam sebulan, pupuk kompos yang dibuat dari sampah organik bisa sampai setengah ton. Pupuk ini, disebar dan pasarkan ke seluruh petani di Bogor,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pengelolaan sampah ini selain bisa menjadi sumber pemasukan bagi warga juga sebagai edukasi agar masyarakat bisa mengolah sampah menjadi kembali bermanfaat.

“Ini langkah dan upaya kami membuat kampung ramah lingkungan. Menerapkan pola hidup sehat dan membuat sampah menjadi berkah. Saya berharap pemberdayaan masyarakat lewat pengelolaan sampah dan lingkungan dapat menjadi contoh bagi wilayah lain,” pungkasnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.