Pasirkuda dan Kisah Para Priyayi Jawa

1
Warning: A non-numeric value encountered in /www/wwwroot/heibogor.com/wp-content/themes/publisher/includes/func-review-rating.php on line 212

Warning: A non-numeric value encountered in /www/wwwroot/heibogor.com/wp-content/themes/publisher/includes/func-review-rating.php on line 213
2.147

Heibogor.com – Pasirkuda adalah nama sebuah kelurahan yang masuk wilayah Kecamatan Bogor Barat. Tidak semua orang Bogor mengenal daerah yang berbatasan dengan Kelurahan Pasirjaya dan Pasirmulya itu, dan ia hanya kerap dilintasi orang-orang yang bepergian dari daerah kabupaten seperti Ciomas menuju Bogor Kota. Selebihnya, Pasirkuda hanyalah tempat bermukim bagi warga yang sudah turun temurun tinggal di daerah itu, dan bahkan kini ia semakin padat oleh pendatang dan semakin sesak dengan dibukanya lahan-lahan baru yang tadinya kebun dan sawah yang membentang luas dengan latar belakang Gunung Salak yang indah.

Tidak banyak yang tahu, kalau Pasirkuda menyimpan sejarah yang ‘nostalgic’ dan menyimpan kisah-kisah menak dan priyayi Bogor yang mendiaminya selama ratusan tahun. Pasirkuda sudah berdiri sedemikian lamanya hingga banyak juga yang meyakini bahwa Bogor ‘early settlers’ atau pemukim pertama Bogor membuka lahannya di Pasirkuda pasca keruntuhan ibu kota Kerajaan Pakuan Padjadjaran di abad ke-16.

Menurut cerita para orang tua, asal usul nama Pasirkuda di daerah itu memiliki kaitan erat dengan masa lalunya. ‘Pasir’ dalam Bahasa Sunda berarti ‘bukit’ dan jika Anda hafal daerah itu, Pasirkuda memiliki kontur yang berbukit. Untuk mencapainya, Anda harus melalui sebuah tanjakan yang panjang bernama Sarijan di daerah Panaragan. Setelah Anda melintasi Pasirkuda, ia akan menurun terus menuju daerah Pancasan dan Empang. Kata Kuda disematkan setelah pasir untuk menandai bahwa dahulu Pasirkuda menjadi pangkalan kuda yang diternak dan dijadikan alat transportasi bagi warga sekitar Bogor Barat untuk bepergian ke wilayah lain di sekitar Bogor.

Di zaman Belanda, saat pemerintahan kolonial memisahkan pemukiman di Bogor berdasarkan etnisitas, dengan Empang diperuntukkan bagi etnis Arab, Suryakencana bagi etnis Tionghoa, dan Sempur bagi elit Belanda, Pasirkuda dengan sendirinya menjadi wilayah para ‘priyayi’ yang jika ditelusuri bukanlah priyayi keturunan Pakuan Padjadjaran yang telah musnah, melainkan priyayi Jawa keturunan Raja-Raja Mataram.

Tidak banyak yang tahu, para priyayi itu adalah keturunan Pangeran Dipenegoro yang melarikan diri beserta pasukannya pasca kekalahan perang Jawa setelah ditangkapnya Pangeran Diponegoro pada 23 Maret 1830. Bermukimnya keturunan Diponegoro itu sesungguhnya erat kaitannya dengan upaya anak tertua Diponegoro yang bernama Djonet dalam membebaskan ayahnya dari tahanan Belanda di sebuah penjara kapal yang bersandar di pelabuhan Priok, Batavia.

Upaya penyelamatan itu gagal dan Pangeran Djonet berhasil melarikan diri setelah didapati oleh tantara VOC sudah berada di atas dek kapal. Ia melompat ke air dan tidak pernah tertangkap oleh Belanda. Pangeran Djonet yang beristrikan seorang bangsawan Cina diketahui kemudian melarikan diri beserta sisa-sisa pasukan Diponegoro ke daerah yang kita kenal dengan nama Pasirkuda, Bogor. Beranak pinak dan wafat di Pasirkuda dan makamnya kini menjadi situs sejarah yang berlokasi di Cikaret, tidak jauh dari Pasirkuda.

Sisa-sisa pasukan Diponegoro juga bermukim di Pasirkuda dan beranak-pinak. Hingga kini, ada sebuah jalan yang bernama Jalan Jabaru di Pasirkuda. Jabaru merupakan singkatan dari ‘Jawa Baru’ yang merujuk pada pemukiman orang-orang Jawa di daerah itu. Dan jika Anda berjalan agak jauh lagi ke Selatan, ada sebuah kampung di dekat Pasirkuda yang dinamai ‘Kampung Jawa.’

Pasirkuda kini dikenal sebagai daerah macet dengan pertigaannya yang dahulu sunyi, kini dipadati kendaraan yang berlalu lalang seiring dengan pesatnya pembangunan di daerah sekitarnya. Menak-menak Jawa keturunan Pangeran Djonet kini sudah pada generasinya yang keempat dan kelima, serta sudah berasimilasi dengan Budaya Sunda. Beberapa keturunan Pangeran Djonet yang beristrikan bangsawan Cina kini masih bisa ditemui, kebanyakan berpostur tinggi dan bermata sipit dan berkulit kuning langsat. Kebanyakan dari mereka sudah menjadi kelas menengah negara ini dan berpencar ke penjuru Indonesia dan luar negeri.

Dan Pasirkuda pun tetap menyimpan sejuta kisah masa lalu yang asyik untuk disimak.

 

(Dudi Irawan)

1 Komen
  1. Ciomas Citizen berkata

    Ajib banget sih artikelnya, saya orang ciomas baru tau

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.