Peduli Lingkungan Harus Dimulai dari Diri Sendiri dan Ajak Masyarakat Jaga Bumi Sejak Dini

0 33

Heibogor.com – Center for Public Relations, Outreach and Communication (CPROCOM) menyelenggarakan Climate Communication Forum (CCF) bertajuk “Cara Kreatif Kampanye Peduli Lingkungan” belum lama ini. Webinar kali ini berkolaborasi dengan lima perguruan tinggi (IPB, ITB, Universitas Padjadjaran, Universitas Mercu Buana, Universitas Bakrie), Climate Reality Indonesia, ISKI Pusat, Bandung Creative City Forum, Hutan Itu Indonesia, SeaSoldier Jakarta, Petualang Inspiratif, dan HBM TV.

Keynote speaker CPROCOM CCF 6, Wali Kota Bogor Dr. Bima Arya, mengatakan bahwa ada banyak program pemerintah yang bagus tapi nyaris tidak terdengar. Tantangan pemerintah adalah bagaimana mengajak masyarakat agar turut serta dalam program-program pemerintah. Karena itu, program pemerintah harus ada ‘wow effect’nya.

“Untuk melakukan kampanye peduli lingkungan harus membangun narasi besar yang membangkitkan memory collective masyarakat. Misal, dulu kota Bogor adalah kota hijau, bersih dan nyaman. Baru kemudian diturunkan menjadi beberapa pesan kunci,” ujarnya.

Bima juga mengambil contoh kampanye BOTAK (Bogor Tanpa Kantong Plastik) yang diluncurkan kota Bogor untuk mengurangi sampah plastik. Narasi lingkungan yang dibawa lebih efektif ketika ada gimmick yang menarik perhatian masyarakat. Langkah kampanye kreatif berikutnya, menetapkan target audiens yaitu siapa yang akan kita didik, siapa aktor-aktor yang bisa diajak kolaborasi dan membuat kampanye menjadi multiplier effect, dan kemudian biarkan publik mengemas kembali pesan-pesan kita secara kreatif.

Langkah terakhir, memanfaatkan berbagai media dimana kanal media saat ini sangat banyak, sehingga kita tidak bisa hanya mengandalkan kanal kita sendiri. Kita harus memetakan media komunikasi yang biasa diakses oleh publik kita.

Dosen Hubungan Masyarakat Universitas Padjadjaran yang juga Pengurus Pusat ISKI, Ade Kandarisman menekankan, apa pun strategi komunikasinya harus mengedepankan kearifan lokal, lalu dinarasikan menjadi pesan yang membumi. Poin-poin yang disampaikan Wali Kota Bogor juga didukung oleh Dosen Desain Produksi Industri FSRD ITB dan Ketua Bandung Creative City Forum (BCCF) Dr. Dwinita Larasati yang akrab disapa Tita itu bahwa isu kreativitas dan kolaborasi antara akademisi, bisnis, komunitas, dan pemerintah merupakan solusi masalah kota.

“Kreativitas harus diwujudkan dan benar-benar bisa dirasakan oleh semua orang. Kreativitas dan gimmick adalah salah satu cara membuat program diingat oleh masyarakat,” jelasnya. Ia memberi contoh yang dilakukan BCCF berupa workshop Deisgn Thinking setiap tahunnya.

“Design thinking perlu dimasukkan pada cara pikir birokrasi. Sebanyak apapun kita tusukkan jarum (kreativitas dalam solusi permasalahan kota), jika dirusak oleh entitas yang lebih besar (pemerintah) jadinya percuma juga. Jadi, BCCF mengkomunikasikan program ini langsung ke stakeholders melalui cara-cara yang menyenangkan,” jelas Tita

Ketua Umum Hutan Itu Indonesia, Andre Christian menegaskan, anak muda adalah garda bangsa yang paling besar semangatnya. “Karena itu, kami merumuskan beberapa hal yang bisa dilakukan, terutama oleh teman-teman di kota besar. Setiap kali kami membuat program, kami selalu melihat apa yang paling menarik perhatian pemuda.” Salah satu caranya adalah “Musika Forestra” yaitu webseries yang mengajak para musisi seperti Alm. Glenn Fredly dan Astrid menjelajah hutan dan menginspirasi para musisi lainnya untuk menulis lagu tentang hutan.

Ade sepakat bahwa anak muda, temasuk mahasiswa, memiliki sifat “militan” dan kreativitas yang tinggi, sehingga cocok untuk menemukan cara inovatif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. “Mahasiswa juga berperan dalam membentuk ekosistem masyarakat yang kondusif. Ekosistem yang baik adalah pondasi masyarakat untuk memiliki literasi akan isu lingkungan, dan akhirnya berbuah inovasi-inovasi yang datang dari masyarakat,” katanya.

Kepala Biro Komunikasi IPB University, Yatri Indah Kusumastuti menjelaskan, bahwa tantangan terbesar dalam memastikan stakeholder utama, yaitu mahasiswa, paham akan nilai lingkungan di kampus adalah pembentukan karakter mahasiswa yang harus dilakukan berulang-ulang, karena mahasiswa-mahasiswa baru datang setiap tahun. Taktik IPB dalam kampanye green campus adalah membuat kegiatan yang menyenangkan, inspiratif, dan sesuai dengan minat mahasiswa.

“Banyak program kampanye green campus yang dapat dilihat oleh masyarakat umum. Contohnya, perekrutan Kader Lingkungan, Innovation Run, dan baliho/poster kreatif berisi pesan ramah lingkungan yang dipasang di tempattempat umum,” jelasnya. Penggunaan media sosial yang digabung dengan aksi nyata dilakukan oleh komunitas #SeaSoldier Jakarta.

Didie Diah relawan #SeaSoldier Jakarta dan Co-founder Petualang Inspiratif memberi contoh foto di akun instagramnya yang memuat foto dirinya dengan latar belakang tumpukan sampah di Teluk Jakarta yang kemudian dilihat oleh Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta. Akibatnya, Dinas LH mengirim pasukan untuk membersihkan lokasi tersebut. “Foto dan postingan kita yang sederhana dapat membuat dampak,” pungkasnya.

Di akhir diskusi, CEO CPROCOM, Dr. Emilia Bassar, menyatakan bahwa anak muda sebagai agent of change punya tantangan dan peluang yang luas untuk melakukan berbagai kampanye kreatif dan unik guna meningkatkan kesadaran, membangun koalisi, dan melibatkan orang lain untuk melakukan aksi nyata dalam melestarikan bumi.

“Anak mudalah yang akan menjadi pemimpin dan pembuat keputusan akan seperti apa bumi ini kelak,” tegasnya. Bumi tidak bisa menunggu kita. Kalau kita tidak melakukan sesuatu sekarang, maka kerusakan dan kepunahan akan terus terjadi. Jadi, mulai sekarang kita bersama-sama berkolaborasi menjaga dan merawat Bumi Pertiwi. (**)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.