Mengenang Tragedi Kebakaran Pasar Anyar 1996

0 920

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Pasar Anyar atau yang memiliki nama resmi Pasar ‘Kebon Kembang’ adalah pasar kedua terbesar yang ada di Kota Bogor dan sudah berusia lebih dari 130 tahun. Usianya hanya kalah oleh Pasar Bogor yang dibangun terlebih dahulu oleh pemerintahan kolonial Belanda dan merupakan satu dari tujuh pasar utama yang tersisa di Kota Bogor.

Dalam usianya yang lebih dari seabad itu, Pasar Anyar telah mengalami berbagai peristiwa kebakaran. Namun satu tragedi kebakaran yang sangat membekas adalah peristiwa kebakaran di tahun 1996 yang menewaskan puluhan orang dan melukai puluhan lainnya. Yang menjadi kontroversi dalam peristiwa itu adalah jumlah korban yang awalnya diberitakan lebih dari 70 kemudian diralat oleh pemerintah saat itu menjadi 10 orang tewas. ‘Diskon’ jumlah korban saat itu disinyalir adalah untuk menutupi kesalahan pemerintah saat itu.

Karena kontroversi jumlah korban itulah lalu muncul berbagai dugaan. Misalnya, pihak Pemerintah Daerah Bogor mencoba “menurunkan” jumlah korban agar hal-hal yang menyangkut persyaratan keselamatan pekerja tak begitu disorot. Brigjen Polisi (purn.) Roekmini dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia saat itu misalnya, menyatakan, “Dari kasus itu yang pasti adalah keselamatan pekerja tidak terpenuhi.”

Lepas dari semua kontroversi yang terjadi, jika memang yang tewas adalah 76 orang, maka dapat dikatakan bahwa peristiwa kebakaran Pasar Anyar itu merupakan peristiwa kebakaran dengan jumlah korban terbanyak dalam sejarah Indonesia.

Hari yang Nahas Itu

Tidak ada yang menduga bahwa percikan api kecil yang muncul di Ramayana Dept. Store di pagi yang nahas pada 26 Maret 1996 itu membesar dan melalap sebagian besar bangunan dan apinya baru benar-benar padam tiga hari kemudian dengan asap yang masih mengepul di hari keempat.

Namun bagaimana kebakaran itu bisa memakan jumah korban yang demikian besar? Ternyata setelah diselidiki, Ramayana Dept. Store tidak memiliki perangkat keamanan dan keselamatan yang memadai, mulai dari jumlah alat pemadam kebakaran hingga emergency exit yang tidak memenuhi standar keselamatan. Hal inilah yang kemudian diduga memicu ‘disembunyikannya’ jumlah korban dalam peristiwa itu, karena bagaimana mungkin Pemkot meluluskan izin pendirian bangunan di Pasar Anyar itu jika tidak memenuhi standar keselamatan yang baik?

Peristiwa kebakaran tahun 1996 itu tampaknya tetap akan menjadi misteri hingga sekarang. Terlebih di era itu, media sosial belum lagi lahir sehingga berita dapat dipelintir tanpa ada kontrol sosial dari masyarakat yang menyaksikan peristiwa itu dan menyaksikan langsung lebih dari 60 kantung mayat yang mondar-mandir dibawa oleh ambulans seperti yang awalnya dilaporkan oleh wartawan lokal saat itu.

Mungkin yang masih bisa diingat oleh sebagian warga Bogor adalah pernyataan Wali Kota saat itu Eddi Gunardi yang mengataan bahwa isi 60-an kantung plastik yang dibawa ambulans mondar-mandir dari Pasar Anyar ke RS PMI Bogor itu adalah serpihan manequin (boneka untuk memajang pakaian jadi), bekas kayu terbakar, atau bangkai kucing. Pernyataan ini mengagetkan karena tim yang meneliti barang-barang terbakar itu belum mengumumkan hasilnya. Semoga tragedi ini tidak akan terulang lagi di Kota Bogor.

 

(Dudi Irawan)

Tinggalkan Balasan