Warga Desa Cileuksa Kesulitan Cari Mata Pencaharian Usai Tergerus Banjir dan Longsor

0 67

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Merajut kembali semangat setelah diberikan bencana putusnya jembatan sungai Ciberang sebagai akses utama dari Desa Cileuksa menuju kampung Ciparempeng, Cijairin dan Ciear membuat ekonomi para warga sekitar ketiga kampung tersebut terganggu.

Mereka bahu membahu dan harus berpikir dua kali  mencari mata pencaharian untuk melanjutkan kehidupan. Pasalnya, para warga yang mayoritas sebagai petani dan pedagang harus merasakan kehilangan sawah mereka akibat tertimbun longsor saat bencana banjir dan tanah longsor, Rabu (1/1/20) lalu.

Kepala RW 06 Kampung Ciparempeng, Jamar (59) mengaku kebingugnan terkait masa depan mata pencarian mereka lantaran persawahan mereka yang luas tak ada satupun lahan yang tersisa akibat tertimbun longsor. “Sawah habis semua tak tersisa,” ujarnya kepada heibogor.com belum lama ini

Tak hanya itu aktivitas jual-beli kebutuhan pun juga bermasalah lantaran mereka biasa melakukan jual-beli di Pasar Cigudeg yang jelas sangat jauh dengan kampung mereka terlebih akses utamanya kini terputus. Akibatnya mereka pun tak dapat melakukan jual-beli.

Kini, mereka hanya bergantung pada jasa angkut kayu untuk dibuatkan jembatan atau dibuat pos tempat beristirahat. “Sehari biasanya yang kuat 3x bolak-balik jadi uang 45 ribu. 2x cuma 30 ribu,” katanya. Itupun harus berjalan kaki melewati jalan yang terjal sejauh 1km.

Jamar mengatakan bahwa jembatan utama yang putus merupakan akses penghubung ke Kampung Ciparempeng, Cijairin dan Ciear. Dirinya hanya berharap agar pemerintah dapat memperhatikan hal tersebut. “Jembatan akses utama 3 kampung. Sekarang memerlukan jembatan, masyarakat tak punya dana,” keluhnya.

Serupa, Kepala RT 03, Mustakim mengatakan, bahwa dirinya merasa bingung akan mata pencarian mereka. “Mata pencarian susah ke depannya, kebun habis, sawah gak ada, akses ketutup tak bisa lewat kendaaran, kita bingung jadinya,” imbuhnya.

Ia mengaku paket bantuan dari relawan terus mengalir datang dan mampu mencukupi kebutuhan warga sehari-hari. Namun yang jelas ia menyadari tak akan selamanya demikian. “Genset sudah ada tapi sekarang sudah mulai habis bahan bakarnya, lilin juga mau habis,” tambahnya.

Berdasarkan data yang di dapat oleh heibogor.com terdapat 673 jiwa dari ketiga kampung yang masih menunggu kepastian hingga kapan akses utama jembatan penghubung akan segera terealisasi.

Tinggalkan Balasan