Pensiun Tak Lunturkan Kecintaan Matheus Moah Kini Banting Setir Ukir Cinderamata Berbau Tinju

0 64

Heibogor.com – Meski sudah tidak lagi melatih atlet tinju kelas amatir hingga profesional, kecintaan Matheus Moah kepada dunia tinju tidaklah luntur sekalipun ia kini telah memasuki usia 65 tahun. Masih terlihat bugar dan sehat, pria berbadan tegap dan kekar berdarah Flores ini mengisi waktu luangnya dengan membuat aneka macam souvenir yang berhubungan dengan tinju seperti sarung tinju dan ring tinju.

Ditemui di kediamannya di Gang Pacilong RT05 RW04 No.14, Kebon Pedes, Tanah Sareal, Kota Bogor, Selasa (30/6/20), Matheus menunjukkan sejumlah karyanya yang ia beri nama souvenir sarung tinju Bakowatut. Ada miniatur gantungan sarung tinju, kalung sarung tinju, kepala ikat pinggang sarung tinju, korek api berbungkus sarung tinju, piala dan asbak sarung tinju hingga miniatur ring tinju.

Matheus menunjukkan sejumlah karyanya yang ia beri nama souvenir sarung tinju Bakowatut. Andi/heibogor.com

Sebagai mantan pelatih yang telah banyak menghasilkan petinju handal, Matheus menyebutkan bahwa usaha yang ia jalani ini adalah hasil keisengannya agar tetap produktif. Pria yang memiliki nama lengkap Evaritus

Matheus mengatakan, kerajinan tangan yang ia bikin itu dibuat dari fiber. Namun ada juga yang memakai bahan resin, dempul, dan batu apung. Untuk penjualan, biasanya di mana pun ada event Pekan Olahraga Nasional (PON) dan Pekan Olahraga Daerah (PORDA), ia selalu datang untuk menjajakan souvenir sarung tinju buatannya dengan harapan karyanya ini laku terjual, bisa semakin dikenal dan diminati oleh semua kalangan dan tentunya mendapat bantuan modal dari pemerintah daerah.

“Waktu PON 2000 di Surabaya, saya bawa 600 buah gantungan dan kalung sarung tinju. Itu dalam 2 hari sudah habis. Kemudian di PON 2004 di Palembang, saya bawa 800 buah dan dalam 4 hari juga sudah habis. Begitu juga saat PON 2008 di Kaltim dan PON 2012 di Riau. Kebanyakan orang yang suka mengatakan ini unik dan langka,” kata mantan petinju ini yang pernah nyambi kerja sebagai sopir angkot 07 jurusan Warung Jambu – Merdeka.

Pria yang menjalani debutnya sebagai asisten pelatih di Kabupaten Bogor pada tahun 1996 hingga 2002 ini menceritakan, awalnya ia membuat miniatur sarung tinju ini dari kayu tahun 1999 bulan 9 dan di tanggal 9 untuk PORDA Jawa Barat.

Ada miniatur gantungan sarung tinju, kalung sarung tinju, kepala ikat pinggang sarung tinju, korek api berbungkus sarung tinju, piala dan asbak sarung tinju hingga miniatur ring tinju. Andi heibogor.com

Ternyata karyanya ini, disukai banyak orang terutama dari kawan-kawan dekatnya. Sambil melatih, ia menjual souvenirnya itu ke berbagai event olahraga di Indonesia. Bahkan, hasil karyanya tersebut juga sudah dipasarkan ke Jakarta, Bali, Riau, Surabaya hingga ke Australia.

“Pertama bikin lalu saya jual itu saya hargai Rp 5 ribu satu buah miniatur gantungan sarung tinju. Itu langsung habis dibeli. Kalo sekarang miniatur gantungan harganya Rp10-50 ribu tergantung ukuran. Kemudian kalung dan gesper sarung tinju dari bahan fiber, dempul dan batu apung seharga Rp 150-200 ribu. Asbak Rp 250 ribu, korek dari bahan resin Rp50 ribu, piala ukuran kecil sampai besar kisaran Rp 300 ribu sd Rp1,4 juta, dan miniatur ring tinju ukuran 25 cm seharga Rp 1,5 juta,” beber ayah empat anak ini.

Ia mengungkapkan, sejak adanya pandemi Covid-19 usahanya mengalami penurunan. Niatnya untuk memasarkan produk buatannya di PON 2020 di Papua pun harus tertunda. Masih kata Matheus, selain punya keahlian tinju dan membuat kerajinan tangan, ia juga bisa mengobati beberapa penyakit seperti tulang yang bergeser, keram perut, angin duduk, pembengkakan jantung, stroke, malaria dan lain-lain.

Dia mengaku mulai bisa mengobati tahun 2000 setelah anak ketiganya meninggal kemudian diberi pesan untuk membantu orang lain semampunya dan menerima seikhlasnya. Bahkan, orang yang pernah diobatinya bermacam-macam mulai dari petinju yang tulangnya bergeser saat latihan maupun sehabis bertarung.

“Kemudian anggota TNI yang terkena malaria saat pulang tugas di Papua, orang yang kecelakaan, macam-macam yang minta tolong. Yang penting saya tangan pertama yang megang. Kalau sudah dipegang dokter saya lepas tangan,” ungkap Matheus yang pernah membuat sasana tinju sendiri bersama keluarga besarnya di tahun 1986 dengan nama Sasana Komodo.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.