Ciliwung Herpetarium Tangani Satwa Liar yang Konflik dengan Manusia

0 68

Heibogor.com – Di beberapa wilayah di Bogor, konflik manusia dengan satwa liar seperti ular, biawak, dan kadal kerap terjadi akibat perubahan kawasan produktif seperti pemukiman, pertanian, perkebunan, dan bertambahnya populasi manusia.

Hal itu, menyebabkan makin berkurangnya kantung populasi dan mempersempit luasan area jelajah satwa liar. Konflik juga terjadi akibat perburuan berlebihan sehingga satwa dalam area konservasi mendatangi pemukiman.

Berlatarbelakang dari permasalahan di atas, organisasi Ciliwung Herpetarium hadir sebagai tempat edukasi yang gencar menyebarkan wawasan kepada masyarakat tentang penanganan satwa liar yang berkonflik dengan manusia.

Selain menjadi pusat pendidikan dan konservasi, Ciliwung Herpetarium juga membuka layanan servis rescue (penyelamatan) dan penampungan (karantina) sementara untuk satwa liar khusus reptil dan amfibi yang diselamatkan dari konflik dengan manusia sebelum dilepasliarkan (release) kembali ke habitat yang sesuai.

Diketahui, non government organization (NGO) ini, terbentuk tahun 2010 yang sebelumnya bernama Ciliwung Reptile Center. Kemudian di tahun 2017 berubah nama menjadi Ciliwung Herpetarium yang berada di bawah naungan Indonesia Herpetofauna Foundation

Sebagai pusat pendidikan konservasi, Ciliwung Herpetarium aktif mengadakan workshop dan seminar non profit ke sekolah-sekolah, kampus-kampus, instansi, hingga masyarakat umum. Program edukasi yang dijalankan ternyata menarik perhatian NGO dari dalam dan luar negeri.

Bahkan, sejumlah keeper dan volunteering dari berbagai negara seperti Australia, Inggris, Belanda, Amerika, Italia, sering berkunjung ke “basecamp” Ciliwung Herpetarium yang berlokasi di Jl. H. Wahid, Kampung Gelonggong RT 03 RW 05, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor.

Mereka datang untuk berbagi ilmu, ikut merawat hingga penyelamatan dan pelepasliaran satwa liar bersama Ciliwung Herpetarium. Bahkan, kru National Geographic pernah melibatkan Ciliwung Herpetarium dalam pembuatan film dokumenter tentang keanekaragaman hayati di Indonesia.

General manager Ciliwung Herpetarium, Angga Risdiana menjelaskan, Ciliwung Herpetarium dirintis oleh para relawan di Bogor yang hobi merawat reptil. Seiring berjalannya waktu, wadah ini kemudian berubah menjadi pusat konservasi. Hewan yang sering ditangani adalah jenis reptil dan amfibi seperti ular dan biawak yang sering berkonflik dengan manusia.

Angga mengungkapkan, selain dari hasil penyelamatan, hewan yang dikarantina disini didapat dari warga atau damkar kota dan kabupaten yang menangkap satwa liar yang masuk ke pemukiman warga. Satwa yang masuk kemudian diperiksa kesehatan dan fisiknya. Jika ditemukan ada luka atau sakit maka akan ditampung sementara untuk dirawat dan nantinya akan dilepasliarkan sesuai habitatnya jika telah siap dan sehat.

Saat ini, sambung Angga, ada empat aktivitas yang dijalankan Ciliwung Herpetarium yakni edukasi, karantina, rescue, dan release. Untuk hewan yang dikarantina hanya ada empat ekor yaitu Ular Cobra, King Cobra, dan dua ekor Ular Sanca batik (Python reticulatus).

Sedangkan yang di display untuk edukasi ada lima satwa yakni Ular pucuk (Ahaetulla prasina), ular majapahit (Trimeresurus albolabris), ular terbang (Chrysopelea ornata), ikan asli Ciliwung, dan Kura kura pipi putih (Black marsh turtle/Siebenrockiella crassicollis).

Untuk edukasi, di sini ada perpustakaan, spesimen, dan signage tentang lingkungan dan satwa sebagai penunjang edukasi bagi anak sekolah, mahasiswa ataupun warga yang datang untuk belajar tentang konservasi, khususnya mengenai herpetofauna.

“Edukasi yang kita berikan tentang pengenalan satwa yang ada di sekitar kita, pengenalan jenis-jenis ular, pertolongan pertama jika digigit ular, dan mitigasi konflik (cara dan penanganan di luar atau di dalam rumah).

Untuk menyampaikan informasi dan pesan konservasi kepada masyarakat umum, selain lewat media sosial kami mengadakan seminar maupun workshop ke sekolah, desa, dan komunitas publik lainnya untuk mendidik masyarakat tentang konservasi dan meningkatkan kesadaran tentang pelestarian alam,” jelasnya, Kamis (16/7/20).

Menurut Angga, konflik manusia dan satwa liar merupakan permasalahan kompleks dan menjadi salah satu ancaman besar karena melibatkan keselamatan manusia dan juga satwa itu sendiri.

Bahkan, konflik yang terjadi cenderung menimbulkan sikap negatif manusia terhadap satwa, yaitu berkurangnya apresiasi manusia terhadap satwa liar. Tidak jarang satwa liar yang berkonflik mengalami kematian akibat berbagai tindakan penanggulangan yang dilakukan.

Dari itu, Indonesia Herpetofauna Foundation yang didirikan oleh Nathan Rusli, bertujuan untuk membantu konservasi herpetofauna (kelompok satwa berjenis reptile dan ampibi) di Indonesia melalui upaya lintas sektoral.

“Sebagai bagian dari Yayasan Herpetofauna Indonesia, kami menjalankan herpetarium kecil yang utamanya sebagai fasilitas pendidikan bagi masyarakat. Selain sebagai fasilitas pendidikan, herpetarium juga berfungsi sebagai laboratorium untuk melakukan studi tentang ekologi dan perilaku hewan yang tidak dapat dilakukan di alam liar,” terangnya.

Angga mengungkapkan, karena ini organisasi non profit, untuk kelangsungan hidup organisasi, Ciliwung Herpetarium mendapat dukungan dan bantuan dari sejumlah NGO di samping ada juga penjualan merchandise seperti baju kaos, gelang, sedotan bambu, pin, tumbler, topi, poster, dan buku.

“Kami juga berkolaborasi dengan Taman Nasional untuk melepasliarkan satwa yang dikarantina. Selain memiliki program sendiri, organisasi ini berjalan untuk mendukung individu dan kelompok yang berkontribusi pada herpetologi dan konservasi herpetofauna di Indonesia,” pungkasnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.