Tiga Kampung Cileuksa Minim Bantuan Akibat Jembatan Sungai Ciberang Putus

0 53

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Terdapat tiga kampung di Desa Cileuksa yang masih dapat dibilang minim bantuan akibat akses jalan utama berupa jembatan di sungai Ciberang terputus sejak Rabu (1/1/20) lalu. Ketiga kampung tersebut adalah Kampung Ciparempeng, Cijairin dan Ciear.

Pantauan heibogor.com di Kampung Ciparempeng pada Rabu (22/1/20) mengenai akses jalan hanya dapat dilalui oleh kendaraan roda dua, itupun khusus trail dan tidak dapat melintasi Sungai Ciberang akibat jembatannya terputus. Dapat dilanjutkan dengan berjalan kaki melintasi sungai. Setelah melintasi sungai akses jalan yang berupa batuan hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, itupun hanya ada motor-motor dari warga sekitar.

Kurang lebih dibutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke Kampung Ciparempeng dengan berjalan kaki. Ketua RT 01, Diding mengatakan bahwa logistik di Kampungnya sudah mulai sulit untuk masuk melalui akses darat. “Logistik di sini kesulitan. Mulai dari sini (jembatan, red) sudah mulai berjalan. Sudah survey ke perbatasan Desa Cisarua tidak bisa juga dilewati,” ujarnya.

Meski demikian dirinya berterima kasih kepada para relawan dan siapapun yang sudah membantu agar bantuan datang ke kampungnya. Dirinya mengaku meski bantuan sulit diakses namun dianggap sudah mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ia hanya berharap bantuan lainnya dari pihak pusat maupun Pemkab agar mereka dapat mencukupi kehidupan ke depannya kembali.

“Kami ingin punya pegangan kabar dana bantuan, sampai tanggal 30 nanti yang meresahkan adalah bagaimana kedepannya nanti aksesnya bila tidak di urus,” harapnya.

Serupa, kepala RW 06, Jamar mengatakan bahwa jembatan tersebut merupakan akses utama ke tiga kampung tersebut dirinya hanya berharap agar pemerintah dapat memperhatikan hal tersebut. “Jembatan akses utama 3 kampung. Sekarang memerlukan jembatan, masyarakat tak punya dana,” keluhnya.

Selain itu, Jamar mengaku kebingunan terkait masa depan mereka lantaran persawahan mereka yang luas tak ada satupun lahan yang tersisa akibat tertimbun longsor. “Sawah habis semua tak tersisa,” tambahnya. Tak hanya itu aktivitas berdagang dan membeli kebutuhan pun juga bermasalah lantaran mereka biasa melakukan berdagang dan belanja di Pasar Cigudeg yang jelas sangat jauh dengan kampung mereka terlebih akses utamanya terputus.

Beruntungnya, bantuan relawan medis sudah ada di Kampung Ciparempeng meskipun itu merupakan bantuan medis yang pertama sampai. Salah seorang dokter, Johannes, mengatakan keluhan utama para warga adalah pusing, gatal-gatal, demam, batuk dan pilek. “Baik anak-anak maupun dewasa, akibat was-was bencana ini stamina mereka menurun,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan