Sudah 33 Tahun Jajakan Koran Maman Tetap Semangat dan Optimis Meski Hasil Tipis

0 66

Heibogor.com – Berjualan koran di era milenial bukanlah perkara mudah. Di zaman sekarang orang tidak perlu lagi repot-repot untuk tahu apa yang terjadi kemarin. Dalam sepersekian detik, semua informasi yang dibutuhkan dapat dengan mudah diperoleh secara gratis di internet. Jumlah pembaca koran pun menurun secara signifikan akibat dampak dari perkembangan teknologi digital.

Meski ada yang bertahan, para pengecer koran masih tetap optimis bahwa koran tidak akan punah. Mereka masih memiliki keyakinan bahwa bagaimanapun beragam teknologi canggih itu berkembang, koran sebagai sumber informasi masih memiliki pembaca setia yang menunggu saat pagi.

Maman (55) adalah salah satunya. Warga Kebon Pedes, Tanah Sareal, Kota Bogor ini, sudah bekerja sebagai sebagai pengecer koran selama 33 tahun tepatnya di tahun 1987. Sebelum menjadi pengecer koran, ia ikut pamannya berjualan daging sapi di Pasar Bogor.

Ia menceritakan, dulu pembeli yang mencari tukang koran sekarang kebalik tukang koran yang mencari pembeli. Sebelum ada virus Corona, lanjut Maman, pelanggannya sudah hilang 50 persen. Sekarang setelah ada Corona lebih turun lagi hingga 80 persen. Bahkan, banyak kawan seprofesinya berhenti bekerja sebagai loper koran.

“Dulu waktu masih normal tiap hari saya bawa 350 eksemplar. Jam 5 sore biasanya sudah habis terjual semua. Tapi sekarang saya cuma bawa 150 eksemplar. Sampai jam 11 malam pun itu belum habis. Kebanyakan pembeli itu orang tua. Kalo anak muda jarang paling yang beli cuma beberapa. Mereka lebih memilih baca berita lewat gawainya (smartphone),” ungkap Wawan disela-sela waktu istirahatnya, Selasa (30/6/20).

Ia melanjutkan, koran yang ia bawa masih mengambil di agen dengan sistem setoran. Dulu sehari ia bisa setor Rp 500 sampai 700 ribu. Sekarang hanya Rp150 ribu. Itu belum termasuk koran yang tidak laku. Koran yang ia bawa didominasi oleh koran harian dan selebihnya adalah tabloid mingguan.

Maman (55) masih tetap optimis bahwa koran tidak akan punah. Andi/heibogor.com

“Dulu sehari ia bisa megang uang kurang lebih Rp200 ribu sekarang paling bagus cuma Rp50 ribu. Jadi, kalau ditotal dalam sebulan saya bisa mengantongi cuma satu jutaan. Dulu bisa sampai sekitar Rp 4 juta,” katanya. Maman mengungkapkan, masih bertahan menjadi pengecer koran karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia dapat. Di samping itu, ketiga anaknya sudah pada besar dan mandiri.

“Saya berjualan setiap hari mulai jam setengah 6 sampai jam 11 malam kadang sampai jam setengah 2 pagi. Jam setengah 6 sampai jam 9 muter ke Taman Cimanggu, Taman Kencana, perumahan Budi Agung, ke sekolah. Jam 9 sampai jam 12 siang di Jalan Sudirman. Siangnya ke pasar Bogor dan Merdeka. Malamnya di Stasiun Bogor,” ucap Maman yang menjajakan korann dengan sepeda yang setia menemaninya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.