Jejak Peradaban Masjid Tan Hok Liong, Dahulu Pusat Pesantren Mualaf Tionghoa Kini Jadi Bangunan Usang

0 75

Heibogor.com – Jejak pecinan sebuah masjid besar berarsitektur khas Tionghoa berdiri megah di antara deretan perumahan di Kampung Bulak Rata, Pondok Rajeg, Cibinong, Kabupaten Bogor.

Masjid yang memiliki nama Jami Tan Hok Liong ini ternyata merupakan kantor pusat organisasi Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) sejak 2005. Masjid itu sudah berdiri sejak tahun 2004 bersamaan dengan Pondok Pesantren (Ponpes) At-Taibin yang didirikan langsung oleh sang pemilik, Tan Hok Liong.

Tan Hok Liong yang juga Ketua Umum PITI menceritakan kepada heibogor.com disela-sela kesibukannya. Dia memaparkan dahulu, masjid ini sering digunakan sebagai tempat dakwah PITI sekaligus rumah ibadah ikonik bagi para 251 santriawan/wati Ponpes At-Taibin dan warga sekitar.

 

 

 

 

 

 

Namun, kini kondisinya berbalik, masjid itu sudah tidak lagi digunakan untuk beribadah. Bahkan beberapa ornamen Tionghoa yang menghiasi, sebagian sudah rusak dan rapuh. Sesekali pengurus masjid tetap membersihkan agar rumah ibadah itu tetap terawat.

“Sejak tahun 2013 sudah tidak di gunakan, tadinya merupakan rumah ibadah bagi santriawan/wati sejak 2004,” kata Tan Hok Liong kepada heibogor.com, Selasa (5/4/20).

Lebih jelas, pria yang akrab disapa Anton Medan itu menceritakan, pada tahun 2013 dirinya terpaksa membubarkan Ponpes yang diisi oleh etnis Tionghoa yang baru memeluk Islam dan mantan napi itu karena adanya beberapa kasus yang tidak diinginkan.

“Tadinya ini pesantren khusus untuk mualaf etnis Tionghoa dan mantan napi. Ada 251 santriawan/wati di sini. Tapi, para ustaz yang mengurus Ponpes ini kinerjanya sangat tidak serius, mereka malah korupsi dan merugikan nama ponpes ini,” jelasnya.

Karena hal-hal yang tidak diinginkan itu terjadi, membuatnya terpaksa harus membubarkan segala bentuk kegiatan ponpes seluas 1 hektare itu. Sehingga, bersamaan dengan masjid ikonik itu, bangunan Ponpes pun kini kondisinya sudah tidak terawat membuat Masjid terpaksa ditutup beralih menjadi bangunan kosong.

Padahal, katanya, dahulu masjid ini sering digunakan ibadah setiap harinya bagi santri dan warga sekitar. Selain itu, tak jarang beberapa tamu dari luar daerah seperti Tasikmalaya, Cirebon bahkan Taiwan selalu berkunjung ke Masjid setinggi 15 meter itu.

“Sungguh disayangkan memang, apalagi ini merupakan satu-satunya pesantren etnis Tionghoa di Indonesia. Hanya ada di sini dari seluruh Indonesia itu,” tandasnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.