Cara Bank Kota Bogor Atasi Skema Bisnis Perbankan Selama Pandemi Covid-19

Beri Relaksasi Pinjaman Debitur dan Jangka Waktu Pembayaran

0 48

Heibogor.com – Adanya penerapan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di tengah situasi pandemi Covid-19 saat ini, tentunya sangat berdampak pada kondisi ekonomi di berbagai sektor usaha tak terkecuali dunia Perbankan. Lalu, bisakah sektor Perbankan tumbuh di tengah kondisi sekarang ini, baik secara nasional maupun di daerah?

Menurut pandangan Kepala Satuan Kerja Audit Internal (SKAI) Perumda BPR Bank Kota Bogor, Bambang Sulistyo, secara core bisnis dari Perbankan khususnya BPR, adanya pandemi ini pastinya berpengaruh terhadap likuiditas BPR. Contoh dari sisi pelayanan, yang tadinya bisa meng-handle banyak nasabah/kreditur tapi karena ada pandemi ini, pelayanan jadi kurang berjalan baik karena nasabah tidak bisa berinteraksi secara langsung. Itu dari sisi pelayanan.

Kemudian dari sisi likuiditas keuangan seperti kredit bermasalah itu juga akan menjadi banyak karena banyak sektor-sektor ekonomi riil yang terimbas dari dampak pandemi ini yang menjadikan usahanya tidak berjalan secara optimal. Dampaknya apa? Misalnya pembayaran angsuran ke bank menjadi terhambat walaupun secara peraturan BI dan OJK sudah mengeluarkan relaksasi kredit.

Jadi, si nasabah atau debitur diberikan jangka waktu pembayaran. Apakah dia minta keringanan suku bunga atau minta penambahan jangka waktu atau mengajukan ulang lagi pinjaman, dijadwalkan kembali  kreditnya. Itu berbagai polanya. Dan masing-masing Perbankan juga sudah menerapkan aturan hal itu.

Secara likuiditas, sambung Bambang, sedikitnya akan mengganggu dunia Perbankan. Namun OJK sudah memberikan stimulus untuk para Perbankan melalui Bank Jangkar yang memberikan kemudahan kepada BPR untuk bisa dibantu likuiditasnya agar tetap bisa terkontrol dan terkendali. Karena tidak hanya nasabah, Perbankan pun punya pegawai atau karyawan yang juga harus dihidupi. Kalau ini mengganggu likuiditas, cashflow-nya terganggu otomatis laba perusahaan juga terganggu.

“Kalau laba perusahaan terganggu dampaknya apa? Kalau kami di perusahaan daerah mungkin PAD (pendapatan asli daerah) kita kepada pemerintah daerah akan sulit pencapaiannya. Tapi alhamdulillah selama ini, untuk Bank Kota Bogor kita sudah memberikan PAD sesuai target dan tiap tahunnya selalu meningkat,” kata Bambang.

Kepala Satuan Kerja Audit Internal (SKAI) Perumda BPR Bank Kota Bogor, Bambang Sulistyo.

Bambang mengungkapkan, di masa pandemi ini, stabilitas Bank Kota Bogor tidak begitu banyak terganggu karena Bank Kota Bogor masih bisa berjalan dengan koridor likuiditas yang sehat.

“Kebetulan 85 persen nasabah kami adalah karyawan dan pegawai negeri sipil atau ASN. Jadi, masih pakai pola potong gaji. Tapi kalau di BPR lain seperti BPR swasta atau BPR di daerah lain yang sebagian besar nasabahnya itu adalah UMKM pastinya akan terdampak. Kalau sektor UMKM itu ditutup atau mungkin ada yang bangkrut nanti imbasnya ke Perbankan yang memberikan pinjaman,” ungkapnya.

Oleh karena itu, untuk mengimbangi kondisi sekarang dan juga ke depannya, sistem pelayanan teknologi informasi sangat diperlukan. “Kalau dunia virtual itu sangat penting otomatis kita harus mengedepankan teknologi. Misalnya bagaimana membuka rekening tidak harus datang ke bank.

Bagaimana transaksi pelayanan pinjaman tidak perlu datang ke bank tapi bisa ngisi formulir lewat virtual. Online dan offline itu berdampingan nantinya. Kalau kita masih terjebak dengan sistem offline manual seperti ini, kedepannya kita akan tergerus. Adanya dampak dari pandemi Covid-19 ini, mau tidak mau inovasi teknologi di dalam pelayanan terhadap nasabah harus dilakukan untuk mempermudah layanan,” pungkasnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.