Yayasan Herpetofauna Indonesia Kenalkan Sekaligus Belajar Karakter Satwa Reptil dan Amfibi

0 31

Heibogor.com – Reptil dan amfibi memiliki peran penting dalam ekosistem. Keduanya merupakan bagian dari keragaman hayati Indonesia yang harus dilestarikan. Kunci dari konservasi adalah edukasi. Dengan memperkenalkan satwa itu dan mengapa mereka penting, orang akan memahami dan mungkin bertindak untuk melestarikannya.

Namun, salah satu persoalan dalam proses pembelajaran adalah kurang tersedianya buku-buku yang sesuai dengan keadaan lokal sebagai alternatif sumber belajar Herpetofauna. Hal itu, menjadi salah satu sebab kurangnya pengetahuan masyarakat tentang reptil dan amfibi di Indonesia.

Dari persoalan di atas, sekelompok relawan di Bogor yang dipelopori oleh Nathan Rusli selaku pendiri Yayasan Herpetofauna Indonesia yang juga menaungi Ciliwung Herpetarium membuat buku pengetahuan tentang Herpetofauna dengan harapan dapat menjadi media pendukung dalam pembelajaran dan menyadarkan warga tentang perlunya konservasi Herpetarium.

General manager Ciliwung Herpetarium, Angga Risdiana mengatakan, Indonesia kaya akan keragaman hayati satwanya. Namun, belum banyak penulis di Indonesia yang membuat buku tentang Herpetofauna. Malahan penulis dari luar negeri banyak menulis tentang satwa yang notabene dari Indonesia.

“Dari itu, kami meluncurkan buku untuk menambah literasi pengetahuan khususnya Herpetofauna Indonesia agar orang lebih mengenal dan bisa ikut melestarikan alam dan satwanya,” kata Angga, Jumat (17/7/20). Angga menjelaskan, saat ini, sudah ada empat buku yang diluncurkan. Buku pertama diluncurkan tahun 2016 perihal ular. Judulnya, Mengenal Ular Jabodetabek.

Buku mengenal ular Jabodetabek/Snakes of Jakarta and It’s Surroundings yang ditulis oleh Nathan Rusli ini merupakan buku 2 bahasa (billingual) tentang identifikasi ular yang berada di wilayah jabodetabek. Terdiri dari 184 halaman dengan lebih dari 200 foto dan ilustrasi.

Kemudian buku kedua, masih perihal ular yang ditulis oleh Nathan Rusli. Judulnya, Ular di Sekitar Kita: Pulau Jawa, yang diluncurkan tahun 2019. Buku ini, dibuat saat konflik antara manusia dengan ular semakin hari makin banyak terjadi. Saat itu, berbagai pemberitaan media mengenai konflik tersebut pun semakin sering. Dari situ muncul pertanyaan,  Apakah semua ular memang berbahaya? Bagaimana tips menghindari gigitan ular?Bagaimana penanganan dasar bila terjadi gigitan ular berbisa?

Semua jawaban seputar pertanyaan tersebut disajikan dalam buku “Ular Di Sekitar Kita – Edisi Pulau Jawa”. Buku sederhana ini menyertakan informasi terkait biologi ular, pentingnya ular bagi ekosistem, jenis-jenis ular yang umum dijumpai di pulau Jawa, bagaimana agar ular tidak masuk ke rumah, menghindari gigitan ular, dan pertolongan pertama pada kasus gigitan ular berbisa.

Buku ini, disertai juga dengan ilustrasi dan foto berwarna, serta menggunakan bahasa yang sederhana agar pembaca lebih mudah memahami informasi yang disajikan. “Buku ini, dilengkapi juga dengan deskripsi mengenai beberapa jenis ular yang memiliki kemiripan dari segi fisik dengan tujuan membantu pembaca agar dapat lebih mudah membedakan jenis-jenis ular,” terangnya.

Angga melanjutkan, masih di tahun yang sama, Ciliwung Herpetarium bekerjasama dengan Taman Nasional Gunung Halimun Salak meluncurkan buku “Pesona Tersembunyi Gunung Salak” Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Dan yang terbaru diluncurkan di 2020 ini, buku tentang panduan fotografi ular di Jawa yang berjudul A Photographic Guide to the Snakes of Java. Buku keempat yang masih ditulis oleh Nathan Rusli ini, menggambarkan dengan jelas ciri-ciri khas ular tiap jenisnya.

Buku panduan identifikasi dalam bahasa inggris ini disertai dengan ilustrasi dan foto berwarna didalamnya, serta menggunakan bahasa yang ringkas untuk mempermudah pemahaman informasi yang disajikan. “Buku ini baru kita launching bulan ini. Dalam seminggu sudah 400 eksemplar dicetak dan terus bertambah. Karena buku ini berbahasa Inggris, buku ini paling banyak dipesan oleh Inggris dan Amerika,” bebernya.

Ia mengungkapkan, buku-buku ini dijual secara online. Selain dibeli oleh orang Indonesia, buku-buku ini juga banyak dipesan oleh orang luar negeri seperti Inggris, Amerika, Australia, Malaysia, Thailand, Singapura, Taiwan, dan Brazil.

“Keuntungan dari penjualan produk ini akan digunakan untuk kegiatan konservasi reptil dan amfibi di Indonesia,” ungkapnya. Masih kata Angga, selain menjual buku, Ciliwung Herpetarium juga membuka perpustakaan di basecamp-nya yang berlokasi di Jl. H. Wahid, Kampung Gelonggong RT 03 RW 05, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor.

“Kebanyakan buku ini didapat dari sumbangan dan buku tentang herpetofauna. Selain buku juga ada spesimen reptil untuk mendukung pembelajaran. Sebagai bagian dari Yayasan Herpetofauna Indonesia, kami menjalankan herpetarium kecil yang utamanya berfungsi sebagai fasilitas pendidikan bagi masyarakat. Kami akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi di sekolah, desa, dan komunitas publik lainnya, untuk mendidik masyarakat dan meningkatkan kesadaran tentang pelestarian alam,” tandasnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.